1970-an–1990-an
LG Electronics mencatatkan pendapatan sebesar US$100 juta dari ekspor pertamanya. Perusahaan ini kemudian membuka pabrik pertamanya di luar Korea Selatan, tepatnya di Amerika Serikat pada tahun 1982. Pada tahun 1994, GoldStar resmi memakai merek LG Electronics dan logo baru. Pada tahun 1995, LG Electronics mengakuisisi produsen TV asal Amerika Serikat, yakni Zenith, dan meleburnya empat tahun kemudian. Pada tahun yang sama, LG Electronics memproduksi ponsel digital CDMA pertama di dunia, yakni ponsel digital LGC-330W, yang dipasok ke Ameritech dan GTE di Amerika Serikat. Perusahaan ini juga menerima sertifikasi UL di Amerika Serikat.[10] Pada tahun 1998, LG mengembangkan TV plasma 60 inci pertama di dunia dan mendirikan sebuah joint venture pada tahun 1999 dengan Philips – LG.Philips LCD – yang kini bernama LG Display. Pada tahun 1999, LG Semiconductor bergabung dengan Hynix.[11]
2000-an–sekarang
Untuk membentuk sebuah perusahaan induk, LG Electronics dipecah pada tahun 2002, dengan LG Electronics "baru" dipisah ke badan hukum tersendiri, sementara LG Electronics "lama" diubah namanya menjadi LG EI. Perusahaan tersebut kemudian digabung dengan dan ke dalam LG CI pada tahun 2003 (suksesor resmi dari bekas LG Chem), sehingga perusahaan yang berdiri dengan nama GoldStar saat ini tidak lagi eksis.
LG Electronics memainkan peran besar dalam industri elektronik konsumen global, karena merupakan produsen TV LCD terbesar kedua di dunia hingga tahun 2013.[12] Hingga tahun 2005, LG merupakan 100 merek teratas global dan mencatatkan pertumbuhan merek sebesar 14% pada tahun 2006.[13] Hingga tahun 2009, afiliasi LG Electronics yang memproduksi layar, yakni LG Display, merupakan produsen panel LCD terbesar di dunia.[14] Pada tahun 2010, LG Electronics masuk ke industri ponsel cerdas. LG Electronics pun terus mengembangkan berbagai macam produk elektronik, seperti meluncurkan televisi resolusi ultratinggi 84 inci untuk pasar ritel pertama di dunia.[15]
Pada tanggal 5 Desember 2012, regulator antitrust Uni Eropa mendenda LG Electronics dan lima perusahaan besar lain (Samsung, Thomson (yang mulai tahun 2010 dikenal sebagai Technicolor), Matsushita (saat ini Panasonic Corp), Philips, dan Toshiba) karena menetapkan harga untuk TV CRT dalam dua kartel yang berlangsung selama hampir dua dekade.[16]
Pada tanggal 11 Juni 2015, LG Electronics terseret dalam kontroversi hak asasi manusia, setelah The Guardian menerbitkan sebuah artikel yang ditulis oleh Rosa Moreno, mantan pegawai pabrik perakitan televisi LG.[17]
Pada akhir tahun 2016, LG Electronics menggabungkan cabangnya di Jerman (berlokasi di Ratingen) dengan kantor pusatnya untuk Eropa (berlokasi di London) di Eschborn, suburban Frankfurt am Main.[18]
Pada bulan Maret 2017, LG Electronics dituntut atas penanganannya terhadap kegagalan perangkat keras pada ponsel cerdas terbarunya, seperti LG G4.[19]
Koo Bon-joon, yang merupakan CEO dan wakil chairman LG Electronics,[20] digantikan oleh keponakannya pada bulan Juli 2018, karena menerapkan "aturan suksesi anak pertama saja".[21] Dengan aturan yang sama, CEO LG Corporation, Koo Kwang-mo, menggantikan ayahnya, Koo Bon-moo yang meninggal akibat tumor otak pada tanggal 20 Mei 2018.[22]
LG mengumumkan pada bulan November 2018 bahwa Hwang Jeong-hwan, yang menjabat sebagai presiden LG Mobile Communications sejak bulan Oktober 2017, akan digantikan oleh Brian Kwon, yang saat itu memimpin bisnis hiburan rumah LG, mulai tanggal 1 Desember 2018.[23] Pada tahun 2018 juga, LG memutuskan untuk menghentikan produksi ponsel cerdasnya di Korea Selatan dan memindahkannya ke Vietnam, agar tetap kompetitif.[24] LG menyatakan bahwa Vietnam dapat menyediakan "banyak tenaga kerja" dan 750 pegawai di pabrik ponsel cerdasnya di Korea Selatan akan dipindah ke pabrik perabot rumah.