Pada tahun 1861, dua biarawati dari Kompleks Biara Ursulin di Jalan Juanda berinisiatif untuk membuka biara keduanya di Postweg atau Jalan Pos (saat ini merupakan bagian dari Kompleks Persekolahan Santa Ursula). Tujuan pembukaan biara tersebut ialah untuk mampu lebih banyak menampung anak-anak yatim piatu Yayasan Vincentius (yang kini berpusat di Gereja Hati Kudus - Paroki Kramat). Biara dan rumah ini kemudian sempat terbakar pada 1871 serta baru dapat dibangun kembali pasca kebakaran sekitar 14 tahun kemudian di tahun 1886. Pembangunan ulang itu kemudian memperluas kompleks biara tersebut. Semakin banyaknya biarawati yang berkarya, serta semakin banyak pula anak-anak yang diasuh di panti tersebut, para suster kemudian merasa perlu adanya sebuah kapel tersendiri yang mampu melayani kebutuhan spiritual biara tersebut. Pastor paroki Katedral Jakarta saat itu, Romo Antonius Dijkmans kemudian mengambil langkah inisiatif untuk membangun kapel di kompleks biara tersebut. Romo Dijkmans, yang juga pernah mengikuti kursus arsitektur di Prancis, kemudian merancang sebuah kapel bergaya Neo-Gotik khas Prancis yang kala itu diminati banyak arsitek gerejawi di Eropa. Pada 1888, kapel ini dirancang dan mulai dibangun.[2]
Kapel Hati Kudus Yesus terletak di kompleks persekolahan KB-SMA Santa Ursula di Pasar Baru, berdekatan dengan Kompleks Katedral Jakarta. Kapel ini memiliki bentuk triangular dengan sebuah Salib pada bagian atas fasad. Adapun fasad kapel ini menghadap ke jalan utama dan kompleks persekolahan. Secara denah, kapel ini berbentuk persegi dan memiliki ciri khas arsitektur bergaya Gotik yang dibawa pada era kolonial.
Fasad Kapel pada Mei 2025
Fasad Kapel pada Oktober 2025
Keseluruhan kompleks pada Oktober 2025
Pada tampak samping kapel, dapat terlihat serangkaian jendela kaca patri yang menggambarkan para Santo dan Santa serta peristiwa-peristiwa Alkitabiah.
Tampak samping kapel pada Oktober 2025
Tampak samping depan kapel pada Juni 2025
Interior
Kapel berbentuk triangular ini dihiasi ragam dekorasi gaya khas Arsitektur Gotik peninggalan kolonial Belanda. Gaya arsitektur Gotik dan Neo-Gotik saat ini digemari oleh para arsitek yang merancang gereja. Pada bagian dalam kapel terdapat panti umat yang cukup luas dan mampu menampung setidaknya hingga 250 orang. Di sisi kanan dan kiri panti umat, terdapat panti paduan suara. Pada bagian depan terdapat panti imam dan sebuah Altar sederhana.
Interior dan panti umat
Altar dan panti imam
Altar
Panti paduan suara
Setiap pilar di interior kapel dihiasi oleh lukisan dekoratif dari corak alam. Di panti imam, terdapat patung rohani dari Santo Yosef dan Bunda Maria menggendong Kanak-kanak Yesus. Di belakang, bagian atas salib di panti imam, terdapat lima panel jendela kaca patri yang menggambarkan kisah-kisah Perjanjian Baru, utamanya dari kelahiran hingga kebangkitan Yesus. Di bagian sisi kapel juga terdapat banyak panel jendela kaca patri dekoratif serta panel perhentian Jalan Salib.
Di atas panti imam, terdapat tulisan Cor Jesu Abundat et Superabundat Omnibus Bonis In Quo Latent Omnis Beatitudinis Thesauri, sebuah kalimat Bahasa Latin yang berarti Hati (Kudus) Yesus melimpah dan melimpah-ruahlah dengan segala kebaikan, tempat tersembunyi segala harta kebahagiaan.
Bubungan atap interior kapel bergaya khas Neo-Gotik dan disusun dari panel-panel kayu. Pada bagian fasad terdapat sebuah pintu berhias dekorasi Neo-Gotik. Di bagian luar, di atas pintu, dibangun kanopi tambahan sebagai penghubung ke bangunan utama sekolah di bagian depan kapel.