Kalitidu adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Bojonegoro. Kalitidu memiliki lokasi yang strategis karena dilintasi jalan nasional yang menghubungkan ibu kota kabupaten dengan Padangan, dan berlanjut hingga Jawa Tengah dan Ngawi.[1] Pusat kecamatan ini berada di jalur tersebut dan terdapat pasar yang ramai bernama Pasar Kalitidu, masjid besar, hingga rumah sakit swasta.[2] Kalitidu bagian utara dibatasi oleh Sungai Bengawan Solo dan terdapat jembatan penghubung menuju Malo, sedangkan ke arah selatan terdapat jalur menuju Ngasem.[3] Pada tahun 2011, 6 desa di Kalitidu bergabung dengan 6 desa dari Ngasem untuk membentuk kecamatan baru bernama Gayam yang merupakan kecamatan termuda di Bojonegoro.[4] Beberapa obyek wisata terkenal di Kalitidu di antaranya Agrowisata Kebun Belimbing Ngringinrejo, Petilasan Angling Dharma, dan Museum 13.[5][6]
Geografi
Peta kecamatan di Bojonegoro
Kalitidu adalah kecamatan yang terletak di Kabupaten Bojonegoro bagian tengah. Wilayahnya berada di selatan Bengawan Solo dan memanjang dari timur ke barat mengikuti jalan nasional. Geografinya berupa dataran rendah yang didominasi oleh areal persawahan. Nama Kalitidu diambil dari salah satu sungai yaitu Sungai Tidu atau Kali Tidu yang melintas dari selatan, melewati Kecamatan Ngasem, dan berakhir di Bengawan Solo di utara. Kalitidu memiliki potensi migas sebagai bagian dari Blok Cepu dengan adanya Lapangan Minyak Kedung Keris di Desa Sukoharjo yang pengeborannya masih dalam tahap awal di tahun 2025.[7]
Batas wilayah Kecamatan Kalitidu adalah sebagai berikut:[8]
Kecamatan Kalitidu pernah mengalami beberapa kali pemekaran wilayah. Pada tahun 1992, Desa Sumbangtimun bergabung dengan desa-desa dari Kecamatan Bojonegoro dan Kecamatan Malo untuk membentuk kecamatan baru bernama Trucuk. Hal ini karena Desa Sumbangtimun merupakan satu-satunya di Kalitidu yang wilayahnya berada di utara Bengawan Solo.[9] Kalitidu mengalami pengurangan wilayah yang signifikan pada tahun 2011. 6 desa di bagian barat, terdiri dari Desa Katur, Cengungklung, Manukan, Sudu, Ngraho, dan Beged bergabung dengan 6 desa dari Kecamatan Ngasem untuk membentuk Kecamatan Gayam. Pemekaran ini disahkan berdasarkan Perda Kabupaten Bojonegoro Nomor 22 tahun 2011.[4]
Museum 13 - ruangan di SDN Panjunan II yang menyimpan berbagai fosil dan artefak penting di Bojonegoro. Museum ini diprakarsai oleh para guru di sekolah tersebut.[10]