Menurut Amnesty International, per Juni 2013 pemerintah Bangladesh masih belum menghormati ketentuan perjanjian perdamaian juga tidak membicarakan keprihatinan orang-orang Jumma mengenai pengembalian tanah mereka. Amnesti memperkirakan bahwa saat itu terdapat 90.000 keluarga Jumma yang menjadi pengungsi internal dalam negeri.[13][14]
Latar belakang
Konflik di Jalut Bukit Chittagong Hill ditelusuri kembali ke masa ketika Bangladesh merupakan sayap timur dari Pakistan. Kebencian yang meluas terjadi atas perpindahan sebanyak 100.000 penduduk asli karena pembangunan Bendungan Kaptai pada tahun 1962. Para pengungsi tidak menerima kompensasi dari pemerintah dan ribuan melarikan diri ke India. Sheikh Mujib dilaporkan telah mengancam untuk menempatkan secara paksa suku Bengali Muslim di Jalur Bukit untuk mengurangi proporsi penduduk asli Buddhis dan Hindu sehingga mereka menjadi minoritas.[15][16][17]
Pemberontakan
Akibatnya, Larma dan lainnya mendirikan Parbatya Chhatagram Jana Shanghatti Samiti (PCJSS) sebagai sebuah organisasi politik bersatu dari semua penduduk asli dan suku pada tahun 1973.
Sayap bersenjata PCJSS, yakni Shanti Bahini diorganisir untuk menolak kebijakan pemerintah.[16][18] Krisis diperburuk selama keadaan darurat dari Sheikh Mujib, yang melarang semua partai politik selain partainya, BAKSAL dan rezim militer berturut-turut yang terjadi setelah pembunuhannya pada tahun 1975. Pada tahun 1977, Shanti Bahini meluncurkan serangan pertama mereka terhadap konvoi Angkatan Darat Bangladesh.[1][16][18]
Pemerintah India membantu Shanti Bahini mendirikan pangkalan di seberang perbatasan dari Bangladesh.[2]