Kerusuhan Brixton 1981 (atau Pemberontakan Brixton)[2] adalah suatu kerusuhan rasial yang ditandai dengan peristiwa konfrontasi antara Kepolisian Metropolitan London dengan para pengunjuk rasa di Lambeth, London Selatan, Inggris. Kerusuhan ini terjadi pada tanggal 10 hingga 12 April 1981. Kerusuhan utama berlangsung pada tanggal 11 April, yang dijuluki "Sabtu Berdarah" oleh Majalah Time.[3] Kerusuhan ini menyebabkan lebih dari 280 petugas kepolisian dan 45 warga masyarakat cedera,[4] ratusan kendaraan dibakar, termasuk 56 unit kendaraan polisi, serta hampir 150 bangunan mengalami kerusakan, dan tiga puluh bangunan lainnya dibakar. Tercatat polisi melakukan 82 penangkapan. Laporan menunjukkan bahwa lebih dari 5.000 orang terlibat dalam kerusuhan ini.[5]
Latar belakang
Brixton di London Selatan merupakan kawasan di London yang memiliki masalah sosial dan ekonomi yang serius. Resesi yang terjadi pada tahun 1981 memengaruhi Britania Raya secara universal, tetapi yang paling menderita adalah warga pendatang, terutama warga Afrika-Karibia. Tingkat pengangguran yang sangat tinggi, perumahan yang buruk, dan tingkat kriminalitas yang lebih tinggi dari rata-rata menyebabkan terjadinya unjuk rasa besar-besaran oleh para imigran yang menuntut keadilan. Unjuk rasa ini berubah menjadi kerusuhan saat terjadinya konfrontasi antara polisi dengan para pengunjuk rasa yang marah.[6]