Nestapa (bahasa Inggris:anguishcode: en is deprecated dari bahasa Latinangustia "kesengsaraan") adalah "ketidakbahagiaan ekstrem yang disebabkan oleh penderitaan fisik atau mental."[1] Perasaan nestapa ini biasanya didahului oleh suatu tragedi atau peristiwa yang memiliki makna mendalam bagi makhluk yang bersangkutan. Nestapa dapat dirasakan secara fisik maupun mental (sering disebut sebagai tekanan emosional).
Nestapa juga merupakan istilah yang digunakan dalam filsafat, sering kali sebagai sinonim untuk angst. Ini adalah ciri utama dari filsafat eksistensialis, yang mana nestapa sering dipahami sebagai pengalaman dari makhluk yang sepenuhnya bebas di dunia tanpa nilai mutlak (keputusasaan eksistensial). Dalam teologi Søren Kierkegaard, istilah ini merujuk pada makhluk dengan kehendak bebas penuh yang berada dalam kondisi ketakutan spiritual secara terus-menerus saat menghadapi kebebasan mereka yang tidak terbatas.
Nestapa terdiri dari rasa takut, kesengsaraan, kecemasan, dan kepanikan. Faktor-faktor stres ini menyebabkan disonansi yang sangat besar, yang kemudian dapat memicu masalah kesehatan mental. Meskipun secara harfiah nestapa dapat didefinisikan sebagai peristiwa fisik, istilah ini dapat diekstrapolasikan pada peristiwa psikis seseorang. Ditemukan bahwa nestapa akibat perubahan signifikan dalam cara hidup seorang mahasiswa muda (seperti tanggung jawab baru mereka, hidup mandiri, tenggat waktu yang menumpuk, dll.) telah berkontribusi secara signifikan terhadap peningkatan tingkat kecemasan dan depresi di kalangan mahasiswa.[2]
Filsafat
Kierkegaard memandang nestapa sama dengan penderitaan. Semua orang ingin menemukan "kebenaran", tetapi dibutuhkan nestapa dan penderitaan untuk "menjiwai" kebenaran tersebut. Kierkegaard menyatakannya seperti ini pada tahun 1847 dan 1850.
Semua pengetahuan yang bersekutu dengan rasa ingin tahu, kehausan akan pengetahuan, bakat alami, hasrat mementingkan diri sendiri—semua pengetahuan yang segera dipahami oleh manusia kodrati sebagai hal yang layak dipelajari—pada dasarnya dan secara esensial juga mudah dipelajari, dan bakat terlibat di sini dari awal hingga akhir. Oleh karena itu, orang-orang cukup bersedia untuk belajar ketika ini adalah masalah belajar lebih banyak, tetapi ketika ini adalah masalah belajar kembali melalui penderitaan, maka belajar menjadi keras dan berat; saat itulah bakat tidak membantu, tetapi di sisi lain tidak ada seorang pun yang dikecualikan meskipun dia sangat kekurangan bakat. Manusia yang paling rendah, paling sederhana, paling ditinggalkan, seseorang yang dilepaskan oleh semua guru tetapi sama sekali tidak dilepaskan oleh surga—dia dapat mempelajari ketaatan sepenuhnya sama baiknya dengan orang lain.
—Søren Kierkegaard, Upbuilding Discourses in Various Spirits, 1847, terjemahan Hong, hlm. 252–253
Apakah “kebenaran” adalah jenis hal yang kiranya dapat dijiwai begitu saja melalui orang lain? Begitu saja—artinya tanpa bersedia dikembangkan dan diuji, berjuang dan menderita, sama seperti yang dilakukan oleh dia yang memperoleh kebenaran itu untuk dirinya sendiri? Bukankah hal itu sama mustahilnya dengan tidur atau bermimpi untuk masuk ke dalam kebenaran? Bukankah sama mustahilnya untuk menjiwainya begitu saja betapa pun terjaganya seseorang? Atau apakah seseorang benar-benar terjaga, bukankah ini hanya keangkuhan belaka, ketika ia tidak memahami atau tidak mau memahami bahwa sehubungan dengan kebenaran tidak ada jalan pintas yang meniadakan keharusan untuk memperolehnya, dan sehubungan dengan memperolehnya dari generasi ke generasi tidak ada jalan pintas yang esensial, sehingga setiap generasi dan setiap individu dalam generasi tersebut secara esensial harus mulai lagi dari awal?
—Søren Kierkegaard, Training in Christianity, 1850, hlm. 181–182; terjemahan Lowrie 1941, 2004
Friedrich Nietzsche melihat bentuk nestapa baru yang muncul dari terkikisnya kemutlakan moral akibat sekularisasi, sehingga menghasilkan apa yang secara ironis ia sebut sebagai “Keuntungan zaman kita: tidak ada yang benar, semuanya diizinkan”.[3]
Jean-Paul Sartre melihat nestapa sebagai produk dari kebebasan eksistensial manusia, yang rentan memanifestasikan dirinya kapan pun keputusan harus dibuat:[4] dengan demikian, saat berjalan di sepanjang tebing, Anda mungkin merasakan nestapa ketika mengetahui bahwa Anda memiliki kebebasan untuk menjatuhkan diri menuju kematian yang sudah di depan mata.[5] Sartre juga melihat rutinitas kehidupan sehari-hari berfungsi sebagai “pegangan tangga” melawan keputusasaan eksistensial:[6] “pagar pembatas terhadap nestapa”: jam weker...papan penunjuk jalan, formulir pajak, polisi’.[7]
Nestapa dan dilema trem
Sebuah studi yang dilakukan di Pusat Studi Otak, Pikiran, dan Perilaku Universitas Princeton menunjukkan bahwa keberadaan emosi tersebut memengaruhi keputusan yang diambil. Studi tersebut menggunakan mesin pencitraan resonansi magnetik fungsional untuk mengukur gelombang otak subjek saat ditempatkan dalam posisi yang sulit. Dalam sesi khusus ini, subjek dihadapkan pada situasi di mana ia harus memutuskan nasib lima orang versus satu orang dengan menekan sakelar, lalu memutuskan nasib lima orang versus satu orang melalui tindakan fisik yang menjatuhkan hukuman mati kepada seseorang. Hasil fMRI menyatakan bahwa keputusan kematian melalui sakelar lebih mudah daripada keputusan mendorong seseorang secara fisik menuju kematiannya. Diteorikan bahwa partisipan mengalami emosi nestapa ketika dihadapkan pada kemungkinan masa depan untuk menghukum orang lain secara fisik, sehingga otak memberlakukan “hambatan emosional” untuk mendorong penghentian perilaku ini.[8]
Musik
Musik memiliki cara tersendiri untuk membangkitkan emosi para pendengarnya. Saat mendengar lagu, simfoni, atau soneta yang dipenuhi nestapa, seseorang mungkin mulai merenungkan kehidupan dan pengalaman mereka sendiri yang selaras dengan nada-nada tersebut, sehingga membawa ingatan yang tertekan dari alam bawah sadar ke dalam pikiran sadar kita.[9]
↑S Atkinson ed., The Philosophy Book (London 2011) p. 195
↑G Gutting ed., The Cambridge Companion to Foucault (Cambridge 2003) p. 328 and p. 345
↑J Reynolds, Understanding Existentialism (Bucks 2006) p. 72
↑Breuer, H. (2004). Anguish and Ethics. Scientific American Special Edition, 14(1), 10–11.
↑Elliott, D. J. (2005). Musical Understanding, Musical Works, and Emotional Expression: Implications for education. Educational Philosophy & Theory, 37(1), 93–103.