Lampu karbida atau disebut juga lampu gas asetilena, adalah jenis lampu sederhana yang menghasilkan dan membakar gas asetilena (C₂H₂), yang terbentuk melalui reaksi antara kalsium karbida (CaC₂) dan air (H₂O).[1] Gas asetilena yang dihasilkan digunakan sebagai sumber cahaya dengan nyala terang dan stabil.[2]
Lampu ini pernah digunakan secara luas untuk penerangan bangunan, sebagai suar mercusuar, serta sebagai lampu depan pada mobil dan sepeda. Versi portabel dari lampu gas asetilena yang umumnya dikenakan di helm atau dibawa dengan tangan, banyak digunakan oleh para penambang pada awal abad ke-20. Hingga kini, lampu karbida masih dipakai oleh para penjelajah gua, pemburu, dan penggemar eksplorasi bawah tanah.[3][4][5]
Sejarah
Sekitar tahun 1892, Thomas Willson menemukan cara yang efisien dan ekonomis untuk memproduksi kalsium karbida dalam tungku busur listrik menggunakan campuran kapur dan kokas. Tungku tersebut menyediakan suhu tinggi yang dibutuhkan untuk menjalankan reaksi kimia yang terjadi.[6]
Produksi kalsium karbida menjadi bagian penting dari revolusi industri di bidang kimia. Perkembangannya di Amerika Serikat didorong oleh ketersediaan tenaga listrik berbiaya rendah dari Pembangkit Listrik Tenaga Air di Air Terjun Niagara pada akhir abad ke-19.[7] Pada tahun 1895, Thomas Willson menjual paten temuannya kepada perusahaan Union Carbide. Penerangan rumah menggunakan gas asetilena mulai diperkenalkan sekitar tahun 1894, sedangkan lampu asetilena untuk sepeda mulai digunakan dua tahun kemudian, pada sekitar tahun 1896.[8]
Lampu karbida pertama untuk sepeda yang dikembangkan di Amerika Serikat dipatenkan di New York pada 28 Agustus 1900 oleh Frederick Baldwin.[9] Desain awal lainnya tercatat dalam paten yang diajukan di Duluth, Minnesota, pada 21 Oktober 1902.[10] Pada awal abad ke-20, Gustaf Dalén menemukan lampu Dalén, yang menggabungkan dua hasil penemuannya sebelumnya yaitu agamassan atau bahan penyerap gas asetilena, dan katup surya yang memungkinkan lampu menyala secara otomatis saat kondisi sekitar menjadi gelap. Berbagai inovasi dan penyempurnaan terhadap lampu karbida terus berlangsung selama beberapa dekade setelahnya.[11][12]
Masalah
Setelah lampu karbida dengan nyala api terbuka terbukti menjadi salah satu penyebab bencana tambang batu bara Moweaqua pada tahun 1932 di Illinois, yaitu ledakan gas metana yang menewaskan 54 penambang. Akibatnya penggunaan lampu karbida di tambang batu bara di Amerika Serikat menurun signifikan. Kejadian tersebut menyoroti risiko keselamatan yang melekat pada penggunaan lampu dengan nyala terbuka di lingkungan yang mengandung gas mudah meledak, sehingga banyak perusahaan pertambangan beralih ke sumber cahaya yang lebih aman, seperti lampu listrik portabel. Meskipun demikian, lampu karbida tetap digunakan di beberapa negara lain, termasuk di Uni Soviet, di mana lampu ini masih dianggap praktis untuk kondisi tertentu, terutama di tambang-tambang yang tidak terjangkau jaringan listrik.[13][14]