Legenda Langgolek mengisahkan tentang seorang ibu yang memiliki tiga orang anak, anak pertama seorang perempuan bernama Baidah, anak kedua juga seorang perempuan bernama Zainab, dan anak ketiga atau yang bungsu seorang laki-laki diberi nama Khaidir, sang ibu sangat menyayangi putra bungsunya kasih sayang yang diberikan kepada khaidir berbeda dengan kedua kakaknya. Sang ibu terlalu memanjakan si bungsu, Ketika beranjak dewasa khaidir berpamitan kepada sang ibu untuk pergi merantau dan sejak berangkat keperantauan, anak lak-laki semata wayang ini tidak pernah mengirim kabar kepada ibu nya bertahun-tahun ia bagaikan lupa kepada ibu dan kampung halamannya.[1]
Bait ini adalah lirik pertama yang dibacakan untuk memberitahukan kepada sang anak bahwa sudah saatnya tidur didalam ayunan yang bergoyang kekanan dan kekiri kedepan dan kebelakang sehingga perlahan membuat tubuh sianak begoyang lembut (Bergolek-golek) seperti sedang berada dalam perahu di lautan dengan riak kecil.
Biduak kito biduak salodang, Balayie tongkang hay ka pulau kayu.
Biduak kito biduak salodang, Balayie tongkang hay ka pulau kayu. Sampan kita sampan salodang (pelepah pinang yang membungkus putik buah pinang), Berlayar tongkang (kapal tongkang) hay ke pulau kayu (pulau kayu adalah sebuah nama desa yang ada dikecamatan susoh berada dipinggir pantai)
Pulau kayu carocok Panjang, Rumah pabean badindiang batu
Pulau kayu carocok Panjang (Carocok=dermaga laut yang dulunya terbuat dari kayu tempat sandar kapal dagang), Rumah kepabeanan berdinding batu (rumah pabean adalah rumah pertama disusoh yang terbuat dari semen)
Hilang ameh dapek ditimbang, Hilang sibujang koma dicai
Hilang emas dapat ditakar, hilang anak laki-laki kemana dicari, Ketika kita kehilangan emas, maka dengan mudah kita menakarnya, yaiutu kita kehilangan emas sebesar 4 mayam (jelas berapa banyak emas yang hilang), akan tetapi bagaimana dengan kehilangan seorang anak laki-laki, Bagaimana seorang ibu bisa menakar kehilangan darah dagingnya? Begitulah cinta seorang ibu.[1]
Langgolek adalah Sebuah nyanyian atau dendang pengantar tidur bagi anak-anak di Kecamatan Susoh Kabupaten Aceh Barat Daya. Disana ketika seorang ibu hendak menidurkan anaknya biasanya si anak dibuai dengan lagu-lagu ringan agar sianak perlahan dapat tertidur dengan nyaman. Langgolek mengisahkan tentang bagaimana seorang ibu begitu mencintai anaknya, bahwa anak tidak bisa ditukar dengan apapun. Selalu ini yang dinyanyikan setiap kali menidurkan si buah hati, bahwa si ibu begitu amat mencintai putranya.[3]
Di balik irama yang lembut, tersimpan nilai moral tentang cinta, kesabaran, doa, dan pengharapan seorang ibu terhadap masa depan anaknya. Tradisi ini juga mencerminkan kebijaksanaan hidup masyarakat pesisir barat selatan Aceh, yang menjunjung tinggi nilai kekeluargaan dan spiritualitas.[2]