Kawasan Industri Morowali Indonesia (bahasa Inggris:Indonesia Morowali Industrial Parkcode: en is deprecated , IMIP) adalah kawasan industri yang terutama menampung industri-industri terkait nikel di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, Indonesia. IMIP merupakan situs pengolahan nikel terbesar di Indonesia yang merupakan produsen nikel terbesar di dunia.[1] IMIP terdiri dari dua klaster utama berdasarkan bijih nikel: klaster baja tahan karat dan klaster bahan baterai kendaraan listrik (EV). Selain itu, terdapat kluster baja karbon berdasarkan bijih besi. Kawasan ini juga dilengkapi dengan beberapa kluster pendukung, termasuk produksi aluminium dan pengolahan kokas.
Kawasan ini mempekerjakan sekitar 85.000 pekerja. Kawasan ini telah dikaitkan dengan polusi lingkungan yang signifikan dan gangguan terhadap komunitas sekitar. Laporan dari pekerja dan organisasi advokasi menyoroti kondisi kerja yang buruk, dengan kasus-kasus kecelakaan industri yang tercatat menyebabkan cedera dan kematian.
Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia. Nikel digunakan untuk memproduksi baja tahan karat dan baterai ion litium yang digunakan dalam kendaraan listrik. Negara ini melarang ekspor bijih nikel yang belum diolah sekitar tahun 2014.
Pada tahun 2022, Indonesia memproduksi 1,6 juta ton nikel.[2] Ini hampir setengah dari produksi dunia.
Dilaporkan terdapat 50 perusahaan dalam tahap produksi, konstruksi, dan perencanaan di IMIP dengan total investasi USD 34,3 miliar pada Desember 2024.[6] Estimasi kapasitas total kawasan untuk produksi baja tahan karat adalah 3 juta metrik ton per tahun pada tahun 2020.[7] Pada tahun 2019, IMIP memiliki rencana untuk mengembangkan pabrik baterai kendaraan listrik.[8] Kawasan ini menghasilkan USD 6,6 miliar ekspor untuk Indonesia pada tahun 2019.[4]
Sejarah
Sejak tahun 1968 Morowali telah menjadi lokasi operasi penambangan nikel yang dimiliki oleh Inco, yang kemudian diakuisisi oleh Vale.[9]
Batu pertama untuk pembangunan kawasan industri ditempatkan oleh Menteri Perindustrian Saleh Husin pada 5 Desember 2014.[13] Perusahaan-perusahaan mulai beroperasi mulai April 2015, dengan Presiden Joko Widodo meresmikan smelter pada 28 Mei 2015.[14][15]
Pada September 2018, perusahaan baterai Tiongkok GEM Co Ltd, Contemporary Amperex Technology Ltd (CATL), pembuat baja tahan karat Tsingshan Holding Group, rumah dagang Jepang Hanwa, dan PT Bintangdelapan Group dari Indonesia bersama-sama berinvestasi $700 juta dalam proyek IMIP untuk memproduksi bahan kimia nikel grade baterai. Usaha patungan ini berencana untuk membangun kapasitas smelting nikel minimal 50.000 ton per tahun dan 4.000 ton smelting kobalt per tahun.[16]
Pada tahun 2021 Tsingshan menjadi produsen nikel terbesar Indonesia.[17]
Pada 24 Desember 2023, terjadi kebakaran besar di smelter nikel milik Tsingshan di dalam fasilitas tersebut, menewaskan 21 orang.[19] Sebagai respons, setidaknya 25 perusahaan penyewa di dalam kawasan telah mengambil sertifikasi SMK3 (Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja), sebagaimana diamanatkan oleh pemerintah Indonesia, untuk memperkuat standar keselamatan kerja dan mencegah insiden serupa di masa depan.[20]
Per tahun 2025, IMIP berisi tidak kurang dari 11 smelter berbagai logam dan kepemilikan.[21]
Dampak
Lokal
Pemerintah kabupaten Morowali melaporkan peningkatan pendapatan pemerintah daerah dari Rp 180 miliar pada tahun 2018 menjadi Rp 600 miliar pada tahun 2022, di mana 80 persen diatributkan kepada IMIP.[22] Di atas kertas, PDB per kapita Kabupaten Morowali menjadi yang tertinggi di Indonesia sebesar 927,2 juta (~USD 60.000) pada tahun 2023.[23]
Tenaga kerja
Terdapat sekitar 100.000 karyawan yang bekerja di IMIP pada akhir tahun 2024, di mana sekitar 15.000 adalah pekerja asing, dan tambahan 27.000 pekerjaan tidak langsung diperkirakan terkait dengan kawasan industri tersebut.[3]