Debit air dari Kali Kening merupakan salah satu kontributor utama yang memengaruhi luapan Bengawan Solo di wilayah hilirnya.[3]
Kali Kening dikenal karena sering meluap pada musim penghujan. Luapan ini secara rutin menyebabkan banjir yang berdampak luas pada wilayah di sekitarnya, terutama di Kecamatan Parengan (Kabupaten Tuban).[4][5]
Hidrologi dan penyebab banjir
Menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban, DAS Kali Kening merupakan salah satu dari tiga DAS utama di Tuban dengan potensi banjir bandang yang tinggi. Hal ini dipengaruhi oleh morfologi DAS berbentuk kipas aluvial (alluvial fan), yaitu lebar di hulu dan menyempit drastis di hilir.[6] Tingginya intensitas hujan di wilayah hulu—yang mencakup Kabupaten Rembang (Jawa Tengah) dan beberapa kecamatan di Tuban (Jawa Timur)—menjadi pemicu utama peningkatan volume air.[2][7][8]
Faktor lain yang memperparah adalah kerusakan, sedimentasi (pendangkalan), dan penyempitan alur. Sejak 2009, Balai Pengelolaan DAS Bengawan Solo mencatat Kali Kening sebagai salah satu anak sungai yang kondisinya rusak.[9]
Budaya dan tradisi
Selain fungsi irigasi, Kali Kening menjadi pusat kegiatan budaya warga. Pada puncak musim kemarau, saat debit sungai menyusut, warga menggelar tradisi Munggut, yakni mencari ikan beramai-ramai di dasar sungai yang mengering. Tradisi ini juga berfungsi sebagai ajang rekreasi dan silaturahmi tahunan, misalnya di Desa Pacing, Kecamatan Parengan.[10]
Dampak banjir dan erosi
Luapan Kali Kening menimbulkan dampak sosial-ekonomi signifikan. Kecamatan di sepanjang alirannya, seperti Parengan, Soko, dan Rengel, termasuk kategori risiko tinggi menurut Kajian Risiko Bencana Kabupaten Tuban 2022–2026.[11] Dampak meliputi rumah terendam, sawah gagal panen, infrastruktur rusak, hingga korban jiwa.[12][13][14]
Peristiwa banjir tercatat
Februari 2009: banjir bandang memutus jalur Jatirogo–Bojonegoro.[15]
Februari 2018: banjir terbesar, merendam 13 desa di Parengan, Soko, dan Rengel.[16]
Februari 2023: banjir merendam 9 desa dengan 925 rumah dan 510 ha sawah.[8][17]
Desember 2024: banjir besar merendam 11 desa di Parengan.[18]
Upaya penanganan
Pemerintah Kabupaten Tuban mengusulkan normalisasi sungai melalui koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo. Upaya ini dilengkapi perbaikan ekosistem hulu seperti reboisasi dan sumur resapan.[19][20]