Sejarah
Masa pendirian
Disebutkan dalam naskah Lontar, bahwa Islam pertama kali dibawa dan disebarkan oleh seorang pendakwah dari Baghdad, bernama Sayyid Abdurrasyīd (Nūrurrasyīd) ibn Hajar al-Haytami. Namun, masyarakat Lombok secara tradisional mengenalnya dengan sebutan Ghaus Abdurrazzāq. Selain sebagai penyebar agama Islam, ia juga diyakini telah melahirkan raja-raja Sasak di Pulau Lombok.[4] Namun, selain ia, Betara Tunggul Nala (Nalamuddin) juga diyakini sebagai leluhur para raja-raja Sasak di Pulau Lombok yang merupakan putra Sahabbudin Ghufri, cucu dari Ghaus Abdurrazzāq.
Betara Tunggul Nala atau Nalamuddin mempunyai seorang putra bernama Sinarah yang nama aslinya adalah Sayyid Abdurrahman. Ia juga dikenal sebagai Datu Tuan di Kerajaan Bayan, seorang pendakwah dan pelindung, selain sebagai pelopor berdirinya Kerajaan Selaparang. Nama "Bayan" berarti 'nyata'. Namun, karena tingginya tingkat pengetahuan tarekatnya (thariqah), ia memilih untuk mengundurkan diri dari Kerajaan Bayan dan kemudian melakukan moksa di Desa Gegerung, Kabupaten Lombok Barat, kemudian menyebarkan Islam di Kabupaten Jombang, Jawa Timur.[5] Raja Bayan juga dikenal di Lombok sebagai Datu Tuan karena menyebarkan Islam. Ia menulis kitab Jatiswara, Prembonan, Lampanan Wayang, Tasawuf, dan Fikih. Dalam proses penyebaran Islam, salah satu media yang digunakannya adalah wayang, seperti yang juga dilakukan oleh Sunan Kalijaga. Bentuk mistik Islam yang dibawanya merupakan perpaduan (sinkretisme) antara mistisisme Islam (Sufisme) dengan salah satu ajaran filsafat Hinduisme, yaitu Advaita Vedanta.[6]
Tidak diketahui secara pasti kapan Ghaus Abdurrazzāq tiba di Pulau Lombok. Namun, pendapat yang paling kuat menyatakan bahwa ia datang ke Pulau Lombok untuk pertama kalinya sekitar tahun 600 Hijriah atau abad ke-13 (antara tahun 1201 dan 1300). Ghaus Abdurrazzāq pertama kali tiba di Lombok Utara yang pada masa itu dikenal sebagai Bayan. Ia kemudian menetap dan berdakwah di sana. Kemudian ia menikah dan memiliki tiga anak, yaitu Sayyid Abdul Ghafur, yang bertempat tinggal di Makam Batu Layar, Sayyid Amir, yang kemudian menjadi datu Kerajaan Pejanggik, dan Syarifah Qomariah atau lebih dikenal dengan Dewi Anjani, seorang makhluk spiritual yang bersemayam di Gunung Rinjani. Seluruh klaim tersebut masih kontroversial dan dipenuhi dengan mitos dan legenda. Menurut sumber Jawa seperti Negarakretagama pada tahun 1343, Pulau Lombok pada waktu itu setidaknya hanya memiliki 2 kerajaan utama, yaitu Lombok Mirah di timur dan Sasak Adhi di barat. Para sejarawan percaya bahwa Islam baru masuk ke Lombok pada abad ke-15.[4]
Seiring waktu, Ghaus Abdurrazzāq menikah lagi dengan seorang putri dari Kerajaan Sasak (pra-Selaparang) yang melahirkan dua anak, yaitu seorang putra bernama Sayyid Zulqarnain dan seorang putri bernama Syarifah Lathifah yang akrab dipanggil Denda Rabi'ah.[7] Sementara itu, sumber lain menyatakan bahwa Kerajaan Selaparang didirikan oleh putra dari Dalem Waturenggong, bernama Raden Mas Pakel, yang dinobatkan pada tanggal 30 November 1648. Namun, klaim ini dianggap "anakronistis" karena Selaparang disebutkan dalam catatan VOC pada tahun 1645 dan Dalem Waturenggong meninggal pada tahun 1550. Pendapat lain menyatakan bahwa setelah Kerajaan Gelgel berhasil menumpas pemberontakan di Lombok Timur pada Mei 1645, Dalem Di Made, seorang Raja Bali, pada waktu itu menempatkan putra atau saudaranya di atas takhta Selaparang.
Masa kejayaan
Kerajaan Selaparang diidentifikasikan sebagai kerajaan yang tangguh, baik di darat maupun di laut di wilayahnya selama masa kejayaannya.[8] Tercatat bahwa pasukan angkatan lautnya telah berhasil mengusir pasukan VOC beberapa kali yang ingin memasuki wilayah tersebut sekitar tahun 1667–1668. Namun, Kerajaan Selaparang terpaksa menyerahkan salah satu wilayahnya kepada Belanda (VOC), yaitu Sumbawa bagian barat, karena wilayah tersebut direbut sebelum perang laut pecah. Selaparang disebutkan sebagai bagian dari wilayah kekuasaan Kerajaan Gelgel. Hal ini juga tercatat dalam pelayaran Steven van der Hagen pada tahun 1603 yang menyatakan bahwa seluruh Pulau Lombok berada di bawah kendali Kerajaan Bali. Menurut klaim dari Babad Lombok, pernah terjadi pemberontakan di Selaparang di mana pasukan laut mereka pernah memukul mundur serangan yang dilancarkan oleh Kerajaan Gelgel dari arah barat. Selaparang dua kali terlibat dalam pertempuran melawan Kerajaan Gelgel, yaitu sekitar tahun 1616 dan 1624, jika dikaitkan dengan catatan Belanda dari tahun 1603, serangan-serangan ini kemungkinan besar merupakan pemberontakan untuk melepaskan diri dari kekuasaan Kerajaan Gelgel. Hal ini juga dikonfirmasi oleh sumber-sumber Bali yang menyatakan bahwa mereka sedang berperang melawan orang Makassar yang mendukung pemberontakan di wilayah Lombok Timur. Sumber-sumber VOC dalam buku Noorduyn mengatakan bahwa penguasa Makassar berulang kali menyatakan bahwa orang-orang Selaparang hanyalah "bawahan" atau "taklukan" dari Kesultanan Gowa (Makassar) dan mereka menawarkan budak kepada penguasa Makassar dalam jumlah besar untuk melindungi diri mereka sendiri dari Kerajaan Bali. Sebuah catatan VOC tertanggal 18 Januari 1646, yang tersimpan dalam Batavian Letter-book, VOC 773, f. 14., melaporkan bahwa pada tanggal 22 Mei 1645, Selaparang, Lamko (Langko), dan desa-desa lainnya direbut kembali oleh Gusti Agung Maruti karena mereka dianggap telah memberontak terhadap Kerajaan Gelgel dan banyak pasukan Sasak ditangkap oleh pasukan Bali Gelgel, seorang simpatisan VOC bernama Mustafa juga ditangkap atas tuduhan memasok amunisi ke pihak Selaparang. Utusan Gelgel kemudian pergi ke Batavia dan memprotes insiden tersebut, Gubernur Jenderal Antonio van Diemen menyesali hal ini dan meminta maaf atas tindakan rakyatnya.[9]
Setelah pertempuran, Kerajaan Selaparang mulai menerapkan kebijakan baru untuk membangun kerajaannya dengan memperkuat sektor pertanian. Menurut sebuah sumber, ibu kota sebelumnya telah dihancurkan oleh pihak asing seperti Kerajaan Bali atau Kesultanan Gowa (Makassar). Jadi, pusat pemerintahan kerajaan kemudian dipindahkan sedikit lebih jauh ke pedalaman, ke dataran berbukit untuk melindungi diri mereka sendiri, tepat di Desa Selaparang saat ini. Dari wilayah ibu kota baru ini, pemandangan Selat Alas yang indah dapat dilihat dengan latar belakang daratan Sumbawa dari utara ke selatan dalam satu pandangan. Dengan cara ini, setiap pergerakan mencurigakan di tengah laut akan segera diketahui. Ibu kota Kerajaan Selaparang juga memiliki wilayah belakang berupa perbukitan sawah yang dibangun dan ditata rapi, bertingkat hingga ke hutan Lemor yang memiliki sumber air yang melimpah.[4]
Berbagai sumber menyatakan bahwa setelah ibu kota dipindahkan, Kerajaan Selaparang mengalami kemajuan pesat di sektor pertanian. Sebuah sumber mengungkapkan bahwa Kerajaan Selaparang diklaim mampu memperluas kekuasaannya hingga ke bagian barat Sumbawa. Disebutkan juga bahwa seorang raja muda bernama Sri Dadelanatha, dinobatkan dengan gelar Dewa Meraja di bagian barat Sumbawa. Namun, klaim ini dianggap cukup "anakronis" karena menurut sumber-sumber Jawa (Negarakretagama) dan Bali (Piagam Dukuh Gamongan), disebutkan bahwa Raja Selaparang di Sumbawa, Sri Dadelanatha, meninggal pada tahun 1344 setelah dibunuh oleh Patih Kerajaan Bali (Bedahulu), Ki Pasung Grigis. Pada tahun 1630, wilayah ini juga dikatakan masih menjadi bagian dari wilayah Kerajaan Selaparang, sementara catatan pelayaran Dirck Schouten menyatakan bahwa Lombok dan Sumbawa masih berada di bawah kekuasaan Kerajaan Bali, sedangkan Bima berada di bawah kendali Makassar. Kemudian dilanjutkan oleh generasi berikutnya, yaitu sekitar tanggal 30 November 1648, putra mahkota Selaparang bernama Pangeran Pemayaman bergelar Pemban Aji Komala, dilantik di Sumbawa bagian barat sebagai penguasa Selaparang yang mengklaim memerintah seluruh wilayah Lombok dan Sumbawa bagian barat.[10]
Masa kemunduran
Sejak akhir abad ke-16, Kerajaan Selaparang dikatakan berada di bawah kendali Kerajaan Gelgel. Barulah pada tahun 1667 hingga 1686, setelah perang internal Bali, Kerajaan Selaparang memperoleh kemerdekaannya, tetapi kemerdekaan ini tidak berlangsung lama, sebuah kekuatan baru dari Bali juga telah muncul.[11] Cikal bakal kekuatan tersebut telah ada sejak awal abad ke-15 dengan kedatangan imigran petani dari Karangasem secara bergelombang, dan kemudian mendirikan sebuah koloni di wilayah Kota Mataram saat ini. Kekuatan ini kemudian secara bertahap tumbuh dan berkembang hingga menjadi kerajaan kecil etnis Bali, yaitu Kerajaan Pagutan dan Pagesangan yang didirikan sekitar tahun 1692. Kerajaan-kerajaan tersebut didirikan setelah Kerajaan Karangasem berhasil menaklukkan Pulau Lombok bersama Arya Banjar Getas.[9]
Namun, bahaya yang dianggap sebagai ancaman utama bagi Selaparang dan akan terus muncul secara tiba-tiba adalah kekuatan asing, yaitu Belanda, yang tentu saja dapat sewaktu-waktu melakukan ekspansi militer ke Lombok, tetapi sebelumnya VOC, melalui pasukan pribuminya, telah membantu Selaparang dalam pemberontakan melawan Gelgel, tetapi pemberontakan itu digagalkan di sisi lain, para pedagang Belanda sudah sibuk di Lombok Timur dan Bima. Namun, perdagangan ini bersifat rahasia, ada kemungkinan Selaparang memiliki hubungan perdagangan yang kuat dengan VOC. Oleh karena itu, sebelum kerajaan yang didirikan di ibu kota kekuasaannya di bagian barat didirikan, hanya diantisipasi dengan menempatkan pasukan kecil di bawah kepemimpinan Patinglaga Deneq Wirabangsa.[9]
Dalam upaya untuk mengatasi masalah baru yang muncul dari bagian barat, yaitu Kerajaan Mataram (bawahan Karangasem), tiba-tiba, salah satu tokoh penting di lingkungan kerajaan pusat bernama Arya Banjar Getas dicurigai memiliki perselisihan dengan rajanya, Raja Selaparang, mengenai posisi pasti perbatasan antara Kerajaan Selaparang dan Kerajaan Pejanggik. Sumber lain menyebutkan bahwa kekecewaan Arya Banjar Getas terhadap Raja Selaparang disebabkan karena raja tersebut telah melakukan hubungan seksual dengan istri Arya Banjar Getas selama penguasannya sebagai mata-mata atas kondisi politik di Bali yang baru saja mengalami perang internal akibat pecahnya Kerajaan Gelgel. Inilah yang menyebabkan Arya Banjar Getas dan para pengikutnya memutuskan untuk meninggalkan Selaparang dan bergabung dengan ekspedisi militer Kerajaan Mataram yang pada saat itu telah berhasil mendarat di Lombok Barat. Kemudian, dengan segala taktiknya, Arya Banjar Getas membuat rencana bersama Kerajaan Mataram untuk bersama-sama menyerang Kerajaan Selaparang. Pada akhirnya, ekspedisi militer tersebut berhasil menaklukkan Kerajaan Selaparang. Peristiwa ini terjadi sekitar tahun 1692.
Sejak keberhasilan ekspedisi militer melawan Kerajaan Selaparang, Kerajaan Karangasem, melalui bawahannya, Kerajaan Mataram, telah menjadi penguasa bagian barat Lombok, serta beberapa wilayah timur dan tengah Lombok di bawah kekuasaan Arya Banjar Getas sebagai pengikut Karangasem. Sementara itu, ibu kota Selaparang kemudian diturunkan statusnya menjadi desa dan sekarang dikenal sebagai desa Selaparang. Setelah beberapa dekade terjadi perang saudara antara Dinasti Karangasem di Lombok antara Mataram dan Singasari pada tahun 1838–1839, Kerajaan Mataram muncul sebagai pemenang dan kemudian, sebagai penguasa Lombok Barat, juga mengambil alih wilayah bawahannya di Lombok Timur dan sebagai penguasa tunggal mereka menyebut diri mereka Kerajaan Selaparang di arena politik Nusantara, yang secara harfiah berarti Kerajaan Lombok (masyarakat Bali pada waktu itu menyebut Pulau Lombok sebagai Selaparang), sehingga Kerajaan Selaparang diketahui mempunyai 3 zaman, yaitu Selaparang Hindu, Selaparang Islam, dan Selaparang Karangasem (Bali).[12][13][14]