Peta kuadran Sinus Sabaeus berdasarkan data dari Mars Orbiter Laser Altimeter (MOLA). Elevasi tertinggi ditunjukkan dengan warna merah, sedangkan elevasi terendah ditunjukkan dengan warna biru.
Kuadran Sinus Sabaeus adalah salah satu dari 30 peta kuadran Mars yang digunakan oleh Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) melalui Program Riset Astrogeologi. Kuadran ini dikenal pula sebagai MC-20 (Mars Chart-20). Kuadran Sinus Sabaeus mencakup wilayah dari 315° hingga 360° bujur barat dan 0° hingga 30° lintang selatan. Wilayah ini mencakup Kawah Schiaparelli, sebuah kawah tumbukan besar yang mudah dikenali dan terletak dekat dengan khatulistiwa Mars. Kuadran ini juga mencakup sebagian dari daerah-daerah kuno penuh kawah di Noachis Terra dan Terra Sabaea.[1] Nama Sinus Sabaeus berasal dari sebuah fitur albedo klasik yang dinamai menurut suatu wilayah penghasil rempah aromatik di selatan Semenanjung Arab, dekat Teluk Aden.[2][3]
Lapisan
Kawah Wislicenus dan kawah cekungan Schiaparelli mengandung lapisan batuan, yang juga disebut strata. Fenomena pelapisan ini merupakan ciri umum pada banyak wilayah di Mars, di mana batuan tersusun dalam urutan stratigrafi yang jelas.[4] Pada beberapa lokasi, lapisan-lapisan tersebut memperlihatkan perbedaan warna, batuan berwarna terang di Mars umumnya berkaitan dengan keberadaan mineral terhidrasi, terutama kelompok sulfat. Penjelajah MarsOpportunity telah melakukan karakterisasi rinci terhadap lapisan berwarna terang tersebut menggunakan berbagai instrumen ilmiah.
Sebagian lapisan tampak tersusun atas partikel halus, yang ditunjukkan oleh kecenderungan lapisan tersebut untuk terdegradasi menjadi debu. Sebaliknya, sejumlah lapisan lain terfragmentasi menjadi bongkahan berukuran besar, menandakan tingkat kekerasan yang lebih tinggi. Batuan basal, yakni batuan vulkanik diduga menjadi komponen utama lapisan yang menghasilkan bongkahan keras tersebut. Basalt sendiri telah diidentifikasi secara luas di berbagai lokasi di Mars. Selain itu, instrumen pada wahana pengorbit telah mendeteksi keberadaan lempung (juga dikenal sebagai filosilikat) di beberapa lapisan. Penemuan mineral terhidrasi di Mars memiliki signifikansi ilmiah karena mineral-mineral tersebut umumnya terbentuk melalui proses yang melibatkan keberadaan air cair. Dengan demikian, lokasi yang mengandung lempung dan/atau mineral terhidrasi lainnya dianggap sebagai target prioritas dalam pencarian bukti kehidupan purba.[5][6]
Citra Kuadran Sinus Sabaeus (MC-20). Sebagian besar wilayah ini terdiri atas dataran tinggi yang dipenuhi kawah. Bagian utaranya mencakup daerah Kawah Schiaparelli.
Batuan dapat membentuk lapisan melalui berbagai mekanisme. Aktivitas vulkanik, proses eolian (angin), dan proses yang melibatkan air semuanya berpotensi menghasilkan pelapisan.[7] Lapisan-lapisan tersebut kemudian dapat mengalami pengerasan melalui aksi air tanah. Air tanah di Mars diduga mengalir hingga ratusan kilometer, melarutkan berbagai mineral dari batuan yang dilaluinya. Ketika air tanah muncul ke permukaan pada daerah rendah yang kaya sedimen, atmosfer Mars yang sangat tipis menyebabkan air segera menguap, meninggalkan mineral sebagai endapan atau sebagai bahan pengikat. Akibatnya, lapisan-lapisan debu yang sebelumnya longgar menjadi terikat lebih kuat dan lebih tahan terhadap erosi. Di Bumi, air yang kaya mineral sering kali menguap dan membentuk endapan garam serta mineral lainnya. Dalam beberapa kasus, air mengalir melalui akuifer lalu menguap di permukaan, suatu proses yang diperkirakan juga terjadi di Mars. Salah satu contoh terestrial yang relevan adalah Great Artesian Basin di Australia. Ketahanan banyak batuan sedimen di Bumi, termasuk batu pasir, sebagian besar disebabkan oleh terbentuknya mineral pengikat ketika air meresap melalui pori-pori batuan.[8]
Kawah Schiaparelli merupakan kawah tumbukan besar di Mars, yang terletak dekat ekuator planet tersebut. Kawah ini memiliki diameter sekitar 461 kilometer dan terpusat pada 3° lintang selatan serta 344° bujur timur. Beberapa wilayah di dalam Schiaparelli menampilkan banyak lapisan yang kemungkinan terbentuk melalui proses eolian (didorong angin), aktivitas vulkanik, atau deposisi sedimen di lingkungan yang mengandung air.[9]
Kawah lainnya
Ketika sebuah komet atau asteroid bertumbukan dengan permukaan Mars pada kecepatan tinggi, terbentuklah kawah tumbukan primer. Dampak ini juga dapat melemparkan sejumlah besar batuan, yang kemudian jatuh kembali ke permukaan dan membentuk kawah sekunder.[10] Kawah sekunder ini seringkali muncul dalam gugusan. Karena semua kawah dalam gugusan tersebut mengalami pola erosi yang serupa, mereka cenderung menunjukkan tingkat pelapukan yang sama, menunjukkan bahwa kawah-kawah tersebut kemungkinan terbentuk pada periode yang sama. Jika kawah sekunder berasal dari satu tumbukan besar di dekatnya, mereka akan terbentuk hampir bersamaan.
Citra Kawah Denning menunjukkan contoh kelompok kawah sekunder.Secara umum, kawah tumbukan memiliki pinggiran yang menonjol dan endapan ejekta di sekitarnya, sementara kawah vulkanik biasanya tidak memiliki kedua fitur tersebut. Ketika ukuran kawah tumbukan meningkat, biasanya lebih dari 10 km yang sering terbentuk puncak pusat di tengah kawah.[11] Puncak ini muncul akibat rebound lantai kawah segera setelah tumbukan.[12]
Dengan mengukur diameter kawah, ilmuwan dapat memperkirakan kedalaman asli menggunakan rasio empiris. Hubungan ini membantu peneliti menentukan bahwa banyak kawah Mars terisi sebagian dengan material, yang sebagian besar diduga berupa es yang diendapkan pada periode iklim terdahulu. Kawah juga mengekspos lapisan geologi bawah permukaan yang sebelumnya tertimbun. Selama tumbukan, material dari kedalaman diejeksi ke permukaan, memungkinkan ilmuwan mempelajari struktur bawah kerak Mars.[13]
Batu putih di kawah Pollack
Batuan putih di dasar kawah kemungkinan merupakan sisa endapan yang dulunya jauh lebih besar. Tanda panah menunjukkan bahwa endapan tersebut kemungkinan meluas jauh di masa lalu. Gambar diambil oleh THEMIS .
Di Kawah Pollack terdapat batuan berwarna terang. Permukaan Mars jauh lebih tua dibanding Bumi, dengan banyak wilayah berusia lebih dari satu miliar tahun dan mengalami siklus deposisi, erosi, serta penimbunan. Pada 1970-an, wahana Mariner 9 memotret fitur terang di kawah ini yang dinamai White Rock. Awalnya diduga endapan garam, tetapi data terbaru menunjukkan material tersebut kemungkinan abu vulkanik atau debu halus, dan tampak terang karena kontras dengan medan sekitarnya.[4] Para ilmuwan meyakini White Rock merupakan sisa endapan sedimen yang lebih luas yang sebagian besar telah terkikis, meninggalkan fragmen yang tersebar dari formasi aslinya.[14]
Saluran di Kuadran Sinus Sabaeus
Terdapat bukti kuat bahwa air pernah mengalir melalui lembah-lembah sungai di Mars.[15][16]Citra kanal bercabang dan berliku menyerupai sistem sungai di Bumi telah diamati sejak awal 1970-an, dimulai dari data wahana Mariner 9.[17][18][19][20]
Sebuah studi yang dipublikasikan pada Juni 2017 memperkirakan bahwa volume air yang diperlukan untuk membentuk jaringan lembah di Mars melebihi volume yang diperkirakan dari lautan kuno Mars. Hal ini menunjukkan bahwa air kemungkinan mengalami daur ulang berulang (dari lautan ke hujan dan kembali) dalam siklus hidrologi yang melibatkan seluruh planet.[21][22]
↑Baker, V. R., et al. 2015. "Fluvial geomorphology on Earth-like planetary surfaces: a review." Geomorphology, 245, 149–182.
↑Carr, M. H. 1996. Water on Mars. Oxford University Press.
↑Baker, V. R. 1982. The Channels of Mars. University of Texas Press, Austin.
↑Baker, V. R., Strom, R. G., Gulick, V. C., Kargel, J. S., Komatsu, G., Kale, V. S. 1991. "Ancient oceans, ice sheets, and the hydrological cycle on Mars." Nature, 352, 589–594.
↑Carr, M. H. 1979. "Formation of Martian flood features by release of water from confined aquifers." Journal of Geophysical Research, 84, 2995–3007.
↑Komar, P. D. 1979. "Comparisons of the hydraulics of water flows in Martian outflow channels with flows of similar scale on Earth." Icarus, 37, 156–181.
↑Luo, W., et al. 2017. "New Martian valley network volume estimate consistent with ancient ocean and warm and wet climate." Nature Communications, 8, Article number: 15766. doi:10.1038/ncomms15766