Kalipuro adalah kecamatan yang terletak di bagian utara Kabupaten Banyuwangi. Wilayahnya memanjang dari kawasan Pantai Watudodol di utara hingga perbatasan ibu kota Banyuwangi di selatan. Pusat keramaian Kalipuro berada di timur kecamatan dekat pesisir yang terdapat Pelabuhan Ketapang dan berbatasan dengan Kota Banyuwangi. Namun, sebagian besar wilayah Kalipuro memiliki geografi berupa perbukitan terutama di kawasan Bukit Watu Dodol dan bagian barat Kalipuro di lereng Ijen.
Kampung Petak 5 yang terisolir di tengah perkebunan
Bagian barat Kalipuro di lereng Ijen terdapat banyak areal perkebunan seperti Kebun Kaliselogiri dan Kebun Kaliklatak. Sebagian perkebunan dikelola oleh BUMN seperti PTPN XII dan ada juga yang dikelola pihak swasta seperti PT Kaliklatak. Komoditas utama di perkebunan tersebut diantaranya karet, kopi, dan lainnya. Di tengah-tengah perkebunan tersebut terdapat kampung terpencil yang dihuni oleh pekerja kebun seperti Kampung Petak 1 dan Petak 5. Beberapa kampung tersebut sangat terisolir sehingga kekurangan infrastruktur dasar seperti listrik.[3]
Selain perkebunan besar, di lereng Ijen juga terdapat kawasan kebun rakyat yang luas dan dikelola oleh masyarakat setempat. Salah satu kampung di Kalipuro yaitu Gombengsari dikenal sebagai kampung kopi. Masyarakat Gombengsari secara keseluruhan memiliki sekitar 800 hektar kebun kopi rakyat yang juga ditanami kelapa.[4][5] Desa produktif lainnya di lereng Ijen adalah Telemung yang warganya menanam kelapa / aren untuk diambil nira-nya, yang kemudian diolah menjadi gula semut organik. Masyarakat Telemung juga beternak kambing etawa untuk diambil susunya.[6]
Batas wilayah Kecamatan Kalipuro adalah sebagai berikut:[7]
↑Bulusan merupakan pemekaran dari Kelurahan Klatak pada tahun 1999.[8]
↑Gombengsari merupakan pemekaran dari Kelurahan Kalipuro pada tahun 1999.[9]
↑Bulusari merupakan pemekaran dari Desa Pesucen, awalnya berstatus desa persiapan pada tahun 1998.[10]
↑Telemung merupakan pemekaran dari Desa Kelir, awalnya berstatus desa persiapan pada tahun 1998.[11]
Sejarah
Rumah administrator Kebun Kali Klattak (1925)
Banyuwangi sejak zaman kolonial Belanda sudah banyak berdiri kawasan perkebunan, salah satunya adalah Perkebunan Kaliklatak di Kecamatan Kalipuro. Perkebunan Kaliklatak mengembangkan komoditas karet dan kopi di lereng Gunung Ijen. Pada awalnya, Kaliklatak dikelola oleh perusahaan swasta Belanda bernama N.V. Maatschappij Moorman & Co. Kemudian pasca kemerdekaan, perusahaan ini dinasionalisasi dan jatuh ke tangan R. Soehoed Prawiroatmodjo pada tahun 1957.[12]
Kalipuro merupakan pemekaran dari Kecamatan Giri berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 37 tahun 1995. Pada saat baru dimekarkan, Kalipuro mencakup 5 desa saja yaitu Desa Kalipuro, Klatak, Ketapang, Pesucen, dan Kelir. Beberapa tahun kemudian, Kalipuro berkembang menjadi 9 kelurahan/desa dengan bertambahnya Desa Bulusari, Telemung, Gombengsari, dan Bulusan. Bulusari dimekarkan dari Pesucen, Telemung dimekarkan dari Kelir, Gombengsari dimekarkan dari Kalipuro, dan Bulusan dimekarkan dari Klatak.[1]
Galeri
Pohon karet di Kali Klattak
Kampung Besaran di Kali Klattak
Tanaman karet dan kopi di Kali Klattak
Sebuah bangunan di Kampung Sebani, Kali Klattak
Rumah pegawai di Kampung Besaran, Kali Klattak
Bangunan di kebun Kali Klattak
Rumah pekerja pribumi di Kali Klattak
Rumah mandor di Kali Klattak
Rumah pekerja di Kampung Tetelan, Kali Klattak
Perbaikan rumah administrator Besaran, Kali Klattak
Kecamatan Kalipuro memiliki 2 stasiun kereta api yang masih aktif yaitu Stasiun Ketapang dan Stasiun Argopuro. Stasiun Ketapang sendiri merupakan stasiun kereta api paling timur di Pulau Jawa dan merupakan perubahan nama dari Stasiun Banyuwangi Baru. Stasiun Ketapang merupakan stasiun terujung bagi berbagai rute kereta, misalnya Wijayakusuma (Cilacap-Ketapang), Sri Tanjung (Lempuyangan-Ketapang), dan Logawa (Purwokerto-Ketapang).[15] Sedangkan Stasiun Argopuro adalah stasiun kecil yang tidak lagi melayani naik turun penumpang sejak tahun 2021. Namun untuk sementara waktu pada tahun 2025, stasiun ini diaktifkan kembali akibat penutupan jalan nasional di kawasan Gumitir.[16] Selain stasiun, infrastruktur penting lainnya di Kalipuro adalah Terminal Sritanjung (Ketapang) yang merupakan terminal bus terbesar di Banyuwangi, bahkan lebih besar dari Terminal Brawijaya (Karangente) di pusat kota. Terminal Sritanjung melayani moda transportasi antar kota dan antar provinsi.[17]
Tempat terkenal
Patung Gandrung di Pantai WatudodolPemandangan di Pelabuhan KetapangDermaga Cinta