Ketoprak Truthuk adalah salah satu bentuk teater rakyat yang berkembang di Semarang, Jawa Tengah. Kesenian ini merupakan varian dari ketoprak tradisional yang menggunakan alat musik sederhana seperti kentongan bambu dan gamelan ringan. Pertunjukan Ketoprak Truthuk biasanya disajikan secara spontan, humoris, dan melibatkan interaksi langsung dengan penonton.[1]
Pertunjukan ini sering diadakan di ruang terbuka seperti halaman kampung atau lokasi wisata, terutama pada malam bulan purnama. Ketoprak Truthuk menyajikan cerita rakyat, legenda, hingga isu-isu sosial kontemporer, dan dikenal sebagai sarana hiburan sekaligus media edukasi masyarakat.[2]
Sejarah
Ketoprak Truthuk merupakan pengembangan dari bentuk kesenian ketoprak rakyat seperti Ketoprak Lesung, yang menggunakan peralatan sederhana dan digelar secara spontan oleh masyarakat desa. Nama Truthuk berasal dari bunyi alat musik kentongan bambu yang menjadi ciri khas dalam pertunjukan ini.[1]
Ketoprak ini berkembang pesat di lingkungan kampung di Semarang sejak dekade 1970-an hingga 1990-an. Pada masa itu, pertunjukan ini kerap digelar sebagai bagian dari tradisi selamatan kampung atau sedekah bumi. Pertunjukan menjadi ajang berkumpul, menyampaikan kritik sosial, dan menanamkan nilai-nilai moral melalui cerita-cerita yang dibawakan secara humoris dan satirikal.[2]
Pelaksanaan
Pertunjukan Ketoprak Truthuk disajikan secara sederhana tanpa tata panggung kompleks. Musik pengiring menggunakan kentongan bambu sebagai alat utama, dibantu dengan instrumen gamelan sederhana seperti saron, gong, dan kendang. Suara khas "truthuk... truthuk" dari kentongan menjadi ciri tersendiri dalam setiap pertunjukan.[butuh rujukan]
Cerita yang ditampilkan mencakup berbagai tema, mulai dari epos klasik seperti Mahabharata dan Ramayana, hingga tema kontemporer seperti kampanye bahaya narkoba dan keluarga berencana. Dialog dilakukan secara improvisasi, menggunakan bahasa Jawa dan kadang disisipi bahasa Indonesia atau dialek lokal agar mudah dipahami oleh penonton.[3]
Pemain biasanya mengenakan kostum sederhana, bahkan memanfaatkan pakaian sehari-hari atau kostum parodi untuk mendukung sisi humor dalam pementasan. Penonton kerap diajak berinteraksi secara langsung melalui candaan atau dialog spontan dari para pemain.[butuh rujukan]
Upaya pelestarian
Seiring perkembangan teknologi dan hiburan digital, Ketoprak Truthuk mengalami kemunduran popularitas, terutama di kalangan generasi muda. Minimnya dokumentasi, regenerasi seniman, dan dukungan sistematis menyebabkan kesenian ini nyaris punah pada awal 2000-an.[2]
Untuk mengatasi hal tersebut, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang bekerja sama dengan komunitas seni lokal seperti Komunitas Tirang sejak tahun 2019 mulai menghidupkan kembali pertunjukan Ketoprak Truthuk. Salah satu langkah pelestarian dilakukan melalui pementasan rutin di tempat wisata seperti Goa Kreo dan kampung budaya pada akhir pekan atau saat bulan purnama.[4]
Selain itu, modifikasi terhadap cerita, tata panggung, dan format pertunjukan dilakukan agar lebih relevan dengan generasi muda. Penyesuaian tersebut tetap mempertahankan nilai-nilai budaya dan estetika lokal.[butuh rujukan]