Kapel Kamppi di Pusat Kota Helsinki adalah pusat komunitas, yang diperuntukkan untuk kontemplasi.Perenungan tentang alam
Dalam konteks keagamaan, praktik kontemplasi berupaya mencapai kesadaran langsung akan yang ilahi yang melampaui akal budi, seringkali sesuai dengan praktik keagamaan seperti meditasi atau doa.[1]
Etimologi
Kata "kontemplasi" berasal dari kata Latin "contemplatio", yang pada akhirnya berasal dari kata Latin "templum", yaitu sebidang tanah yang disucikan untuk menerima pertanda baik, atau bangunan untuk beribadah. Kata terakhir ini berasal dari akar kata Proto-Indo-Eropa "*tem-" ("memotong"), yang berarti "tempat yang disisihkan atau dipotong", atau dari akar kata *temp-" ("merentangkan, mengikat"), sehingga merujuk pada ruang yang telah dibersihkan (diukur) di depan altar.[2][3] Kata Latin contemplatio digunakan untuk menerjemahkan kata Yunaniθεωρία (theōría).
Filsafat Yunani
Kontemplasi merupakan bagian penting dari filsafatPlato; Plato berpendapat bahwa melalui kontemplasi, jiwa dapat naik menuju pengetahuan tentang Wujud Kebaikan atau perwujudan ilahi lainnya.[4]Plotinos sebagai filsuf (neo)Platonis juga menyatakan kontemplasi sebagai komponen paling penting bagi seseorang untuk mencapai henosis.
Bagi Plotinus, kontemplasi tertinggi adalah mengalami penglihatan akan Tuhan, Monad atau Yang Esa. Plotinus menggambarkan pengalaman ini dalam karya-karyanya Enneads. Menurut muridnya, Porphyry, Plotinus menyatakan bahwa ia mengalami pengalaman tentang Tuhan ini sebanyak empat kali.[5] Plotinus menulis tentang pengalamannya dalam Enneads 6.9.