Klenteng Ban Hing Kiong (Tionghoa: 萬興宮; pinyin: Wàn xìng gōng) adalah kelenteng tertua di Manado yang didirikan pada tahun 1819, kemudian pada tahun 1839 dibangun rumah abu (Kong Tek Su). Pada awal berdirinya kelenteng ini terbuat dari rumah diselingi bambu yang sederhana.
Ban Hing Kiong terdiri dari tiga kata, ban (萬) berarti 10.000 atau banyak, hing (興) berarti kelimpahan, dan kiong (宮) yang artinya istana.
Klenteng Ban Hing Kiong merupakan salah satu tempat ibadah umat Tridharma yang memiliki nilai sejarah dan spiritual yang tinggi. Klenteng ini dikenal sebagai tempat pemujaan kepada Yang Suci Thian Siang Seng Bo (Tionghoa: 天上圣母; pinyin: Tiān Shàng Shèng Mǔ ), sosok Dewi Laut yang sangat dihormati dalam tradisi Tionghoa.
Berada di Jalan Panjaitan, Kelurahan Calaca, Kecamatan Wenang, Kota Manado, Sulawesi Utara. Bangunan dengan warna merah mencolok dengan arsitektur China, Dikenal sebagai Kelenteng Ban Hing Kiong[1].
Sejarah
Kelenteng ini mulai dikelola secara organisatoris sejak tahun 1935 melalui suatu organisasi perkumpulan Sam Khauw Hwee yang didirikan atas usaha dan inisiatif dua orang tokoh yakni Yo Sio Sien dan Que Boen Tjen.
Pada tanggal 14 Maret 1970, kelenteng ini pernah dibakar oleh beberapa orang. Atas inisiatif Nyong Loho (Soei Swie Goan) yang kemudian menjabat rangkap sebagai ketua pembangunan dan ketua kelenteng Ban Hing Kiong, mulailah pembangunan renovasi kelenteng. Sampai kini, kelenteng ini telah beberapa kali mengalami renovasi bangunan, baik penambahan lantai menjadi tiga lantai maupun peluasan ruangan halaman.[2]