Kebun manusia, yang juga dikenal sebagai pameran etnologi, merupakan sebuah praktik kolonial yang memamerkan manusia di depan umum, biasanya dalam kondisi yang disebut sebagai keadaan "alami" atau "primitif".[3] Praktik ini sangat menonjol selama abad ke-19 dan ke-20.[3] Tampilan-tampilan ini sering kali menekankan anggapan rendahnya budaya subjek yang dipamerkan, serta menyiratkan keunggulan "masyarakat Barat" melalui kiasan yang menggambarkan kelompok marjinal sebagai kaum "biadab".[4][5] Pameran tersebut kemudian berkembang menjadi pertunjukan mandiri yang menegaskan inferioritas subjek pameran terhadap budaya Barat dan memberikan justifikasi lebih lanjut atas penaklukan mereka.[6] Tampilan serupa muncul di berbagai eksibisi kolonial serta dalam pameran sementara di kebun binatang.[7]
Etimologi
Istilah "kebun manusia" pada umumnya tidak digunakan oleh orang-orang yang hidup sezaman dengan pertunjukan tersebut, dan dipopulerkan oleh peneliti asal Prancis, Pascal Blanchard. Istilah ini telah dikritik karena dianggap menafikan agensi dari para penampil non-Eropa dalam pertunjukan tersebut.[8]
Menurut Sandra Koutsoukos, istilah "kebun binatang manusia" kemungkinan besar dicetuskan oleh sejarawan dan antropolog Prancis dan pertama kali muncul dalam publikasi tahun 2002. Istilah ini banyak digunakan dalam dunia akademik untuk mengkritik ketidakmanusiawian dan rasisme dari acara-acara yang memamerkan orang-orang dari budaya yang dianggap "eksotis" atau "biadab".[9]
↑Love, Robertus (May 1904). "Filipino School at World's Fair". The School News and Practical Educator. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 October 2021. Diakses tanggal 3 March 2020.
↑Hilke Thode-Arora (22 Dec 2021). Demski, Dagnosław; Czarnecka, Dominika (ed.). Staged Otherness: Ethnic Shows in Central and Eastern Europe, 1850–1939. Central European University Press. hlm.45–75. ISBN9789633866887.
Nicolas Bancel, Pascal Blanchard, Gilles Boëtsch, Eric Deroo, Sandrine Lemaire Zoos humains. De la Vénus hottentote aux reality shows, edition La Découverte (2002) 480 pages (Prancis) - French presentation of the book here ISBN 2-7071-4401-0
"On A Neglected Aspect Of Western Racism", by Kurt Jonassohn, December 2000 (Jonassohn is known for his book with Frank Chalk, The history and sociology of genocide: analyses and case studies, 1990, Yale University Press; New Haven) (Inggris)
Qureshi, Sadiah (2004), 'Displaying Sara Baartman, the 'Hottentot Venus', History of Science 42:233-257. Available online at Science History Publications.