Kebon Pasinaon Living Museum adalah museum hidup pertama yang berada di Dusun Glagah, Desa Sirahan, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.[1] Museum ini digagas dan didirikan pada 24 Agustus 2024 oleh Ida Fitri dan dikelola oleh Gian Giarta seorang pegiat kebudayaan dari Jawa Barat.[2]
Museum ini mengajak para pengunjungnya untuk belajar tentang kehidupan, lingkungan hidup, bercocok tanam, kesenian kuda lumping, ketoprak dan membuat jamu tradisional. Selain itu juga ada pertunjukan Kuda lumping dan perpustakaan. Pengujung juga dapat belajar menulis dan membaca geguritan atau puisi dalam bahasa Jawa. Seluruh aktivitas dan kehidupan di sekitar Kebon Pasinaon juga turut menjadi bagian dari museum hidup.
Museum hidup
Sebagai museum hidup, Kebon Pasinaon Living Museum tidak menyuguhkan artefak statis. Namun, pengunjung dapat melihat elemen sejarah, budaya, dan kehidupan sehari-hari dalam versi dinamis, nyata, dengan metode partisipatif-interaktif.
Pawon atau dapur yang berdinding anyaman bambu. Di sana ada tungku dari tanah liat. Di atas tungku terpasang kuali atau belanga dari bahan gerabah. Di atas perapian dipasang para-para untuk meletakkan kayu bakar untuk memasak. Kayu bakar yang diambil dari ranting dan dahan pohon memang sengaja ditaruh di atas perapian. Selain karena alasan praktis pengambilan, panas dari perapian itu juga akan mengeringkan kayu sehingga mudah digunakan sebagai bahan bakar. Di pawon juga tampak peralatan dapur dari anyaman bambu, seperti tampah, dan tenggok. Dari dapur itu pengunjung dapat menghayati, betapa warga desa hidup dekat dengan alam. Mereka memanfaatkan apa yang tersedia di alam: kayu, bambu, yang semuanya ramah lingkungan. Alam memberi warga desa apa yang mereka butuhkan, dan warga desa pun merawat lingkungan yang menghidupi mereka.
Kebon Tanduran, pengunjung diajak menumbuk padi menggunakan lumpang kayu dan alat penumbuk yang disebut alu. Adapun di Kebon Empon-empon, tangan-tangan kita juga diajak merasakan pengalaman menggiling bahan pembuat jamu yang ditempatkan di atas telenan batu. Alat penumbuk yang disebut gandik juga terbuat dari batu berbentuk silinder. Dan lidah kita diminta mencecap rasa jamu, seperti misalnya beras kencur. Lewat cara tersebut, kita diajak masuk ke dalam kehidupan masa lalu, menengok tradisi yang mungkin telah terlupakan, terlindas modernitas.
Permainan anak-anak desa di seksi Kebon Dakon. Di sana ada pertunjukan kuda lumping, permainan egrang bambu, egrang batok, dan kuda-kudaan dari pelepah daun pisang. Bukan sekadar tontonan, pengunjung diajak bermain egrang bambu, dan egrang batok, dan kuda lumping tersebut. Motorik kasar dan halus mereka diajak ikut terlibat. Pengunjung anak-anak, dan remaja yang hidup di era ponsel mendapat pengalaman bermain seperti anak-anak di perdesaaan. Mereka dirangsang untuk menghubungkan konteks masa lalu dengan kehidupan sekarang. Lewat bermain egrang, misalnya, pengunjung tidak sekadar belajar menyeimbangkan badan. Jika ditekuni, dihayati secara intensif, dari bermain egrang orang dapat belajar untuk menyeimbangkan diri dengan kehidupan di sekitarnya. Dalam hal ini, Living Museum ini sangat membantu proses pembelajaran, dengan cara yang menyenangkan. Di Kebon Pasinaon Living Museum, objek-objek itu tidak membeku di ruang masa lalu. Ia hadir dengan segala otentisitasnya, untuk menyapa manusia hari ini, agar mereka dapat dengan bijak menatap dan menata masa depan.[2]
Program Pemberdayaan Masyarakat
Desa Sirahan berada di Kecamatan Salam, Magelang – Jawa Tengah, lokasinya berada di sebelah utara wilayah Yogyakarta. Penduduk Sirahan sebagian besar berprofesi sebagai petani di bidang Pertanian, Perkebunan, Peternakan, dan Perikanan. Program pemberdayaan masyarakat ini bekerjasama dengan Taman Belajar Masyarakat (TBM) “Kebon Pasinaon” Desa Sirahan Salam Magelang. Program ini mengangkat topik pemberdayaan masyarakat melalui literasi kearifan lokal dan penerapan budidaya lebah klanceng dan hasil produksinya dalam rangka mendukung kelestarian alam dan penguatan ketahan pangan. Serangkaian kegiatan program pemberdayaan masyarakat ini telah dilaksanakan yaitu:
1. Literasi kelestarian alam dan kearifan lokal melalui budidaya lebah klanceng dan produknya yang bernilai ekonomis (madu, bee-polen dan propolis);
2. Pelatihan budidaya lebah stingless (meliponiculture) dan pemanenan produk. Inovasi eko-edukasi program ini masih diperlukan untuk memperkuat keberlangsungan pemberdayaan masyarakat memalui TBM “Kebon Pasinaon” sebagai wadah komunitas pembelajar masyarakat desa guna mendukung SDGs.[3]
Forum taman baca masyarakat
TBM Ibnu Hajar (Kebon Pasinaon) Kabupaten Magelang menjadi tuan rumah pertemuan literasi nasional. TBM Ibnu Hajar menggagas Kebon Pasinaon yang dikenal sebagai Living Museum pertama di Indonesia. TBM yang digagas oleh ibu Ida Fitri ini memberikan edukasi budaya Jawa pada anak-anak sekolah dan pengunjung Taman Baca/Living Museum.[4]