Keracunan fluorida adalah kondisi patologis yang muncul akibat tingginya konsentrasi ion fluorida di dalam tubuh manusia. Fluorida, dalam bentuk senyawa tertentu, memiliki manfaat bagi kesehatan gigi pada kadar rendah, karena dapat membantu proses remineralisasi enamel gigi dan mencegah karies.[1] Namun konsumsi kronis dari jumlah besar garam fluorida larut seperti natrium fluorida (NaF), dapat menimbulkan efek toksik. Dosis mematikan natrium fluorida bagi manusia dewasa diperkirakan berada pada kisaran 5 hingga 10 gram, setara dengan 32 hingga 64 mg fluorida elemental per kilogram berat badan.[2][3][4] Konsumsi fluorida pada dosis yang jauh lebih rendah, sekitar 0,2–0,3 mg/kg, dapat menyebabkan gangguan saluran pencernaan seperti mual, muntah, dan diare.[5]
Sumber keracunan fluorida yang paling umum berasal dari air tanah yang secara alami mengandung kadar fluorida tinggi, terutama di wilayah dengan formasi batuan granit yang kaya mineral fluorida. Konsumsi jangka panjang air dengan kandungan fluorida berlebih dapat mengganggu proses pembentukan tulang, menyebabkan kondisi yang dikenal sebagai fluorosis skeletik, serta memengaruhi struktur dan kekuatan tulang.[6]
Batas aman yang direkomendasikan
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan kadar fluorida dalam air minum antara 0,5 hingga 1,0 mg/L, tergantung pada kondisi iklim, untuk memastikan kesehatan gigi yang optimal sekaligus mengurangi risiko fluorosis gigi.[7]Departemen Kesehatan dan Layanan Masyarakat Amerika Serikat menetapkan batas maksimum 0,7 mg fluorida per liter air, menggantikan rekomendasi sebelumnya sebesar 0,7 hingga 1,2 mg yang diterbitkan pada 1962. Penetapan kadar ini bertujuan untuk mengurangi kejadian fluorosis gigi sekaligus mempertahankan program fluoridasi air.[8]
Toksisitas
Kronis
Toksisitas kronis terjadi akibat konsumsi fluorida dalam jangka panjang, biasanya melalui air minum yang mengandung fluorida tinggi secara alami. Di India, diperkirakan sekitar 60 juta orang mengalami keracunan kronis akibat air sumur yang terkontaminasi fluorida. Efek kronis terlihat pada deformitas tulang dan gangguan pertumbuhan tulang pada anak-anak. Masalah serupa atau lebih besar diperkirakan terjadi di negara lain, termasuk Tiongkok, Uzbekistan, dan Ethiopia.[6]
Akut
Secara historis, sebagian besar kasus toksisitas fluorida akut terjadi akibat konsumsi tidak sengaja pestisida atau rodentisida berbasis natrium fluorida.[9] Saat ini di negara maju, sebagian besar kasus paparan fluorida berasal dari produk fluorida untuk perawatan gigi.[10] Sumber lain meliputi agen etsa kaca atau pembersih krom seperti amonium bifluorida atau asam hidrofluorat,[11][12] paparan industri terhadap fluks yang digunakan untuk meningkatkan aliran logam cair di permukaan padat, material vulkanik (misalnya pada ternak yang merumput setelah letusan Hekla tahun 1845–1846 dan letusan basalt Laki tahun 1783–1784), serta pembersih logam. Malafungsi peralatan fluoridasi air juga pernah terjadi beberapa kali, termasuk insiden yang signifikan di Alaska.[5]
Referensi
↑"CDC Scientific Statement on Community Water Fluoridation". January 23, 2024. Diakses tanggal 2024-05-20. The safety and benefits of fluoride are well documented and have been reviewed comprehensively by several scientific and public health organizations...community water fluoridation is a safe and effective way to promote good oral health and prevent decay.
↑WHO Expert Committee on Oral Health Status and Fluoride Use (1994). Fluorides and oral health(PDF). WHO technical report series 846. Geneva: World Health Organization. ISBN92-4-120846-5. Diarsipkan(PDF) dari versi aslinya tanggal 2015-02-17. Diakses tanggal 2013-09-01.