Kolope adalah salah satu makanan khas tradisional masyarakat Muna di Sulawesi Tenggara. Makanan ini berbahan dasar atau terbuat dari umbi hutan atau gadung (Dioscorea hispida) yang beracun, dan berfungsi sebagai makanan pokok. Dalam bahasa Muna, umbi hutan yang tumbuh liar dengan batang berduri, daun yang lebar, dan memiliki umbi besar dan berbulu disebut dengan nama kolope.[1]
Meskipun kolope mengandung senyawa sianida yang berbahaya, masyarakat Muna memiliki cara tradisional yang telah teruji untuk mengolahnya.[1][2] Proses panjang yang melibatkan pencucian dan perendaman berulang-ulang mampu menghilangkan racunnya, mengubah umbi beracun ini menjadi hidangan yang lezat dan aman untuk dikonsumsi, sering kali dinikmati bersama kelapa parut dan ikan pindang.[3]
Senyawa beracun dan kandungan nutrisi
Kolope atau umbi gadung (Dioscorea hispida)
Umbi kolope yang sudah matang akan muncul berwarna coklat kehitaman. Bentuknya bulat sedikit lonjong dipenuhi serabut. Dari satu batang tanaman itu dapat bisa memanen sekitar 20 umbi dengan diameter rata-rata 5 hingga 10cm.[2] Berdasarkan riset, kolope atau gadung mengandung senyawa racun berupa sianida (HCN). Sianida dalam umbi gadung ini dibentuk dari senyawa glukosida sianogenik. Semakin tua umur tanaman ini maka kandungan HCN di dalam umbi gadung akan semakin tinggi. Kolope ini masih banyak terhdapat di hutan Muna, tumbuh liar di hutan-hutan. Babi-babi dan rusa liar tidak berani memakannya karena beracun.[2]
Dalam setiap 100 gram umbi gadung, terkandung sekitar 100 kalori yang siap menjadi sumber energi. Selain itu, umbi ini kaya akan berbagai nutrisi penting, seperti 21 gram karbohidrat, 1,2 gram protein, dan 2 gram serat yang baik untuk pencernaan. Gadung juga merupakan sumber mineral yang melimpah, dengan 680 miligram kalium, 50 miligram fosfor, dan 20 miligram kalsium. Tak hanya itu, umbi ini diperkaya dengan zat besi, seng, vitamin A, vitamin B kompleks, serta beragam antioksidan kuat seperti diosgenin, dioscorin, kolina, dan polisakarida.[3]
Melihat komposisi nutrisinya yang lengkap, umbi gadung menawarkan beragam manfaat bagi kesehatan. Konsumsinya dapat menjadi sumber energi yang baik, membantu memperkuat kekebalan tubuh, serta mendukung pengontrolan berat badan. Kandungan seratnya bermanfaat untuk melancarkan sistem pencernaan, sementara kalium di dalamnya berperan dalam mengontrol tekanan darah. Lebih lanjut, nutrisi dalam gadung juga berkontribusi pada kesehatan otak dan membantu tubuh melawan dampak buruk radikal bebas.[3]
Cara memasak
Proses membuat olahan makanan dari umbi gadung ini menjadi makanan yang bisa dimakan melewati beberapa tahapan. Sebelum dimasak, agar racunnya dapat dihilangkan, umbi gadung tersebut terlebih dahulu harus dicuci. Caranya, umbi gadung tersebut dikupas kulitnya dan kemudian diiris tipis-tipis. Selanjutnya, irisan umbi gadung direndam dalam air yang mengalir selama empat hari empat malam. Proses berikutnya ialah umbi gadung 'dikucak' dan dicuci bersih, kemudian setelah itu irisan tersebut dijemur hingga mengering. Setelah beberapa proses tersebut dijalankan, maka umbi gadung atau kolope tersebut sudah dapat dikukus untuk dikonsumsi.[1]
Begitu matang, baunya harum dengan warna putih kekuningan, sepintas mirip nasi singkong. Bahan hasi olahan kolope atau juga disebut nasi kolope biasanya disantap masyarakat Muna dengan dicampur dengan kelapa parut dan sedikit garam. Rasanya gurih dan ada terasa seperti rasa kacang. Lauk yang sering disiapkan untuk menemani lauk kapinda, yaitu ikan yang dipindang, sehingga makanan tersebut bersifat sangat mengenyangkan dan lezat.[3]