Kalangkang mantit adalah ritual yang dilakukan oleh suku Dayak Meratus yang menjadi prosesi pembuka pada aruh adat, aruh ganal, maupun aruh kecil. Ritual ini digelar agar ritual aruh ganal yang akan dilaksanakan berlangsung tanpa hambatan yang memiliki makna mambuka lawang atau membuka pintu atas kegiatan yang dilakukan akan dilakukan.[1] Ritual ini sudah masuk Warisan Budaya Tak Benda 2024 yang didaftarkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tapin. Kata kalangkang adalah sebutan untuk jenis keranjang dan mantit merupakan nama burung yang dikenal dari legenda Dayak Meratus.
Prosesi Kalangkang Mantit
Aruh ganal ialah upacara syukuran besar atau kenduri besar-besaran yang diadakan masyarakat adat Dayak Meratus setelah masa panen berakhir. Ritual ini dilaksanakan setiap tahun. Kalangkang mantit adalah ritual pembuka aruh ini berupa prosesi memanjatkan doa atau bemamang yang dipimpin oleh balian didampingi pinjulang.
Pembuatan Kalangkang
Kalangkang mantit dimulai dengan pembuatan tempat singgah yang disebut kalangkang. Kalangkang ini diberi sesajen yang khusus untuk burung mantit. Persimbolan burung mantit mempunyai makna bahwa ia sebagai raja dari segala jenis burung, berperan sebagai pelindung agar usaha-usaha yang dijalankan manusia tidak menemui hambatan dan kesukaran. Selain itu, supaya dihindarkan dari gangguan segala jenis burung yang dapat merusak tanaman manusia. Ritual ini juga dilakukan untuk membuang hal-hal negatif, sekaligus juga bertujuan untuk memanggil atau mengundang roh-roh leluhur untuk tidak mengganggu prosesi ritual aruh yang akan dilaksanakan setelahnya.
Kalangkang mantit dihiasi dengan daun enau muda yang berasal dari hutan sekitar dan dipasangi kain kuning di bagian atasnya sebagai penutup. Bagian bawah diletakkan dupa dan bakul tumbo yang diisi dengan sesajen. Sesajen terdiri dari lamang baruas, nasi babuluh (bambu), dan sebagainya.
Lokasi Ritual
Ritual ini dilaksanakan di luar balai adat, tepatnya di depan pintu masuk ke dalam balai adat sebelah utara. Ritual ini dipimpin empat hingga enam orang.
Ketika bemamang, balian berada pada keadaan tidak sadar namun tidak sepenuhnya kehilangan kendali. Untuk membantu para balian ialah tugas pinjulang agar dapat mengingatkan tujuan mamangan yang dilontarkan sesuai dan dapat selesai tanpa hambatan.[2]
Makna Burung Mantit
Menurut kepercayaan masyarakat Dayak Meratus, pada masa sebelum dunia dan langit diciptakan dibangun pohon bercabang tiga yang merupakan tiang soko guru, disebut dengan nama tiang arasy. Di situ terdapat seekor burung yang merupakan raja dari sekalian burung dan segala jenis burung. Burung itu namanya mantit. Wujud dari burung mantit digambarkan serupa seperti burung gagak, tetapi dengan ukuran yang tidak terlalu besar.
Pertanda Baik dan Buruk
Bagi masyarakat Dayak Meratus, burung mantit ialah burung yang dapat memberi pertanda baik dan buruk. Jika burung mantit terbang dari arah kanan ke kiri, maka hal tersebut menandakan hal buruk. Kebalikannya, jika burung mantit terbang dari arah kiri ke kanan, maka hal tersebut menandakan hal baik.