Duta Besar untuk Istana Wina dan Kaisar Romawi Suci, Raja Hongaria
Karl XIV Johan, terlahir dengan nama Jean-Baptiste Bernadotte (26 Januari 1763–8 Maret 1844) adalah Raja Swedia dan Norwegia (dikenal dengan sebutan Karl III Johan) mulai tahun 1818 hingga meninggal.
Karena lahir di Prancis, Bernadotte tercatat lama berkarier di militer Prancis. Ia dinobatkan oleh Napoleon Bonaparte menjadi Marsekal Prancis, meskipun hubungan keduanya tidak bersahabat. Karier militernya di Prancis berhenti pada tahun 1810, ketika ia dicopot dari jabatannya oleh Napoleon di tengah-tengah Pertempuran Wagram, kemudian ia menerima tawaran dari Swedia untuk menjadi pangeran dan memihak koalisi untuk memusuhi Napoleon hingga berakhirnya perang.
Penawaran menjadi putra mahkota Swedia
Pada 1810, Bernadotte akan bekerja sebagai Gubernur Roma di mana secara tidak terduga ia ditawarkan untuk menjadi putra mahkota kepada Karl XIII dari Swedia.[1] Masalah penerus Charles sudah akut hampir sejak ia naik takhta setahun sebelumnya. Ia berusia 61 tahun dan kesehatannya buruk. Ia juga tidak memiliki anak; Ratu Charlotte telah melahirkan dua anak yang meninggal saat masih bayi, dan tidak ada prospek baginya untuk memiliki anak lagi. Tak lama setelah penobatannya, raja mengadopsi seorang pangeran Denmark, Charles August, yang meninggal hanya beberapa bulan setelah kedatangannya.[2] Walaupun Napoleon menginginkan Frederik VI dari Denmark untuk menjadi penerus Karl XIII, Pangeran Frederick Christian awalnya menerima dukungan kuat.[3]
Situasi politik secara internal dan eksternal membuat opsi untuk melantik seorang warga asing menjadi atraktif. Swedia menginginkan raja berikutnya yang bisa membina hubungan dengan Napoleon untuk alasan militer dan pada awalnya ingin mencoba mencari calon kuat yang bisa merayu dukungan Napoleon. Awalnya, Swedia meminta sang Kaisar beberapa opini untuk calon pangeran mahkota Swedia dan Napoleon dengan tegas meminta agar mereka melantik putra tirinya Eugène de Beauharnais atau salah satu dari kerabatnya. Swedia tidak begitu menerima Eugene dengan baik. Baron Lagerbielke, utusan Swedia di Paris, melapor ke Stockholm menilai bahwa Eugene "lembut dan baik," "tetapi ia tampaknya bukan orang yang berkarakter kuat; dan, meskipun ia memiliki banyak kesempatan, ia tampaknya tidak mengembangkan bakat-bakat istimewa." Selain itu, Eugène, yang menjabat sebagai raja muda di Italia, tidak ingin memeluk agama Lutheranisme, sebuah prasyarat untuk menerima tawaran Swedia. Terlebih lagi, tidak ada saudara Napoleon yang tertarik pergi ke Swedia, dan keponakan-keponakannya masih terlalu muda, karena Swedia tidak menginginkan risiko pemerintahan minoritas jika Raja Karl meninggal dunia sebelum waktunya.[4] Masalah ini diputuskan oleh seorang bangsawan Swedia yang kurang dikenal, Baron Karl Otto Mörner (keponakan Count Gustav Mörner, komandan pasukan Swedia yang ditangkap Bernadotte di Lübeck), yang, atas inisiatifnya sendiri, menawarkan suksesi takhta Swedia kepada Bernadotte. Bernadotte menyampaikan tawaran Mörner kepada Napoleon, yang awalnya menganggap situasi tersebut absurd, tetapi kemudian menerima gagasan tersebut dan, meskipun bersikap acuh tak acuh di depan umum, diam-diam memberikan dukungan finansial dan diplomatik kepada pencalonan Bernadotte.[5]
Meskipun pemerintah Swedia, yang terkejut dengan keangkuhan Mörner, segera menahannya sekembalinya ke Swedia, pencalonan Bernadotte secara bertahap mendapat dukungan dan pada tanggal 21 Agustus 1810[1] ia dipilih oleh Riksdag di Örebro untuk menjadi putra mahkota,[1] dan kemudian dipilih sebagai GeneralissimoAngkatan Bersenjata Swedia oleh Karl XIII dari Swedia.[6][7] Beberapa faktor mendukung percalonan Bernadotte. Walaupun ia merupakan orang asing yang dinilai problematik, ia diuntungkan oleh situasi geopolitik pada saat itu. Mereka mengira bahwa Bernadotte adalah orang kepercayaan Napoleon[8] dan memilliki akses untuk dukungan militer olehnya karena saat itu Swedia berniat untuk menguasai Finlandia kembali dari Rusia. Karl XIII tidak seperti Gustav IV Adolf dari Swedia yang membenci Napoleon. Selain itu, militer Swedia dengan antisipasi perang dengan Rusia meminta pangeran mahkota untuk menjadi panglima mereka, meminta raja untuk mengadopsi seorang jenderal. Bernadotte juga dikenal bijak, saat di Lübeck ia memperlakukan tawanan perang Swedia dengan kebaikan dan juga seorang Gubernur yang handal di Liga Hansa dari 1807 sampai 1809, berdasarkan keterangan dari para pedagang Swedia yang beroperasi pada masa itu.[9] Akhirnya, Bernadotte bersedia untuk mengganti agamanya ke Gereja Lutheran karena faktor sejarah, menyatakan bahwa Henri IV dari Prancis mengonversi agama demi kebaikan negara dengan siapa dia merasa ada hubungan kekerabatan karena keduanya berasal dari Pau, atau menobatkan putranya Oscar (meskipun istrinya Désirée tidak pernah meninggalkan Katolik).[4]
Paling terakhir, Bernadotte meminta izin kepada Napoleon. Sebelum membebaskan Bernadotte dari kesetiaannya kepada Prancis, Napoleon memintanya untuk setuju tidak pernah mengangkat senjata melawan Prancis. Bernadotte menolak membuat perjanjian semacam itu, dengan alasan bahwa kewajibannya kepada Swedia tidak mengizinkannya; Napoleon berseru, "Pergilah, dan biarkan takdir kita tercapai," dan menandatangani akta emansipasi tanpa syarat.[10] Banyak pula yang optimis bahwa Swedia akan memulihkan Finlandia di bawah Karl Johan.[3] Putra mahkota Swedia bahkan gagal mencari dukungan Napoleon untuk membantu Swedia menaklukkan Norwegia.[3]
Pada 2 November 1810, secara serius Bernadotte masuk ke Stockholm dan pada 5 November, ia menerima penghormatan dari Riksdag dan diadopsi oleh Karl XIII dari Swedia dibawah nama Karl Johan.[1] Ia juga mengganti agamanya dari Katolik Roma menjadi Lutheran.[11]
"Saya telah menyaksikan perang di ambang pintu, dan saya tahu segala keburukannya: karena bukan penaklukan yang dapat menghibur suatu negara atas darah anak-anaknya yang tertumpah di negeri asing. Saya telah menyaksikan Kaisar Prancis yang perkasa, yang begitu sering dimahkotai mahkota kemenangan, dikelilingi pasukannya yang tak terkalahkan, mendesah di balik ranting zaitun perdamaian. Ya, Tuan-tuan, perdamaian adalah satu-satunya tujuan mulia dari pemerintahan yang bijaksana dan tercerahkan: bukan luasnya negara yang menentukan kekuatan dan kemerdekaannya; melainkan hukumnya, perdagangannya, industrinya, dan yang terpenting, semangat nasionalnya."
Pidato Karl Johan kepada Riksdag, 5 November 1810.[12]
Pangeran mahkota baru tersebut menjadi orang yang paling populer di Swedia dan dengan cepat memukau ayah angkatnya. Setelah melakukan pertemuan untuk pertama kalinya dengan putra angkatnya, Karl XIII yang awalnya menolak percalonan Bernadotte berkata kepada ajudannya, Charles de Suremain, "Sayangku Suremain, saya telah berjudi secara berat, dan saya percaya bahwa lagipula saya akan menang".[13] Bernadotte juga membuat Ratu Charlotte menyukainya yang kemudian menyebutnya sebagai "seorang pria sejati dalam setiap arti kata" dan memperkenalkan Bernadotte ke lingkaran bangsawan Swedia, berteman khususnya dengan keluarga Brahe melalui kesayangannya Magnus Brahe dan countess Aurora Wilhelmina Brahe, yang sepupunya Mariana Koskull menjadi kekasihnya.[13]
Pada 1812, Karl Johan menyekutukan Swedia dengan musuh tradisional mereka, Kekaisaran Rusia, melalui Perjanjian Sankt-Peterburg dan kemudian berdamai dengan Britania Raya yang secara teknis berperang melawan Swedia. Diplomasi Karl Johan secara pribadi mejembatani Rusia dan Britania dan ketiga bangsa kemudian berdamai melalui Perjanjian Örebro, di mana Britania secara teknis menghentikan perang dengan Rusia dan Swedia dan ketiga negara membentuk Koalisi Keenam melawan Napoleon Bonaparte. Di perjanjian tersebut, Swedia harus memberikan sebanyak 25,000 tentara di wilayah benua Eropa untuk melawan Prancis dan membebaskan Pomerania Swedia. Sebagai gantinya, Rusia dan Britania akan mengakui Norwegia sebagai bagian dari Swedia dan akan membantu melawan Denmark, sekutu Prancis. Karl Johan menjadi orang terpenting di koalisi ini dengan mencari sekutu baru. Pada musim semi dan gugur 1812, Karl Johan bernegosiasi dengan Junta Pusat Spanyol melawan kakak iparnya Joseph Bonaparte yang didukung Prancis sebagai Raja Spanyol. Walaupun Napoleon memaksa Raja Prusia Friedrich Wilhelm III dari Prusia untuk memutuskan hubungan dengan Swedia, Karl Johan masih berkorespondensi dengan sang raja dan membujuknya untuk membatalkan aliansi militer Prusia-Prancis yang dipaksakan dan bergabung dengan koalisi. Setelah Konvensi Tauroggen yang memecahkan aliansi tersebut, Friedrich Wilhelm menandatangani Perjanjian Kalisz dengan Rusia dan kemudian sebuah perjanjian damai terpisah dari Swedia. Friedrich Wilhelm menyatakan bahwa ia akan mendukung klaim Swedia terhadap Norwegia dan sebaliknya Karl Johan menyatakan bahwa Pomerania Swedia akan diberikan ke Prusia, membuat Prusia bergabung ke koalisi pada musim semi 1813.[14][15]
Karl Johan kemudian berhasil menangkal serangan Prancis dekat Berlin dan kemudian menang melawan mantan koleganya Nicolas Oudinot pada bulan Agustus dan kemudian Michel Ney pada bulan September di Pertempuran Großbeeren dan Dennewitz. Bernadotte kemudian menghalau Louis-Nicolas Davout yang saat itu berada di Hamburg sementara pasukan Koalisi mengikuti rencana Trachenberg mulai menyerang Napoleon di Leipzig. Dengan pasukan Koalisi melawan pada 17 Oktober, pasukan Bernadotte pada akhirnya mengarungi Elbe dan ikut di Pertempuran Leipzig pada 19 Oktober sebagai bala bantuan segar melawan pasukan Prancis. Dalam momen yang sangat penting dalam pertempuran, pasukan Kerajaan Sachsen memberontak melawan Napoleon setelah terpukau mendengarkan surat proklamasi oleh Bernadotte memohon pasukan Sachsen untuk berjuang kembali bersama komandan mereka.[17] Pasukan Utara kemudian melakukan coup de grâce melawan pasukan Prancis yang sudah hancur dan Bernadotte menjadi penguasa negara pertama yang masuk ke Leipzig.[18]