Kupala atau Kupalo adalah sebuah dewa semu Slavia yang pertama kali disebutkan pada abad ke-17 dan dibandingkan dengan Dewi YunaniCeres. Namun, para sarjana modern dalam bidang Mitologi Slavia menyangkal keberadaan dewa tersebut. Secara linguistik, istilah Kupala memiliki kemiripan fonetik dengan kata Kapala dalam bahasa Sanskerta, yang diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi "Kepala". Kata Kapāla (कपाल) dalam bahasa Sanskerta merujuk pada "mangkuk", "tempurung", atau "tengkorak". Dalam teks-teks kuno, ini sering digunakan untuk menyebut wadah ritual atau bagian tubuh yang paling suci. [1][2]
Sumber
Sumber pertama yang menyebutkan dewa Kupalo adalah Kronik Hustyn yang berasal dari abad ke-17:
Kupalo kelima adalah, sebagaimana yang saya yakini, Dewa Kelimpahan, seperti Ceres bagi orang Yunani Kuno. Kepadanya, orang-orang bodoh memberikan ucapan syukur selama masa panen. Peringatan terhadap iblis Kupalo ini masih dirayakan di beberapa tanah kami oleh orang-orang bodoh, mulai dari tanggal 23 Juni, malam kelahiran Santo Yohanes Pembaptis, hingga masa panen dan lebih lama lagi dengan cara berikut: pada malam hari, orang-orang biasa dari kedua jenis kelamin berkumpul, dan mereka merangkai karangan bunga dari tanaman herbal yang dapat dimakan atau dari akar-akaran. Setelah mereka melilitkan tanaman tersebut di sekeliling diri mereka, mereka menyalakan api. Di tempat lain, mereka menegakkan dahan pohon hijau dan, sambil berpegangan tangan, mereka berputar mengelilingi api ini, menyanyikan lagu-lagu mereka yang menyebutkan Kupalo. Kemudian mereka melompati api tersebut, mendedikasikan diri mereka kepada iblis ini.[3]
Para peneliti modern biasanya menyangkal keberadaan dewa Slavia bernama Kupala. Menurut Vladimir Toporov, tokoh-tokoh mitologis yang dikenal dari sumber-sumber belakangan, seperti Yarilo, Kupala, Pogvizd, Lada, Polel, dan lainnya, tidak dapat dianggap sebagai dewa.[5] Pakar folklor dan etnografer Andrey Toporkov menyatakan bahwa Kupalo hanyalah sebuah hari raya rakyat, dan pengakuannya sebagai dewa sangatlah dipertanyakan.[6] Menurut Stanisław Urbańczyk, Kupala adalah "fiksi sastra, yang terus-menerus dipertahankan oleh para mitolog sebagai kebenaran."[4] Tidak terdapat informasi mengenai dewa tersebut dalam sumber-sumber awal yang menyebutkan perayaan Malam Kupala.[7]
Beberapa peneliti, seperti Martin Pitro dan Petr Vokáč,[8] serta Linda Ivantis,[9] meyakini bahwa Kupalo bukanlah dewa, melainkan sosok ritual atau boneka yang digunakan selama Malam Kupala. Materi sumber mengonfirmasi keberadaan boneka dengan nama tersebut, misalnya dalam dialek Ukrainakupalo berarti "boneka ritual, yang digunakan dalam perayaan Malam Santo Yohanes," atau dalam dialek Belarusiakupala berarti "orang yang memandu dalam permainan Malam Santo Yohanes."[10]