Ibn Khaldoum milik Irak adalah kapal pertama di kelasnya, lunasnya diletakan pada tahun 1977, diluncurkan pada tahun 1978, dan ditugaskan pada tanggal 20 Maret 1980.[1] KRI Ki Hajar Dewantara diletakan lunasnya pada tanggal 11 Mei 1979, diluncurkan pada tanggal 11 Oktober 1980, dan ditugaskan pada tanggal 31 Oktober 1981.[1] Kedua kapal tersebut memiliki mesin dan persenjataan yang berbeda, kapal Irak memiliki lebih banyak meriam otomatis, sedangkan kapal Indonesia memiliki dek helikopter di buritannya.[2]Ki Hajar Dewantara dibangun dan dipasang mesinnya di Yugoslavia sedangkan persenjataan dan elektroniknya dipasang di Belanda dan Indonesia.[1]
Sejarah operasional
Ibn Khaldoum
Ibn Khaldoum kemudian diganti namanya menjadi Ibn Marjid.[2] Dia digunakan sebagai kapal latih dan transportasi utama selama Perang Irak-Iran dan masih beroperasi pada tahun 1988, meskipun ada beberapa klaim Iran bahwa dia sudah tenggelam.[1] Pada bulan Februari 1991 dia mengalami kerusakan parah, meskipun masih mengapung, akibat Operasi Badai Gurun.[2]Ibn Khaldoum selamat dari Perang Teluk, tetapi kemampuannya berkurang dia kekurangan suku cadang untuk mesin Roll-Royce-nya.[4] Dia tenggelam dalam serangan udara Amerika Serikat selama invasi AS ke Irak pada tahun 2003.[5]
Ki Hajar Dewantara
Pada tahun 1992, KRI Ki Hajar Dewantara, bersama KRI Yos Sudarso dan KRI Teluk Banten mencegat kapal Portugal Lusitania Expresso di Timor Timur. Kolonel Widodo, Wakil Asisten Armada Timur Angkatan Laut Indonesia, mengatakan kepada Radio Republik Indonesia dari atas kapal perang Indonesia KRI Yos Sudarso bahwa kapal feri tersebut memasuki perairan Indonesia pada pukul 5:28 pagi tanggal 11 Maret 1992. Pada pukul 6:07, Lusitania Expresso telah menempuh jarak dua hingga tiga mil laut (3,7 hingga 5,6km; 2,3 hingga 3,5mi) ke wilayah Indonesia dan Kapten Luis Dos Santos (kapten Lusitania Expresso) diperintahkan untuk segera pergi. Kolonel Widodo mengatakan kapten kapal Portugal itu menuruti perintah tersebut dan memutar kapalnya lalu kembali ke laut.[6]