Ki Priyo Dwiarso adalah putra dari Ki Hadi Sukatno (dikenal dengan panggilan akrab Pak Katno), seorang tokoh kesenian tradisional Jawa yang terkenal sebagai pencipta lagu dolanan anak dan komposer musik tradisional.[1]Ki Hadi Sukatno memperoleh penghargaan seni dari pemerintah pada tanggal 6 April 1981 atas kontribusinya dalam melestarikan seni permainan anak-anak (dolanan). Menginheritkan semangat pelestarian budaya dari ayahnya, Ki Priyo Dwiarso terus melanjutkan karya-karya kesenian tradisional dan memperdalam peran pedagogisnya.
Ibu Ki Priyo Dwiarso adalah Raden Ajeng Kustihadi, putri dari Raden Wijaya Hatmodidjojo, seorang tokoh penting dari Keraton Yogyakarta. Menurut cerita yang dituturkan oleh Ki Hajar Dewantara sendiri, Ki Hadi Sukatno bertemu dengan calon istrinya dalam suatu peristiwa menarik: Raden Ajeng Kustihadi tergigit tokek dan dibalut dengan saputangan Ki Hadi Sukatno. Ketika akan melamar, Ki Hadi Sukatno meminta bantuan Ki Hajar Dewantara untuk menemui keluarga di Keraton, dan Ki Hajar Dewantara bahkan menjadi saksi pernikahannya pada tahun 1940.[2] Pernikahan ini menunjukkan hubungan dekat antara keluarga Ki Priyo Dwiarso dengan institusi Taman Siswa dan Keraton Yogyakarta.
Pendidikan dan Karir di Taman Siswa
Ki Priyo Dwiarso adalah seorang pamong (pendidik) di Perguruan Nasional Taman Siswa Yogyakarta, institusi pendidikan yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara pada tanggal 3 Juli 1922. Sebagai pamong Taman Siswa, Ki Priyo Dwiarso mengamalkan filosofi pendidikan "Sistem Among" yang menekankan pengembangan karakter, kecerdasan, dan kemandirian siswa dengan semboyan "ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani" (di depan memberi teladan, di tengah memberi bimbingan, di belakang memberi dorongan).[3]
Pendidikan Ki Priyo Dwiarso di Taman Siswa dimulai sejak usia dini, dan ia bahkan dirawat oleh Ki Hajar Dewantara secara langsung sebagai bagian dari keluarga besar Taman Siswa. Melalui pengalaman mendalam ini, Ki Priyo Dwiarso memahami dengan utuh filosofi dan metode pendidikan Ki Hajar Dewantara. Ketika menjadi pemuda, ia sempat bertemu langsung dengan Ki Hajar Dewantara yang sudah sepuh, di mana beliau masih memberi nasihat-nasihat mendalam kepada Ki Priyo Dwiarso bahkan dalam tahun-tahun terakhir hidupnya (hingga Ki Hajar Dewantara meninggal pada 26 April 1959).
Peran dalam Paduan Suara
Pendiri dan Pemimpin Gelora Bahana Patria
Pada akhir tahun 1964, Ki Priyo Dwiarso bersama dengan N. Simanungkalit mendirikan Paduan Suara Gelora Bahana Patria (PSGBP) di Yogyakarta melalui Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI).[4] Kelompok paduan suara ini berkembang menjadi salah satu organisasi seni vokal terkemuka di Indonesia.
Sebagai pemimpin dan maestro Gelora Bahana Patria, Ki Priyo Dwiarso memimpin grup tersebut selama lebih dari lima puluh tahun (1964-2014+). Di bawah kepemimpinannya, Gelora Bahana Patria menjadi pionir dalam:
Pendidikan musik vokal berkualitas tinggi untuk generasi lintas usia
Pengembangan repertoar musik nasional dan internasional
Penyelenggaraan konser dan kompetisi paduan suara tingkat regional dan nasional
Pelatihan musisi dan pelatih paduan suara
Partisipasi aktif dalam kegiatan peringatan hari-hari bersejarah nasional
Gelora Bahana Patria telah mengikuti berbagai lomba paduan suara tingkat nasional dan internasional, serta secara konsisten membawa pesan-pesan kebangsaan melalui nyanyian.[5] Organisasi ini menjadi pusat pembinaan dan penciptaan harmoni vokal yang telah menghasilkan ribuan penyanyi dari berbagai generasi.
Maestro dan Konduktor Terkemuka
Ki Priyo Dwiarso terkenal sebagai maestro yang visioner dan berpengalaman dengan teknik direksi yang khas. Melalui kepemimpinannya, ia telah membentuk gaya bernyanyi banyak paduan suara dan individu penyanyi di Yogyakarta. Ia juga pernah menjadi konduktor dalam berbagai acara musik skala besar, antara lain:
Aubade 1000 UGM (2014): Sebuah pertunjukan musik yang menampilkan lebih dari 1200 penyanyi dari berbagai institusi dan paduan suara di Yogyakarta, dalam rangka perayaan 50 tahun emas Gelora Bahana Patria.[6]
Pertunjukan musik di Titik Nol Kilometer Yogyakarta dengan melibatkan gabungan beberapa paduan suara (2022).[7]
Kontribusi dalam Pendidikan Musik dan Seni
Penelitian dan Dokumentasi Tembang Dolanan
Ki Priyo Dwiarso telah melakukan penelitian mendalam tentang tembang dolanan (lagu-lagu anak tradisional Jawa) sebagai bagian dari upaya pelestarian warisan budaya. Karyanya dalam bidang ini mencakup:
Dokumentasi dan transkripsi notasi musik lagu-lagu dolanan dengan terjemahan bahasa Indonesia modern
Penerbitan materi pembelajaran tentang pendidikan karakter melalui tembang dolanan[8]
Partisipasi dalam berbagai seminar dan lokakarya tentang pelestarian seni tradisional Jawa
Kontribusi pada pengembangan metode pembelajaran interaktif tembang dolanan (seperti Augmented Reality on Tembang Dolanan/ARTDA)
Melalui presentasi berjudul "Pendidikan Karakter Melalui Tembang Dolanan", Ki Priyo Dwiarso menunjukkan bagaimana lagu-lagu tradisional dapat menjadi sarana efektif untuk menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter kepada anak-anak, sejalan dengan filosofi Ki Hajar Dewantara.[9]
Festival Operet Anak
Pada tahun 1991, Ki Priyo Dwiarso melanjutkan visi ayahnya Ki Hadi Sukatno dalam menciptakan karya-karya operet anak. Di bawah pembinaan Sri Sultan Hamengkubuwono X, Ki Priyo Dwiarso membantu mengembangkan Festival Operet Anak untuk memperingati Jumenengan Dalem (Hari Penobatan Raja Yogyakarta).[10] Festival ini menjadi sarana untuk mengembangkan minat seni anak-anak serta melestarikan nilai-nilai budaya Jawa dalam bentuk yang relevan dengan perkembangan zaman.
Penyimpanan dan Transmisi Kearifan Lokal
Sebagai figur Taman Siswa yang hidup, Ki Priyo Dwiarso telah menjadi sumber pengetahuan langsung tentang sejarah pendidikan Taman Siswa, khususnya dalam periode pendudukan Jepang (1942-1945).[11] Penelitian akademis telah melakukan wawancara mendalam dengannya untuk mendokumentasikan kiprah Taman Siswa pada masa tersebut, menunjukkan pentingnya peran beliau dalam mempertahankan nilai-nilai kebangsaan dan budaya pada saat yang penuh tantangan.
Pandangan dan Filosofi
Musik sebagai Sarana Pembentukan Karakter
Menurut Ki Priyo Dwiarso, lagu perjuangan dan lagu nasional merupakan alat yang sangat efektif dalam membina karakter bangsa. Ia meyakini bahwa musik memiliki pengaruh yang lebih kuat daripada propaganda politik, karena siapa pun yang menyanyi dan mendengarkan lagu perjuangan dengan penuh penghayatan akan mengembangkan rasa cinta tanah air yang kuat.[12]
Pemahaman Mendalam tentang Pendidikan Ki Hajar Dewantara
Melalui pengalaman hidup, interaksi personal, dan penelitian akademis, Ki Priyo Dwiarso telah menjadi penafsir penting dari pemikiran Ki Hajar Dewantara, khususnya dalam hal:
Konsep Dewantara tentang kesenian sebagai bagian integral pendidikan[13]
Metode pembelajaran musik berbasis "Sari Swara" yang diciptakan Dewantara
Peran musik tradisional Jawa dalam membangun identitas nasional Indonesia
Pelaksanaan Sistem Among dalam praktik pendidikan sehari-hari
Karya Musik
Ki Priyo Dwiarso telah menciptakan berbagai karya musik yang mencerminkan dedikasi beliau terhadap pendidikan, pelestarian budaya, dan semangat kebangsaan. Karya-karya beliau meliputi lagu, operet, hymne, dan canon yang telah menjadi bagian penting dari warisan budaya Tamansiswa dan pendidikan musik Indonesia.
Canon dan Lagu Tamansiswa
Canon Tamansiswa
Canon Tamansiswa adalah lagu yang mencerminkan semangat dan nilai-nilai inti Perguruan Taman Siswa. Lagu ini menjadi salah satu simbol identitas Tamansiswa dan secara rutin dinyanyikan dalam berbagai acara pendidikan di lingkungan Tamansiswa.[14]
Lirik Pokok:
Perguruan Tamansiswa
Berciri Panca Dharma
Mendidik tunas 'tuk Nusa Bangsa
Salam dan bahagia
Sistem Among pedoman kita
Tertib damai tujuan kita
Melalui lirik-lirik tersebut, canon ini mengkomunikasikan nilai-nilai pendidikan yang diajarkan Ki Hajar Dewantara, termasuk pentingnya Panca Dharma (Lima Asas), Sistem Among, dan dedikasi kepada bangsa Indonesia.
Operet Arya Penangsang, dengan subtitle Patine Arya Penangsang Gugur (Gugurnya Arya Penangsang), adalah karya operet yang diciptakan Ki Priyo Dwiarso pada tahun 1974. Operet ini merupakan adaptasi dari Langen Carita dengan judul yang sama, yang awalnya diciptakan oleh ayahnya Ki Hadi Sukatno.
Cerita: Operet ini menceritakan tentang gugurnya Arya Penangsang saat melakukan perlawanan terhadap Sutawijaya dan pasukan Pajang. Pesan utama operet ini adalah bahwa kejahatan dan keserakahan pasti akan kalah menghadapi kebaikan dan keadilan, tema yang sangat sejalan dengan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara tentang pembentukan karakter.
Nilai Pendidikan: Operet ini dikembangkan sebagai sarana pendidikan seni yang mengintegrasikan musik, drama, dan pesan moral dalam satu pertunjukan yang menarik bagi anak-anak dan masyarakat umum.
Dokumentasi dan Penelitian:
Pertama kali dipentaskan tahun 1974 di Tamansiswa Yogyakarta.[15]
Telah menjadi subyek penelitian akademis tentang nilai-nilai pendidikan karakter dalam seni tradisional.[16]
Dirujuk dalam berbagai publikasi akademis tentang sejarah pendidikan Tamansiswa.[17]
Diakui dalam literatur internasional tentang warisan budaya Ki Hajar Dewantara.[18]
Lagu Responsif dan Patriotik
Lagu Tolak Bala Covid-19
Lagu Tolak Bala Covid-19 adalah karya musik yang diciptakan Ki Priyo Dwiarso pada tahun 2020, saat dunia dihadapkan pada pandemi COVID-19. Lagu ini merupakan respons langsung terhadap situasi darurat kesehatan global dengan pesan-pesan positif dan edukasi.
Tujuan dan Pesan: Lagu ini diciptakan dengan tujuan memberikan semangat dan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan, kesehatan diri, dan tetap bersemangat selama isolasi di rumah. Pesan lagu sejalan dengan protokol kesehatan yang dihimbau oleh pemerintah dan organisasi kesehatan internasional.
Konteks Penciptaan: Lagu ini diciptakan ketika pemerintah Indonesia menghimbau masyarakat untuk melakukan isolasi diri di rumah sebagai bagian dari upaya memutus rantai penyebaran virus corona. Dalam situasi yang penuh ketegangan tersebut, lagu ini hadir sebagai bentuk kontribusi Ki Priyo Dwiarso dalam mendukung upaya kesehatan masyarakat melalui pendekatan seni dan musik.
Dokumentasi dan Penyebarluasan:
Pertama kali diunggah di YouTube Channel Swara Tamansiswa (saluran resmi Tamansiswa) pada tanggal 23 April 2020.[19]
Juga diunggah di channel lain (Kang Hart) pada tanggal 25 April 2020, menunjukkan penyebarluasan yang cepat dan antusiasme masyarakat terhadap lagu ini.[20]
Mendapat sambutan positif dari komunitas Tamansiswa dan masyarakat luas, dengan ribuan views di platform YouTube.
Signifikansi: Lagu ini menunjukkan bahwa Ki Priyo Dwiarso tidak hanya melestarikan karya-karya lama, tetapi juga terus berkreasi dan merespons perkembangan zaman serta tantangan sosial yang dihadapi masyarakat. Hal ini membuktikan relevansi dan aktualitas beliau sebagai seorang seniman dan pendidik yang peduli terhadap kondisi bangsa dan masyarakat.
Operet Lainnya
Selain operet yang telah terdokumentasi dengan baik, Ki Priyo Dwiarso juga telah menciptakan beberapa operet lain yang dipentaskan di lingkungan Tamansiswa:
Operet Lembu dan Buaya - Operet yang menggunakan cerita fabel tradisional Jawa sebagai sarana pendidikan
Operet Sang Garuda - Operet yang mengangkat tema kebangsaan dan semangat nasionalisme
Operet Ancak Alis - Operet yang bercerita tentang nilai-nilai kebajikan dan kebersamaan
Operet-operet ini telah dipentaskan dalam berbagai acara Tamansiswa dan menjadi bagian dari warisan seni pertunjukan di institusi pendidikan tersebut.[21]
Himne
Ki Priyo Dwiarso juga telah menjadi pendamping atau pencipta berbagai himne untuk institusi dan organisasi, termasuk:
Hymne Rajawali - Himne yang mengekspresikan semangat dan nilai-nilai tertentu
Himne-himne ini dirancang untuk membangun identitas dan semangat kolektif dari institusi dan komunitas yang mereka wakili.
Penghargaan dan Pengakuan
Ki Priyo Dwiarso telah menerima berbagai bentuk pengakuan atas dedikasi dan kontribusinya:
Pelantikan sebagai Ketua Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta oleh WaliKota Yogyakarta (Periode 2021-2023[22] dan diperpanjang hingga pada periode 2024-2026[23])
Pengakuan sebagai pakar dan ahli dalam bidang tembang dolanan anak dan pendidikan berbasis budaya
Partisipasi aktif dalam berbagai festival budaya dan kesenian di Yogyakarta
Penampilan dalam berbagai media massa dan program televisi nasional sebagai narasumber pendidikan dan budaya[24]
Publikasi Ilmiah dan Akademis
Ki Priyo Dwiarso telah berkontribusi dalam berbagai publikasi akademis dan penelitian:
Presentasi berjudul "Pendidikan Karakter Melalui Tembang Dolanan" (dengan lampiran notasi musik dan terjemahan bahasa Indonesia)
Referensi utama dalam berbagai skripsi dan tesis tentang sejarah Taman Siswa, pendidikan karakter, dan seni musik tradisional
↑Mintargo, Wisnu; Soedarsono, RM; Ganap, Victor (Desember 2014). "Peran Paduan Suara Gelora Bahana Patria Yogyakarta (1964-2014)". Patrawidya: Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya. 15 (4). Yayasan Adikarya IKAPI. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
↑Nurhayati, Darmiyati; Utami (April 2019). "Gagasan Ki Hajar Dewantara Tentang Kesenian dan Pendidikan Seni". Jurnal Promusika: Pengkajian, Penyajian dan Penciptaan Musik. 7 (1). ISI Yogyakarta. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
(Indonesia) Dwiarso, Priyo. Napak Tilas Ajaran Ki Hadjar Dewantara. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, 2010.
(Indonesia) Mintargo, Wisnu, RM. Soedarsono, dan Victor Ganap. "Peran Paduan Suara Gelora Bahana Patria Yogyakarta (1964-2014)". Patrawidya: Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, Vol. 15, No. 4, Desember 2014.
(Indonesia) Nurhayati, Darmiyati Utami. "Gagasan Ki Hajar Dewantara Tentang Kesenian dan Pendidikan Seni." Jurnal Promusika: Pengkajian, Penyajian dan Penciptaan Musik, Vol. 7, No. 1, April 2019.
(Indonesia) Hadisukatno, Ki. Permainan Kanak-Kanak Sebagai Alat Pendidikan. Yogyakarta: Madjelis-Luhur Taman-Siswa, 1952.