Karsinoma sel skuamosa (bahasa Inggris: Squamous cell carcinoma, SCC atau SqCC) merupakan salah satu jenis kanker kulit selain kanker sel basal dan melanoma.[3] Kanker ini biasanya tampak seperti bengkak besar, tetapi juga dapat membentuk borok.[4] Serangan kanker ini biasanya berlangsung selama berbulan-bulan.[5] Kanker kulit sel skuamosa lebih dapat menyebar ke wilayah sekitar daripada kanker sel basal.[6]
Faktor risiko terbesar adalah paparan terhadap radiasi ultraviolet dari Matahari.[7] Faktor risiko lain adalah bekas luka dari sebelumnya, luka kronis, keratosis asitinik, kulit yang lebih terang, penyakit Bowen, terpapar arsen, fungsi sistem kekebalan yang buruk, karsinoma sel basal dari sebelumnya, dan infeksi HPV.[7][8][9] Alat untuk berjemur di dalam ruang juga menjadi sumber radiasi ultraviolet di negara-negara Barat.[9] Kanker ini berasal dari sel skuamosa di dalam kulit manusia.[10] Diagnosis biasanya didasarkan pada pemeriksaan kulit dan dikonfirmasi oleh biopsi jaringan.[7][11]
Metode efektif untuk mencegah kanker sel skuamosa adalah mengurangi radiasi ultraviolet dan penggunaan tabir surya.[12][13] Kanker ini biasanya dikeluarkan dengan melakukan operasi.[7] Operasi dapat dilakukan lewat pemotongan sederhana jika sel kankernya kecil, tetapi jika tidak operasi Mohs perlu dilakukan.[7] Pilihan lain adalah kriosurgeri dan terapi radiasi.[14] Jika penyakit telah menyebar, kemoterapi juga dapat dilakukan.[14]
Pada tahun 2015, terdapat sekitar 2,2 juta pengidap kanker sel skuamosa[1] atau sekitar 20% kasus kanker.[15] Sekitar 12% laki-laki dan 7% wanita di Amerika Serikat pernah mengidap kanker ini.[7] Prognosisnya biasanya baik, tetapi jika menyebar, tingkat kelangsungan hidup selama lima tahun berkisar pada angka 34%.[5][12] Pada tahun 2015, penyakit ini mengakibatkan 51.900 kematian di seluruh dunia.[2] Mereka yang didiagnosis biasanya berumur 66 tahun.[5] Setelah berhasil ditangani, terdapat kemungkinan besar bahwa kanker ini akan kembali muncul pada pengidapnya.[7]
↑Cakir, BÖ; Adamson, P; Cingi, C (November 2012). "Epidemiology and economic burden of nonmelanoma skin cancer". Facial plastic surgery clinics of North America. 20 (4): 419–22. doi:10.1016/j.fsc.2012.07.004. PMID23084294.
1234567Gandhi, SA; Kampp, J (November 2015). "Skin Cancer Epidemiology, Detection, and Management". The Medical clinics of North America. 99 (6): 1323–35. PMID26476255.
↑"Skin Cancer Treatment". National Cancer Institute (dalam bahasa Inggris). 21 June 2017. Diarsipkan dari asli tanggal 4 July 2017. Diakses tanggal 2 July 2017.
↑Jou, PC; Feldman, RJ; Tomecki, KJ (June 2012). "UV protection and sunscreens: what to tell patients". Cleveland Clinic journal of medicine. 79 (6): 427–36. doi:10.3949/ccjm.79a.11110. PMID22660875.
12"Skin Cancer Treatment". National Cancer Institute (dalam bahasa Inggris). 21 June 2017. Diarsipkan dari asli tanggal 4 July 2017. Diakses tanggal 2 July 2017.
↑Stratigos, A; Garbe, C; Lebbe, C; Malvehy, J; del Marmol, V; Pehamberger, H; Peris, K; Becker, JC; Zalaudek, I; Saiag, P; Middleton, MR; Bastholt, L; Testori, A; Grob, JJ; European Dermatology Forum, (EDF).; European Association of Dermato-Oncology, (EADO).; European Organization for Research and Treatment of Cancer, (EORTC). (September 2015). "Diagnosis and treatment of invasive squamous cell carcinoma of the skin: European consensus-based interdisciplinary guideline". European Journal of Cancer. 51 (14): 1989–2007. PMID26219687.