Desa ini dinamai Mentiri, pohon yang tidak dikenal dan tidak biasa. Pohon itu mungkin juga memiliki sifat magis untuk nama tempat di Brunei. Menurut legenda, Kampung Mentiri mendapatkan namanya dari pohon besar dan kuno. Para tetua desa mengklaim bahwa ukuran batangnya begitu besar sehingga membutuhkan enam orang dewasa untuk berpegangan tangan untuk meraihnya. Pohon ini istimewa dan dikabarkan memiliki kemampuan magis. Meskipun demikian, harus diakui bahwa tidak seorang pun dapat memberi nama pohon ini sekarang. Anggota masyarakat yang lebih tua mengklaim bahwa pohon itu dulunya terletak di mana bundaran saat ini berada.[6]
Desa ini pernah berganti nama beberapa kali. Kampung Mentiri juga dikenal dengan nama Kampung Pancur Buluh, Kampung Batu Buluh, Kampung Kiau, dan Kampung Sungai Sinonok.[6]
Berdasarkan sensus tahun 2016, jumlah penduduk desa ini adalah 1.215 jiwa dengan 56% laki-laki dan 44% perempuan. Seluruh penduduk tinggal di daerah perkotaan.[8]
Mayoritas penduduk awal desa ini adalah orang Kedayan. Meskipun demikian, seperti desa-desa lain di Brunei, komunitas ini kini menampung penduduk dari berbagai ras sebagai hasil dari keterbukaannya terhadap dunia luar.[9]
Infrastruktur
Masjid
Masjid Kampung Mentiri adalah masjiddesa, diresmikan pada tanggal 27 Januari 1984 dan mampu menampung 600 jamaah.[10]