Lapin Amuntai atau Lapit Rotan Amuntai adalah kerajinan tangan khas masyarakat Kalimantan Selatan yang dibuat dengan cara mengolah jalinan batang-batang rotan menjadi sebuah tikar. Lampit rotan dibuat secara homemade di rumah-rumah penduduk di Kota Amuntai dan perajinnya adalah penduduk dari kota itu sendiri. Amuntai adalah kota di Provinsi Kalimantan Selatan yang memang dikenal sebagai sentra industri kerajinan rotan seperti lampit.[1][2]
Perkembangan Lapit Rotan Amuntai
Kerajinan lampit telah menjadi tradisi masyarakat Kota Amuntai yang diwariskan secara turun temurun pada setiap generasinya. Di ibukota Kabupaten Hulu Sungai Utara ini banyak perajin lampit yang sifatnya berkelompok dan individu yang banyak melibatkan para ibu-ibu dan perempuan serta anak sekolah. Tidak mudah menghasilkan lampit yang benar-benar bagus dan berkualitas yang dikerjakan oleh tangan ahli dari para perajin. Banyak tahap yang harus dilalui dalam proses pembuatan karya seni ini, yang bermula dari batangan rotan penuh duri yang kemudian diolah sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah lampit benuansa etnik tradisional Borneo.[1]
Untuk sebuah lampit biasanya menghabiskan waktu 1-2 bulan dalam pengerjaannya. Namun para perajin berhasil membuat mesin untuk membuat tikar lampit dengan cara yang mudah dan tidak memakan waktu yang banyak, lampit ini disebut lampit saburina. Lampit Saburina merupakan Lampit Rotan yang dibuat dengan bahan kulit rotan. Kulit rotan tersebut dianyam dengan benang nilon agar bisa saling menyatu. Pada bagian belakang lampit ini dilapisi kain katun dan bagian sisinya dijahit dengan pita polypropylene.[1]
Lampit merupakan sumber penghasilan utama dan sumber penghasilan sampingan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi penduduk setempat. Sebagai. Industri rumah tangga, lampit juga banyak membuka lapangan pekerjaan dengan penyerapan banyak tenaga kerja. Selain itu lampit merupakan sumber devisa negara yaitu sebagai komoditi ekport.[1]
Lampit memiliki desain yang etnik bernuansa tradisional minimalis dan terkesan hangat, sehingga banyak diminati konsumer asing dari Negara Asia seperti Jepang, China, Hongkong Serta Korea.Kegiatan eksport lampit ini didukung oleh pemerintah. Meskipun ada pembebasan untuk mengekport bahan baku rotan mentah atau setengah jadi, tetapi karena adanya ketentuan mengenai pajak ekport sebesar 30% maka minat pengusaha untuk mengekportnya tidak kompetitif lagi. Hal ini disebabkan nilai tambah barang jadi yang diterima lebih besar dibandingkan mengekport dalam bentuk rotan mentah atau setengah jadi.[1]
Pembuatan Lapit Rotan Amuntai
Pertama, kulit ari dari rotan harus dibelah, kemudian dicuci dengan air dan dibelah dengan ukuran yang sama. Setelah bilah-bilah rotan terkumpul, perajin tidak akan langsung menganyam. Mereka harus menyortir bilah-bilah rotan itu berdasarkan warnanya dulu. Setelah proses penyortiran selesai, barulah perajin mulai menganyam hingga terbentuk sebuah tikar. Proses akhir penganyaman adalah mengikat pinggiran lampit agar kuat dan tidak lepas. Lampit yang telah selesai kemudian dijemur agar bersih dan mengilap. Lampit rotan kebanyakan berbentuk persis panjang dan tanpa motif dan pewarna sehingga memberikan hasil yang natural. Di Kalimantan, Lampit Rotan ini digunakan sebagai alas untuk duduk ketika tamu datang ke rumah.[3]