Artikel ini tidak memiliki pranala ke artikel lain. Bantu kami untuk mengembangkannya dengan memberikan pranala ke artikel lain secukupnya.(September 2025)
Kerusuhan Polda Daerah Istimewa Yogyakarta muncul sekitar akhir bulan Agustus dan mencapai puncaknya pada tanggal 1 September 2025 di depan Markas Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta, Sleman. Aksi yang awalnya dimulai sebagai unjuk rasa mahasiswa, pelajar, dan warga sipil berubah menjadi bentrokan dan kerusakan fasilitas setelah ketegangan meningkat dengan kehadiran massa perusuh dan penggunaan bahan-bahan seperti molotov dan senjata tajam.[1]
Kerusuhan Polda DIY 1 September 2025
No
Aspek
Keterangan
1
Tanggal
Akhir Agustus 2025 – 1 September 2025
2
Lokasi
Depan Markas Polda DIY, Sleman, Yogyakarta
3
Korban Jiwa
1 orang (Mahasiswa Amikom, Rheza Sendy Pratama) meninggal dari 29 pasien yang dirawat di RSUP Dr Sardjito
4
Isu
Penyebab kematian Rheza belum sepenuhnya jelas; kondisi tubuh penuh luka; keterlibatan pelajar; dugaan penggunaan gas air mata dan tindakan aparat yang kontroversial; kebutuhan investigasi independen
5
Kerugian
Taksiran Rp 28 miliar atas kerusakan fasilitas dan aset di lingkungan Polda DIY
Latar Belakang
Demonstrasi bermula sore hari tanggal 29 Agustus 2025 sebagai reaksi terhadap beberapa kebijakan publik dan sentimen bahwa aparat keamanan kurang responsif terhadap tuntutan masyarakat. Seiring malam, massa yang berkumpul di luar Mapolda DIY memicu ketegangan setelah beberapa fasilitas Polda dilaporkan mulai dirusak dan dibakar. Pelayanan publik di lingkungan Polda, seperti SPKT dan SKCK, sempat terganggu akibat kerusakan yang terjadi.[2]
Kronologi
Malam tanggal 30 Agustus, telah terjadi insiden ketika sekitar 50 orang tak dikenal mendekati markas Polda DIY dan mulai melakukan pelemparan batu, petasan, dan molotov. Ketika itu, kawat duri yang dipasang sebagai penghalang ditarik oleh massa. Seiring berjalannya malam, jumlah massa meningkat hingga diperkirakan mencapai 500 orang, termasuk warga sekitar yang ikut terlibat saling lempar batu.[3]
Aksi masih berlangsung hingga dini hari tanggal 31 Agustus. Aparat kepolisian dan TNI melakukan penertiban dan pembubaran terhadap massa yang masih melakukan tindakan kekerasan. Pada pagi hari, kerusuhan berhasil diredam setelah sejumlah fasilitas mengalami kerusakan cukup parah. Puluhan orang diamankan, sebagian pelajar yang masih di bawah umur kemudian dipulangkan setelah melalui proses pemeriksaan dan pendataan.
Korban dan Tahanan
Sebanyak 23 pelajar yang sebelumnya diamankan saat kerusuhan dipulangkan Minggu malam setelah melalui proses pemeriksaan dan pendataan. Selain mereka, tiga orang diproses hukum karena membawa senjata tajam dan molotov; dua orang dewasa dititipkan di rumah tahanan Polda, satu pelaku anak ditangani melalui lembaga perlindungan sosial.
Luka-luka pada korban meliputi cedera ringan hingga berat. Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito Yogyakarta merawat 29 pasien akibat demonstrasi. Sebagian besar korban sudah dipulangkan setelah beberapa hari perawatan, tetapi beberapa tetap dalam perawatan khusus karena luka serius seperti patah tulang di tengkorak dan area sekitar mata.
Kerusakan dan Dampak Pelayanan Publik
Aset Barang Milik Negara milik Polda DIY mengalami kerusakan meliputi gedung SPKT, layanan SKCK, pagar markas, pos jaga, sejumlah mobil dinas, kaca bangunan pecah, serta mesin ATM. Kerusakan mengganggu pelayanan masyarakat dalam beberapa hari. Pelayanan kepolisian kembali beroperasi secara bertahap setelah perbaikan fasilitas dimulai.
Tanggapan Resmi
Kepolisian Daerah DIY menyatakan komitmen penuh untuk memperbaiki sarana dan prasarana yang rusak agar layanan publik kembali berjalan normal. Penanganan terhadap pelaku tindakan pidana dijalankan sesuai prosedur, termasuk pemrosesan terhadap mereka yang membawa molotov dan senjata tajam, serta pelaku di bawah umur melalui mekanisme perlindungan anak.
Kerugian
Kerugian materi ditaksir mencapai Rp 28 miliar, yang mencakup bangunan, peralatan, dan fasilitas pelayanan publik di Mapolda DIY. Nilai tersebut berdasarkan estimasi dari pihak kepolisian yang menghitung seluruh aset yang rusak, mulai dari gedung hingga kendaraan dinas dan bagian luar markas.[4]
Isu yang Masih Belum Terjelaskan
Beberapa aspek masih membutuhkan konfirmasi lebih lanjut, antara lain penyebab pasti kematian mahasiswa yang dilaporkan dalam aksi tersebut, identitas semua pelaku perusak, bukti medis lengkap, serta laporan independen mengenai penggunaan kekuatan oleh aparat. Perlindungan dan pendampingan pelajar yang diamankan juga menjadi perhatian banyak pihak.
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.