Kerupuk bakar atau opak merupakan makanan khas Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Makanan ini dibuat dari adonan bahan utama yang kemudian diproses menjadi kerupuk dan dipanggang hingga menghasilkan cita rasa gurih serta tekstur renyah yang khas. Opak dikenal sebagai salah satu unsur penting dalam sajian bubur opak khas Bandungan, meskipun tidak diketahui secara pasti siapa penemu pertama makanan tradisional ini. Awalnya, produksi kerupuk bakar banyak dilakukan di daerah Candi, Bandungan. Namun, karena usia para pembuat kerupuk yang sudah lanjut, pusat produksi kemudian berpindah ke daerah Glodogan, Pancoran (Harjosari, Bawen), yang hingga kini menjadi satu-satunya daerah yang masih mempertahankan produksi kerupuk bakar atau opak secara tradisional[1].
Kerupuk sendiri merupakan salah satu makanan ringan yang sangat digemari masyarakat Indonesia dan sering dijadikan pelengkap berbagai sajian makanan maupun lauk pendamping. Proses pembuatan kerupuk memerlukan tahapan pengeringan agar menghasilkan kualitas yang baik dan tekstur yang renyah saat dikonsumsi. Dalam proses produksinya, pengeringan menjadi faktor penting karena sangat memengaruhi mutu, kebersihan, dan daya tahan produk. Seiring perkembangan teknologi, proses pengeringan kerupuk kini tidak hanya mengandalkan sinar matahari secara langsung, tetapi juga memanfaatkan energi panas dan teknologi pengering modern[1]. Pemanfaatan energi panas, seperti energi surya dan biomassa kayu bakar, dapat membantu mempercepat proses pengeringan, meningkatkan efisiensi produksi, serta menjaga kualitas kerupuk agar tetap higienis. Selain itu, penggunaan energi surya dinilai lebih hemat biaya, ramah lingkungan, dan mampu mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Dalam industri kerupuk tradisional, penggunaan tungku biomassa berbahan kayu bakar masih banyak digunakan karena mudah diperoleh dan relatif murah. Energi panas dari pembakaran kayu membantu proses pengeringan sehingga kerupuk dapat kering secara merata. Teknologi pengering berbasis energi surya dan biomassa juga memungkinkan proses produksi tetap berjalan meskipun pada musim hujan, sehingga produksi kerupuk menjadi lebih stabil dan efisien[2]. Kerupuk bakar atau opak tidak hanya menjadi makanan tradisional khas daerah, tetapi juga menjadi bagian dari warisan kuliner masyarakat Jawa Tengah yang masih dipertahankan hingga saat ini. Keberadaannya mencerminkan nilai tradisi, kreativitas masyarakat lokal, serta perkembangan teknologi sederhana dalam industri makanan rumahan.