Laguna de Bay (bahasa Spanyol untuk "Laguna/Danau Bay"; Filipino: Lawa ng Baycode: fil is deprecated , [bɐˈʔi]), juga dikenal sebagai Danau Laguna dan dieja alternatif "Laguna de Bae",[1] adalah danau terbesar di Filipina. Laguna de Bay tetap menjadi salah satu sumber daya air tawar terpenting di Filipina, yang menopang kehidupan jutaan penduduk melalui perikanan, pertanian, dan penggunaan domestik. Danau ini terletak di sebelah tenggara Metro Manila, di antara provinsiLaguna di selatan dan Rizal di utara. Danau air tawar ini memiliki luas permukaan 911–949 km2, dengan kedalaman rata-rata sekitar 2,8 meter dan ketinggian sekitar satu meter di atas permukaan laut. Bentuknya menyerupai cakar burung gagak, dengan dua semenanjung yang menjorok dari pantai utara dan mengisi Kaldera Laguna vulkanik yang luas. Di tengah danau terdapat pulau besar bernama Talim.
Danau ini merupakan salah satu sumber utama ikan air tawar di negara ini. Airnya mengalir ke Teluk Manila melalui Sungai Pasig. Masalah lingkungan seperti penurunan kualitas air akibat tekanan populasi dan industrialisasi, spesies invasif, serta penangkapan ikan berlebihan menjadi perhatian serius bagi danau ini, yang pada gilirannya merugikan signifikansi ekonominya bagi negara. Seiring dengan pertumbuhan populasi di wilayah Teluk, diperkirakan ketergantungan pada danau sebagai sumber air tawar akan semakin meningkat. Dengan demikian, kualitas air secara langsung memengaruhi kehidupan masyarakat.[2]
Penemuan prasasti
Prasasti Lempeng Tembaga Laguna ditemukan pada tahun 1989 di Laguna de Bay, Manila, Filipina. Penanggalan yang tertera menunjukkan tahun 822 Saka, atau 21 April 900. Prasasti ini menggunakan bahasa Melayu Kuno meskipun banyak kata-kata dari bahasa Sanskerta, bahasa Jawa Kuno, dan bahasa Tagalog Kuno serta ditulis dengan aksara Kawi.
Gulungan tembaga ini agak berbeda pembuatannya apabila dibandingkan dengan gulungan tembaga dari Jawa semasanya. Huruf-huruf pada keping Laguna ditatah pada kepingnya langsung, sedangkan di Jawa ditulis pada keping yang dipanaskan dan menjadi lunak.
Isi prasasti ini mengenai pernyataan pembebasan hutang emas terhadap seseorang bernama Namwaran. Di dalamnya juga menyebutkan sejumlah nama tempat di sekitar Filipina (Tondo, Pila, dan Pulilan) dan tempat yang belum bisa dipastikan (Dewata dan Medang). Prasasti ini menjadi petunjuk mengenai adanya pengaruh Kerajaan Sriwijaya di Pulau Luzon pada awal abad X. Sekarang dokumen ini tersimpan di Museum Nasional Filipina.
Terjemahan
Bahasa dalam dokumen
Swasti Shaka warsatita 822 Waisaka masa di(ng) jyotisa. Caturthi Krisnapaksa somawara sana tatkala Dayang Angkatan lawan dengannya sanak barngaran si Bukah anak da dang Hwan Namwaran dibari waradana wi shuddhapattra ulih sang pamegat senapati di Tundun barja(di) dang Hwan Nayaka tuhan Pailah Jayadewa.
Di krama dang Hwan Namwaran dengan dang kayastha shuddha nu diparlappas hutang da walenda Kati 1 Suwarna 8 di hadapan dang Huwan Nayaka tuhan Puliran Kasumuran.
dang Hwan Nayaka tuhan Pailah barjadi ganashakti. Dang Hwan Nayaka tuhan Binwangan barjadi bishruta tathapi sadana sanak kapawaris ulih sang pamegat dewata [ba]rjadi sang pamegat Medang dari bhaktinda diparhulun sang pamegat.
Ya makanya sadanya anak cucu dang Hwan Namwaran shuddha ya kapawaris dihutang da dang Hwan Namwaran di sang pamegat 'Dewata.
Ini grang syat syapanta ha pashkat ding ari kamudyan ada grang urang barujara welung lappas hutang da dang Hwa...
Bahasa Indonesia
Swasti. Tahun Saka 822, bulan Waisakha, menurut penanggalan. Hari keempat setelah bulan mati, Senin. Di saat ini, Dayang Angkatan, dan saudaranya yang bernama si Bukah, anak-anak dari Sang Tuan Namwaran, diberikan sebuah dokumen pengampunan penuh dari Sang Pemegang Pimpinan di Tundun (Tondo sekarang), diwakili oleh Sang Tuan Nayaka dari Pailah (Pila sekarang), Jayadewa.
Atas perintahnya, secara tertulis, Sang Tuan Namwaran telah dimaafkan sepenuhnya dan dibebaskan dari hutang-hutangnya sebanyak satu Katî dan delapan Suwarna di hadapan Sang Tuan Puliran Kasumuran di bawah petunjuk dari Sang Tuan Nayaka di Pailah.
Oleh karena kesetiaannya dalam berbakti, Sang Tuan (Yang Terhormat) yang termasyhur dari Binwangan mengakui semua kerabat Namwaran yang masih hidup, yang telah diklaim oleh Sang Penguasa Dewata, yang diwakili oleh Sang Penguasa Medang.
Ya, oleh sebab itu seluruh anak cucu Sang Tuan Namwaran sudah dimaafkan dari segala hutang Sang Tuan Namwaran kepada Sang penguasa Dewata.
(Pernyataan) ini, dengan demikian, menjelaskan kepada siapa pun setelahnya, bahwa jika pada masa depan ada orang yang mengatakan belum bebas hutangnya Sang Tuan ...