Artikel ini tidak memiliki pranala ke artikel lain. Bantu kami untuk mengembangkannya dengan memberikan pranala ke artikel lain secukupnya.(Juni 2025)
Kondobuleng atau Kondo Buleng adalah teater tradisional masyarakat penutur bahasa Makassar di Sulawesi Selatan.[1] Kata Kondobuleng dalam bahasa Bugis dan bahasa Makassar terbentuk dari dua kata yaitu Kondo dan Buleng. 'Kondo' berarti bangau dan 'Buleng' ada yang mengartikannya putih. Namun, dalam percakapan sehari-hari bahasa Makassar, kata putih berarti kebo.
Teater rakyat Kondobuleng merupakan bentuk teater bernafaskan komedi satir. Teater ini dimainkan oleh lima orang memerankan tokoh nelayan, satu orang memerankan Kondobuleng (bangau putih), satu orang memerankan Pemburu, dan satu orang memerankan Pak Lurah. Dalam pertunjukan, pemain menggunakan dialog, kostum dan propeti sesuai perannya dengan diiringi oleh kelompok musik antara 5 sampai 10 orang.
Pertunjukan Teater Rakyat Kondobuleng (PTRK) tidak pernah menggunakan naskah tertulis. Para pemain mencermati awal pertunjukan berulang kali dan hasil wawancara dengan para pendukungnya. Pemain dihadapkan pada ide dalam bentuk lisan, bukan tulisan semacam sinopsis atau naskah.[2]
Sejarah
Kesenian ini telah berlangsung secara turun temurun dalam 3-4 generasi (satu generasi 25 tahun), diperkirakan penciptaan kesenian ini ketika masih zaman penjajahan. Tujuannya adalah untuk mengajak masyarakat untuk melakukan perlawanan kepada Belanda (penjajah) tanpa harus dicurigai oleh pemerintah yang berkuasa ketika itu. Maka di ciptakanlah simbol-simbol dalam pertunjukan antara lain adalah kondobuleng (bangau putih) dan juga tokoh Tuang (orang Belanda). Kesenian ini dipentaskan di istana raja dan di kampung-kampung. Rombongan kesenian Kondobuleng keluar masuk kampung memenuhi permintaan masyarakat yang melakukan hajatan tanpa mendapat hambatan dari pemerintahan kolonial. Karena rombongan kesenian ini telah mendapat kartu/surat izin. Dahulu rombongan ini hanya satu grup saja dan pemainnya masih dalam satu keluarga saja. Namun dalam perkembangannya sekarang kelompok teater rakyat ini telah berkembang menjadi tiga kelompok dan bermukim di kampung Paropo yang sekarang sudah menjadi bagian dalam Kota Makassar.[2]
Bahasa yang digunakan
Para aktor memainkan peran dengan menggunakan bahasa verbal dan nonverbal. Bahasa verbal yang digunakan yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Makassar. Selain melalui dialog, bahasa Makassar juga dipresentasikan dalam bentuk nyayian oleh kelompok musik. Terdapat juga nuansa islam dalam nyanyian tersebut. Adapun bahasa nonverbal digunakan melalui gerak, mimik, ekspresi, propeti dan musik.[3]
Alur teater
Teater Kondobuleng bercerita tentang seorang pemburu yang mengejar seekor bangau putih di daerah rawa-rawa pinggiran pantai. Terdapat sejumlah nelayan yang sedang menangkap ikan di rawa-rawa tersebut. Dengan susah payah, sang pemburu yang dibantu para nelayan pun berhasil menembak kondobuleng (bangau putih). Namun karena kesaktiannya, sang bangau bisa hidup kembali.[3]
Tahapan & isi teater
Tahap awal merupakan pengenalan atau eksposisi pertunjukan, menggambarkan tokoh Kondobuleng muncul di pesisir. Ia secara akrab mencari ikan bersama lima nelayan, yaitu Pabalewang, Pajala, Pabalibodo, Pasodo dan Papaccalak.
Pada tahap komplikasi merupakan penggawatan atau perumitan, dilukiskan dengan munculnya tokoh Pemburu menyandang senapan untuk menembak Kondobuleng. Para nelayan berupaya menghalangi meletusnya peluru dari senapan si Pemburu. Sekali Pemburu membidik agak lama, dan pada detik tertentu, dia menembak “door”. Kondobuleng roboh ketika peluru Sang Pemburu itu berhasil mencabik keheningan. Tapi bukan Kondobuleng saja yang roboh tetapi juga si Pemburu terpental roboh dan bahkan menghilang tiba-tiba.
Para nelayan bermusyawarah, memecahkan masalah untuk mencari Pemburu dan Kondobuleng. Pajala pun melapor ke Pak Lurah. Pak Lurah menyuruh para nelayan agar cepat mencarinya sampai dapat. Dalam keadaan genting itu, salah seorang mengusulkan untuk membuat jembatan karena laut sudah dalam. Jembatan pun jadi dibuat dengan hanya membentangkan sebuah bambu pendek ukuran 60cm. Ketika Pabalewang menaiki jembatan itu, tiba- jembatannya roboh.
Semua kembali berfikir untuk mencari Pemburu dan Kondobuleng. Muncullah ide baru dari salah seorang nelayan dengan mengusulkan untuk membuat perahu. Perahu pun jadi dengan hanya menggunakan tubuh dua orang sebagai perahu. Pabalewang dan Pabalibodo membuat komposisi saling berhadapan, saling menduduki punggung kaki masing-masing karena lutut ditegakkan. Pajala berdiri di belakang mereka sambil memegang dayung. Perahu pun mulai bergerak meninggalkan pantai, naik turun menyeberangi laut. Mereka adalah perahu tapi pada saat yang sama mereka adalah orang yang mendayung dan naik perahu. Tiba-tiba gelombang datang, perahu terbalik. Mereka saling terpisah. Pabalewang dan Pabalibodo berenang ke pantai, sedang Pajala tenggelam dan menggelepar-gelepar di laut. Papaccalak, Pabalewang dan Pabalibodo turun ke laut menolong Pajala dan menariknya ke pantai.
Keempat nelayan itu pun berenang ke pantai seberang dengan beragam gaya. Pabalewang dengan gaya katak. Pabalibodo dengan gaya dada. Papaccalak dengan hanya berlari-lari di laut. Pajala dengan gaya kupu-kupu. Mereka pun tiba di seberang dan duduk di depan Pemburu yang sedang terbaring pingsan di pantai. Pajala membacakan mantra untuk menghidupkan Pemburu. Setelah Pemburu sadar, mereka bersama-sama mencari Kondobuleng dengan menyusuri pantai. Mereka pun menemukan Kondobuleng yang sedang terkapar di pantai.
Pada tahap penyelesaian atau epilog yang merupakan puncak teater. Klimaks atau saat yang menentukan digambarkan ketika semua pemain menyanyikan lagu Mala-mala Hatté dengan iringan musik yang lembut dan sakral menghidupkan Kondobuleng. Perlahan tampak Kondobuleng bergerak dan terus menerus menggerak-gerakkan kakinya, lalu pelan-pelan berdiri, berputar, mengepakkan sayap, terbang mengelilingi arena dan melayang pergi. Semua memperhatikan tingkah Kondobuleng.[2]
Referensi
↑"Kondobuleng". Kemdikbud.go.id. Diakses tanggal 14 Juni 2025.
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.