Kanjeng Pangeran Harya Tjakraningrat (sering dieja Cakraningrat atau Cokroningrat) adalah seorang aristokrat, cendekiawan, dan budayawan Jawa yang dikenal luas sebagai penyusun utama (kompilator) seri kitab primbon Jawa paling otoritatif, yakni Kitab Primbon Betaljemur Adammakna.[1]
Melalui dedikasinya dalam bidang filologi dan penanggalan tradisional, K.P.H. Tjakraningrat berjasa besar dalam menyelamatkan, merangkum, dan mendokumentasikan algoritma perhitungan kosmis (petung) peninggalan para leluhur yang sebelumnya hanya tersimpan di dalam perpustakaan keraton dan bersifat sangat tertutup (esoteris).
Penyusunan Primbon Betaljemur
Sebelum era K.P.H. Tjakraningrat, ilmu perhitungan hari raya, kecocokan pasangan, dan hari baik pernikahan tersebar dalam berbagai naskah kuno (serat) kuno yang sulit dipahami oleh masyarakat awam.
Atas izin dan inisiatif untuk melestarikan kebudayaan Jawa, K.P.H. Tjakraningrat menghimpun ratusan bab mengenai ilmu perbintangan tradisional (astrologi Jawa), tafsir mimpi, hingga sistem neptu kalender Jawa ke dalam satu buku yang sistematis.[2] Karya babon (master) ini kemudian diberi nama Betaljemur Adammakna dan pertama kali dicetak secara masal untuk umum agar masyarakat memiliki pedoman (cekelan) standar dalam mengarungi siklus daur hidup.
Kitab ini tidak berdiri sendiri, melainkan diikuti oleh beberapa jilid pelengkap lainnya (seperti Lukmanakim Adammakna dan Atassadhur Adammakna), yang seluruhnya merupakan satu kesatuan (arsitektur informasi) dari mahakarya K.P.H. Tjakraningrat.
Pengaruh dalam Budaya Salaki Rabi
Warisan paling nyata dari karya K.P.H. Tjakraningrat adalah pembakuan algoritma matematika tradisional yang mengatur institusi pranata keluarga dan Pernikahan adat Jawa (Salaki Rabi).
Hampir seluruh tetua adat dan masyarakat Jawa di era modern masih menggunakan rumus-rumus yang dibukukan oleh K.P.H. Tjakraningrat sebagai basis operasional untuk:
Petungan Jodho: Menghitung probabilitas keharmonisan (kompatibilitas) calon suami istri berdasarkan nilai pembagian gabungan weton.
Petung Salaki Rabi: Mencari dan menentukan dinten sae (hari baik) atau menghindari hari naas (seperti Taliwangke) untuk melaksanakan akad nikah maupun resepsi (panggih).
Ruwatan dan Sengkala: Mitigasi spiritual untuk menolak bala sebelum melaksanakan hajat besar.