Kecerdasan manusia adalah kemampuan intelektual manusia, yang ditandai oleh prestasi kognitif yang kompleks serta tingkat motivasi dan kesadaran diri yang tinggi. Dengan kecerdasannya, manusia mampu belajar, membentuk konsep, memahami, serta menerapkan logika dan penalaran. Kecerdasan manusia juga dianggap mencakup kemampuan untuk mengenali pola, merencanakan, berinovasi, memecahkan masalah, mengambil keputusan, menyimpan informasi, dan menggunakan bahasa untuk berkomunikasi.[1]
Terdapat gagasan yang berbeda mengenai bagaimana kecerdasan seharusnya dikonseptualisasikan dan diukur. Dalam psikometri, kecerdasan manusia umumnya dinilai melalui tes intelligence quotient (IQ), meskipun validitas tes tersebut masih diperdebatkan. Beberapa subkategori kecerdasan, seperti kecerdasan emosional dan kecerdasan sosial, telah diusulkan, dan masih terdapat perdebatan signifikan mengenai apakah hal-hal tersebut merupakan bentuk kecerdasan yang berbeda.[1]
Selain itu, terdapat perdebatan mengenai bagaimana tingkat kecerdasan seseorang terbentuk, mulai dari gagasan bahwa kecerdasan bersifat tetap sejak lahir hingga gagasan bahwa kecerdasan bersifat lentur dan dapat berubah tergantung pada pola pikir dan upaya seseorang.[1]
Gambaran umum
Sebagai konstruksi dan sebagaimana diukur melalui tes kecerdasan, kecerdasan merupakan salah satu konsep paling berguna dalam psikologi karena berkorelasi dengan banyak variabel yang relevan, misalnya kemungkinan mengalami kecelakaan atau besaran gaji seseorang. Beberapa korelasi penting meliputi:
Pendidikan: Menurut sebuah meta-studi tahun 2018 mengenai pengaruh pendidikan terhadap kecerdasan, pendidikan tampaknya menjadi “metode yang paling konsisten, kuat, dan tahan lama” yang diketahui untuk meningkatkan kecerdasan.[2]
Kepribadian: Analisis meta yang mensintesis ribuan studi dari lebih 50 negara menunjukkan bahwa banyak sifat kepribadian terkait erat dengan kemampuan kognitif. Sifat-sifat yang berhubungan dengan neurotisisme menunjukkan korelasi negatif, sedangkan sifat-sifat seperti aktivitas, ketekunan, welas asih, dan keterbukaan berkorelasi positif dengan berbagai kemampuan.[3]
Miopia: Beberapa penelitian menunjukkan adanya korelasi antara IQ dan miopia. Sebagian pihak menyarankan korelasi ini bersifat lingkungan, seperti orang dengan IQ lebih tinggi lebih mungkin merusak penglihatan akibat membaca berkepanjangan, atau orang yang lebih banyak membaca lebih mungkin mencapai IQ lebih tinggi; pihak lain berpendapat bahwa terdapat hubungan genetik.[4]
Penuaan: Terdapat bukti bahwa penuaan menyebabkan penurunan fungsi kognitif. Dalam satu studi potong lintang, berbagai fungsi kognitif menurun sekitar 0,8 skor-z dari usia 20 hingga 50 tahun, termasuk kecepatan pemrosesan, memori kerja, dan memori jangka panjang.[5]
Gen: Beberapa polimorfisme nukleotida tunggal pada DNA manusia berkorelasi dengan skor IQ yang lebih tinggi.[6]
Secara keseluruhan, kecerdasan manusia adalah konstruksi kompleks yang mencakup interaksi faktor biologis, psikologis, pendidikan, sosial, dan lingkungan, yang menjadikannya salah satu fokus utama penelitian dalam psikologi dan ilmu kognitif.