Aceh memiliki satu kopi khas namanya Kopi Ulee Kareng yang menjadi salah satu minuman dari bubuk kopi populer di Aceh, tidak hanya di Aceh karena wilayah ini terkenal dengan minuman kopinya karena memiliki cita rasa khas. Kopi Ulee Kareng sendiri dirintis sejak tahun 1960 di mana banyak dari pengelola kopi di Aceh berkomitmen mempertahankan cara pengolahan tradisional demi menjaga kualitas kopi tetapi ada juga yang melakukan pengolahan secara modern tanpa mengesampingkan pola tradisional.[1]
Nama Ulee Kareng berasal dari nama Kecamatan Ulee Kareng, di Banda Aceh yang sejak lama dikenal sebagai pusat pengolahan kopi tradisional. Wilayah tersebut dikenal sebagai pusat budaya kopi Aceh. Nama Ulee Kareng berasal dari kata Ulee Kareung yang berarti bukit karang, merujuk pada daratan tinggi yang menjadi bagian dari kawasan pesisir sebelum alam mengubahnya menjadi daratan. Kawasan ini sering terhindar dari banjir besar yang melanda Kota Banda Aceh, memiliki sejarah panjang dalam tradisi kopi Aceh, terutama kopi sareng, yang disaring berulang dengan kain flanel hingga menghasilkan rasa yang pekat, kental, dan harum.[2]
Di Ulee Kareng, terdapat beberapa kedai kopi legendaris seperti Solong dan Cut Nun, yang menjadi tempat penting untuk interaksi sosial, pemicu ide, dan pelestari tradisi kopi Aceh. Warung kopi di sini bukan hanya tempat minum kopi, tetapi juga rumah diskusi, dan ruang pertemuan. Kopi Ulee Kareng menggunakan biji kopi robusta yang dipetik dari dataran tinggi Tangse, Lamno, dan pedalaman Aceh. Biji kopi tersebut diproses secara tradisional, dijemur di bawah matahari, dan diantar ke kedai-kedai kopi dengan sepeda motor. Hal ini yang menjadikan kopi ini menjadi bagian dari keseharian masyarakat lokal dan sudah dikonsumsi hingga ke acara internasional.[3]
Pada tahun 2016, Kopi Ulee Kareng menjadi sorotan dalam acara Wonderful Indonesia: Showcasing Aceh’s Traditional Heritage yang diadakan di Stockholm, Swedia. Acara ini merupakan ajang untuk memperkenalkan kopi Ulee Kareng ke dunia internasional. Wilayah Kulturhuset, yang ruangannya didominasi aroma kopi budaya Aceh.[3] Apabila berkunjung ke Aceh, terdapat sejumlah kafe menyajikan roasting kopi yang berbeda karena sambil menyaksikan langsung proses roasting tradisional di tengah alam Aceh. Cara pengajian seperti ini menjadi daya tarik wisawatan yang berkunjung untuk menikmati kopi sekaligus menikmati pemandangan hijau di sana.
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.