Artikel ini memberikan informasi dasar tentang topik kesehatan. Informasi dalam artikel ini hanya boleh digunakan untuk penjelasan ilmiah; bukan untuk diagnosis diri dan tidak dapat menggantikan diagnosis medis. Wikipedia tidak memberikan konsultasi medis. Jika Anda perlu bantuan atau hendak berobat, berkonsultasilah dengan tenaga kesehatan profesional.
Kloramfenikol merupakan antibiotik yang ditemukan pada tahun 1947[3] dari kultur Streptomyces venezuelae yang tidak diproduksi secara sintetik. Kloramfenikol merupakan antibakteri pertama yang berspektrum luas, dengan mekanisme kerja menghambat sintesis protein dan bersifat bakteriostatik.[4]
Kegunaan (Indikasi)
Kloramfenikol biasa digunakan untuk mengobati diare yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Kloramfenikol juga digunakan sebagai obat tetes mata untuk mengobati konjungtivitis.[5]
Dosis
Penggunaan oral, injeksi intravena, atau infus: 50mg/kg bb/hari dibagi dalam 4 dosis (pada infeksi berat seperti septikemia dan meningitis, dosis dapat digandakan dan segera diturunkan bila terdapat perbaikan klinis).
Dosis anak: epiglotitis hemofilus, meningitis purulenta, 50–100mg/kg bb/hari dalam dosis terbagi. BAYI di bawah 2 minggu: 25mg/kg bb/hari (dibagi dalam 4 dosis); 2 minggu—1 tahun: 50mg/kg bb/hari (dibagi 4 dosis).[6]
Efek Samping
Anemia Aplastik
Efek samping paling serius dari pengobatan kloramfenikol adalah anemia aplastik (AA). Efek ini jarang terjadi tetapi terkadang berakibat fatal. Risiko AA cukup tinggi sehingga alternatif pengobatan harus dipertimbangkan dengan serius. Pengobatan tersedia tetapi mahal. Tidak ada cara untuk memprediksi siapa yang mungkin atau tidak mungkin menderita efek samping ini. Efek ini biasanya terjadi beberapa minggu atau bulan setelah pengobatan dihentikan, dan predisposisi genetik mungkin berperan. Tidak diketahui apakah pemantauan jumlah sel darah pasien dapat mencegah perkembangan anemia aplastik, tetapi pasien disarankan untuk melakukan pemeriksaan jumlah sel darah dasar dengan pemeriksaan ulang setiap beberapa hari selama pengobatan.[7] Kloramfenikol harus dihentikan jika jumlah sel darah lengkap menurun. Risiko tertinggi terjadi pada kloramfenikol oral (memengaruhi 1 dari 24.000–40.000)[8] dan risiko terendah terjadi pada versi tetes mata (memengaruhi kurang dari satu dari 224.716 resep).[9]
Penekanan sumsum tulang
Kloramfenikol dapat menyebabkan penekanan sumsum tulang selama pengobatan, yang merupakan efek toksik langsung obat pada mitokondria manusia.[10] Efek ini pertama kali bermanifestasi sebagai penurunan kadar hemoglobin, yang terjadi cukup dapat diprediksi setelah dosis kumulatif 20 g diberikan. Anemia sepenuhnya dapat dipulihkan setelah obat dihentikan dan tidak memprediksi perkembangan anemia aplastik pada masa mendatang. Studi pada tikus menunjukkan bahwa kerusakan sumsum tulang yang ada dapat memperparah kerusakan sumsum tulang akibat efek toksik kloramfenikol.[11]
Leukemia
Leukemia (kanker darah atau sumsum tulang) ditandai dengan peningkatan abnormal sel darah putih yang belum matang. Risiko leukemia pada anak meningkat, seperti yang ditunjukkan dalam kajian kasus–kontrol di Cina,[12] dan risikonya meningkat seiring lamanya pengobatan.
Sindrom bayi abu-abu
Penggunaan kloramfenikol intravena telah dikaitkan dengan sindrom bayi abu-abu.[13] Fenomena ini terjadi pada bayi baru lahir karena mereka belum memiliki enzim hati yang berfungsi penuh (yaitu UDP-glukuronil transferase), sehingga kloramfenikol tetap tidak dimetabolisme dalam tubuh.[14] Hal ini menyebabkan beberapa efek samping termasuk hipotensi dan sianosis. Kondisi ini dapat dicegah dengan menggunakan obat pada dosis yang direkomendasikan, dan memantau kadar darah.[15][16][17]
Reaksi Hipersensitivitas
Demam, ruam makular dan vesikular, angioedema, biduran, dan anafilaksis dapat terjadi. Reaksi Herxheimer telah terjadi selama terapi untuk demam tifoid.[18]
Reaksi Neurotoksik
Sakit kepala, depresi ringan, kebingungan mental, dan delirium telah dilaporkan pada pasien yang menerima kloramfenikol. Neuritis optik dan perifer telah dilaporkan, biasanya setelah terapi jangka panjang. Jika hal tersebut terjadi, penggunaan obat ini harus segera dihentikan.[18] Diteorikan bahwa ini disebabkan oleh efek kloramfenikol pada metabolismevitamin B, khususnya B-12.[19]
Sindrom Mielodisplastik
Meskipun jarang, paparan kloramfenikol dikaitkan dengan beberapa kasus sindrom mielodisplastik. Terdapat laporan mengenai respons positif terhadap pengobatan imunosupresif.[20]
Kontraindikasi
Kloramfenikol tidak boleh digunakan pada wanita hamil, menyusui, dan pasien porfiria.[6]
Peringatan
Hindari pemberian berulang dan jangka panjang. Turunkan dosis pada gangguan fungsi hati dan ginjal. Lakukan hitung jenis sel darah sebelum dan secara berkala selama pengobatan. Pada neonatus dapat menimbulkan grey baby syndrome. (Periksa kadar dalam plasma.)[6]
↑Forster J, Hufschmidt C, Niederhoff H, Künzer W (April 1985). "[Need for the determination of chloramphenicol levels in the treatment of bacterial-purulent meningitis with chloramphenicol succinate in infants and small children]". Monatsschrift Kinderheilkunde (dalam bahasa Jerman). 133 (4): 209–213. PMID4000136.
↑Ramilo O, Kinane BT, McCracken GH (May 1988). "Chloramphenicol neurotoxicity". The Pediatric Infectious Disease Journal (dalam bahasa American English). 7 (5): 358–359. doi:10.1097/00006454-198805000-00015. PMID3380586.
↑Arber C, Buser A, Heim D, Gratwohl A, Tichelli A, Passweg JR (March 2006). "Cyclosporine-responsive thrombocytopenia in a patient with chloramphenicol-associated myelodysplastic syndrome". Eur J Haematol (dalam bahasa American English). 76 (3): 255–257. doi:10.1111/j.0902-4441.2005.00593.x. PMID16451398.