Bandar Udara Internasional Cebu-Mactan, Kota Lapu-Lapu, Cebu, Filipina
Orang dalam pesawat
173
Penumpang
162
Awak
11
Tewas
0
Cedera
0
Selamat
173
Korean Air Penerbangan 631 adalah penerbangan penumpang internasional berjadwal Korean Air dari Bandar Udara Internasional Incheon di dekat Seoul, Korea Selatan, menuju Bandar Udara Internasional Cebu-Mactan di Metro Cebu, Filipina. Pada tanggal 23 Oktober 2022, pesawat Airbus A330-322 yang mengoperasikan penerbangan tersebut meluncur keluar landasan pacu saat mendarat di Cebu setelah sistem hidraulis pesawat mengalami kegagalan. Seluruh penumpang dan awak selamat dari kecelakaan tersebut tanpa mengalami cedera.[1] Sebagai akibat dari kecelakaan tersebut, pesawat mengalami kerusakan yang tidak dapat diperbaiki, sehingga menjadikan kecelakaan tersebut sebagai kecelakaan dan insiden ke-14 pesawat Airbus A330 yang membuat pesawat tidak dapat dipergunakan lagi.[2][3][4]
Pesawat
Pesawat yang mengalami kecelakaan adalah pesawat jet komersial Airbus A330-322 berusia 24 tahun yang ditenagai oleh sepasang mesin Pratt & Whitney PW4168. Pesawat tersebut memiliki nomor seri manufaktur 219 dan terbang perdana pada tanggal 12 Mei 1998 sebelum diserahterimakan kepada Korean Air pada tanggal 26 Juni 1998 dengan kode registrasi HL7525.[5][6]
Kecelakaan
Pesawat berangkat dari Seoul pada pukul 19:20 KST (10:20 UTC) dan dijadwalkan mendarat di Cebu pada 22:00 PHT (14:00 UTC). Sekitar pukul 22:12 PHT (14:12 UTC), pesawat sedang dalam pendekatan akhir menuju landasan pacu 22 Mactan–Cebu ketika melakukan putaran untuk mengulangi pendaratan. Upaya pendaratan kedua pada pukul 22:26 tidak berhasil. Selanjutnya, pesawat mengitari timur laut Cebu selama kurang lebih 30 menit sebelum melakukan pendekatan ketiga. Pada upaya ketiga, pesawat berhasil mendarat pada pukul 23.08, tetapi tidak dapat berhenti di landasan.
Pesawat terus melewati ujung landasan pacu dan menabrak barisan lampu sistem pendaratan instrumen sebelum berhenti 300 meter (980ft; 330yd) di luar ambang landasan pacu.[7] Menurut keterangan para saksi mata, "barisan lampu sistem pendaratan instrumen tampak berada di atas sayap pesawat begitu pesawat berhenti di daerah paya-paya."[butuh rujukan]
Laporan cuaca menunjukkan bahwa kecepatan angin adalah 9 knot (17km/h) dari barat daya pada 220 derajat.[7] Saat pesawat mendarat di landasan pacu 22, terdapat angin yang berhembus dengan kecepatan 9 knot (17km/h) dari arah depan. Jarak pandang pada saat terjadinya kecelakaan adalah 8.000 meter (8,0km), dengan badai petir dan hujan di wilayah tersebut; tidak ada laporan petir. Awan kumulonimbus tersebar di 1.800 meter (5.900ft) dan mendung di 9.000 meter (30.000ft) di atas Cebu.[7] Sejumlah pesawat lain memutuskan untuk mengalihkan penerbangannya karena cuaca buruk sebelum pesawat Korean Air berupaya mendarat di Cebu, tetapi tidak ada informasi mengenai rentang waktu antara penerbangan lain yang mengalihkan penerbangannya dan penerbangan Korean Air.[butuh rujukan]
Korean Air menerbitkan permintaan maaf di akun Instagram mereka, menyatakan "Penyelidikan menyeluruh akan dilakukan bersama dengan otoritas penerbangan lokal dan otoritas Korea untuk menentukan penyebab peristiwa ini."[11][12][13]
Komentator mencatat bahwa "ada banyak pertanyaan yang belum terjawab" termasuk mengapa awak pesawat dari penerbangan ini memilih untuk mencoba mendarat ketika tidak ada pilot lain yang menganggapnya aman.[14] Laporan berita mencatat kesamaan dengan kecelakaan sebelumnya di Korean Air yang disebabkan oleh kesalahan pilot dan sejarah budaya keselamatan maskapai.[5][15][16][17]
Setelah insiden lain di mana mesin Airbus A330 Korean Air lainnya tidak berfungsi setelah lepas landas, Korean Air mengumumkan akan mengandangkan seluruh armada Airbus A330 miliknya, sambil menunggu audit keselamatan.[18][19][20]
Sejak 31 Oktober 2022, Korean Air mengubah nomor penerbangan rute Seoul–Cebu dari KE631 menjadi KE615. Penerbangan kembali ke Seoul, KE632, juga diubah menjadi KE616.[21]
Dua minggu setelah kecelakaan, livery dan logo HL7525 telah dihapus, meskipun pesawat belum dipindahkan dari lokasi kecelakaan.[22]
Pada 24 Oktober 2022, otoritas Filipina serta Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, dan Transportasi Korea merilis laporan awal yang menyimpulkan bahwa kerusakan hidrolik telah menyebabkan kegagalan rem pada pesawat.[butuh rujukan]
Pada 25 Oktober 2022, dilaporkan bahwa kapten pesawat memberikan kesaksian bahwa mereka mengalami pendaratan keras pada pendekatan kedua karena pergeseran angin yang memaksa mereka turun. Selama go-around berikutnya, lampu peringatan tentang rem menyala. Oleh karena itu, kru menyatakan keadaan darurat. Pada upaya pendaratan ketiga, lampu peringatan terkait tekanan rem menyala dan pilot tidak dapat memperlambat pesawat.[25]