Kardiomiopati hipertrofi adalah suatu kondisi yang terjadi ketika salah satu bagian dari jantung menebal tanpa sebab yang jelas.[8] Akibatnya, jantung tidak dapat memompa darah secara efektif.[2] Gejala-gejala yang dapat muncul adalah rasa lelah, kaki yang membengkak, dan kesulitan bernapas.[1] Kondisi ini juga dapat mengakibatkan rasa sakit di dada atau pingsan.[1] Komplikasi yang dapat terjadi adalah gagal jantung, detak jantung yang tidak biasa, dan kematian mendadak.[2][3]
Kardiomiopati hipertrofi dapat ditangani dengan menggunakan beta blockers, diuretik, atau disopiramida.[6] Penggunaan implantable cardiac defibrillator disarankan untuk mereka dengan beberapa jenis detak jantung yang tidak biasa.[6] Operasi dalam bentuk miektomi septal atau transplantasi jantung dapat dilakukan untuk mereka yang tak kunjung pulih dengan cara yang lain.[6] Jika ditangani dengan baik, risiko kematian dari penyakit ini lebih rendah dari satu persen dalam setahun.[7]
Penyakit ini menyerang sekitar 1 dari 500 orang.[8] Kemungkinan kemunculan pada laki-laki dan perempuan kurang lebih sama.[8] Semua kelompok usia dapat terserang penyakit ini.[8]
Kardiomiopati hipertrofi pertama kali dideskripsikan oleh Donald Teare pada tahun 1958.[9][10]
12345678Gersh BJ, Maron BJ, Bonow RO, etal. (December 2011). "2011 ACCF/AHA guideline for the diagnosis and treatment of hypertrophic cardiomyopathy: executive summary". J. Thorac. Cardiovasc. Surg. 142 (6): 1303–38. doi:10.1016/j.jtcvs.2011.10.019. PMID22093712.
12Maron, BJ; Ommen, SR; Semsarian, C; Spirito, P; Olivotto, I; Maron, MS (8 July 2014). "Hypertrophic cardiomyopathy: present and future, with translation into contemporary cardiovascular medicine". Journal of the American College of Cardiology. 64 (1): 83–99. doi:10.1016/j.jacc.2014.05.003. PMID24998133.