Kebakaran hutan dan lahan Kabupaten Barito Kuala 2022 merupakan rangkaian peristiwa kebakaran hutan dan lahan di tengah musim kemarau panjang yang melanda Kalimantan Selatan tahun 2022. Kebakaran ini terutama menimpa lahan gambut dan semak belukar di beberapa kecamatan di Kabupaten Barito Kuala. Titik api muncul secara bertahap sejak Agustus, tetapi tidak sampai menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan bangunan. Tim pemadam gabungan berhasil mengatasinya dalam hitungan hari, meskipun ancaman karhutla tetap mengintai wilayah tersebut.[1]
Kronologi Kejadian
Daerah Barito Kuala memang rawan kebakaran lahan karena banyaknya hamparan gambut yang mudah kering saat curah hujan minim di tahun 2022. Di tahun tersebut, cuaca kering berkepanjangan membuat permukaan tanah gambut menjadi rapuh. Sebagian besar kebakaran bermula dari lahan kosong atau bekas ladang yang ditinggalkan, sering kali dipicu oleh puntung rokok atau pembakaran sisa tanaman yang tidak terkendali. Skalanya memang tidak sebesar kejadian di provinsi tetangga, tapi tetap menjadi perhatian serius bagi pemerintah kabupaten.[2]
Titik api pertama yang cukup besar tercatat pada 21 Agustus 2022, menghanguskan sekitar dua hektare semak di salah satu desa. Petugas BPBD setempat bersama Manggala Agni langsung turun ke lokasi. Mereka memadamkan api dengan peralatan seadanya, seperti pompa punggung dan selang air dari sungai terdekat. Asap sempat mengganggu jalan kabupaten, tapi tidak sampai mengganggu penerbangan atau aktivitas pelabuhan. Dalam beberapa hari, semua titik api yang terdeteksi satelit berhasil dipadamkan.[1]
Koordinasi antara BPBD kabupaten, TNI, Polri, dan relawan berjalan cukup cepat. Patroli darat diperbanyak, terutama di kawasan yang sulit dijangkau kendaraan. Pemerintah setempat juga mengimbau warga agar tidak membakar lahan sembarangan. Meski tidak ada warga yang harus mengungsi, kejadian ini menjadi pengingat bahwa gambut yang sudah terbakar sekali akan lebih mudah menyala lagi di musim berikutnya.[2]
Kebakaran kali ini tidak sampai mengganggu kesehatan warga secara luas. Hanya sedikit keluhan batuk ringan akibat asap. Vegetasi yang terbakar kebanyakan semak dan rumput ilalang, sehingga kerusakan ekologis masih bisa pulih dalam waktu satu-dua tahun.[2]