Sekitar tahun 1971, kuda pacuras unggul (Thoroughbred) Inggris diimpor ke Indonesia dari negara-negara Eropa, Amerika Serikat, dan utamannya dari Australia, yang mengimpor setidaknya 200 ekor kuda.[4]:474[5]:474Kuda jantan dari ras ini kemudian dikawin silang dengan kuda betina lokal Indonesia lewat sebuah proyek yang bertujuan menghasilkan kuda pacu yang lebih cepat dan lebih kuat di iklim tropis Indonesia. Buku silsilah untuk hasil persilangan tersebut mulai dibuat pada tahun 1995 dengan nama ras Kuda Pacu Indonesia. [4]:474[2]:474 Ras ini didefinisikan sebagai persilangan generasi keempat (F4), dan dengan demikian secara nominal berasal dari rasio 15:1 dari dua jenis induk penyusunnya, yaitu ras unggul dan lokal.[3]:17[6]:17:36 Kuda Pacu Indonesia diakui lewat Surat Keputusan Menteri Pertanian Indonesia pada tahun 2013.[7]
Kuda Pacu Indonesia merupakan hasil persilangan antara kuda ras unggul dan kuda lokal, hasil persilangan generasi ketiga dan keempat (F3/F4).[6][8]:36[8]
Tinggi rata-rata (dihitung dari bagian pundak) sekitar 155 cm untuk kuda betina dan 165 cm untuk kuda jantan atau kuda kebiri. Berat badan rata-ratanya masing-masing sekitar 400 kg dan 450 kg.[2]
Kegunaan
Kuda-kuda tersebut dibiakkan khusus untuk ajang pacuan kuda.[4]:474:474
Cahaya Nagari adalah kuda KPI pertama dan satu-satunya yang pernah memenangkan Indonesia Derby pada tahun 2010.[8]:201