KRI Kapitan Pattimura 371 (KRI PTM-371) dibuat di galangan VEB Peenewerft, Wolgast, Jerman Timur. Diluncurkan pertama kali pada tanggal 11 Mei 1983 dengan nama "Prenzlau-231". Kapal tersebut sudah tidak digunakan lagi oleh Pemerintah Jerman pada saat dibeli Indonesia, sehingga perlu dilaksanakan refit untuk kesipan dan kelaikannya. KRI PTM-371 merupakan kapal pertama dari jenis korvet anti kapal selam (AKS) kelas Parchim yang dibeli Indonesia yang kemudian digunakan sebagai penyebutan kelas untuk kapal perang jenis tersebut, yaitu Korvet Kelas Kapitan Pattimura.[butuh rujukan]
Tahun 2004, KRI Kapitan Pattimura 371 mengalami alih bina dari Satuan Kapal Patroli (Satrol) Koarmatim ke Satuan Kapal Eskorta (Satkor) Koarmabar.[1]
Operasi yang pernah dilaksanakan antara lain: Operasi Rakata Jaya, Operasi PAM ALKI I, Operasi Rencong Laut, Operasi Trisila, Operasi Gurita, Operasi MSSP, Operasi Indindo, dan Operasi Satuan Tugas Laut. Latihan yang pernah dilaksanakan antara lain: Latihan Armada Jaya, Latihan Gabungan TNI, Milan, Patkor Indindo, Latihan Bersama Malindo Jaya, Latihan Bersama Sea Eagle, dan Latihan Opslagab TNI XV/2014.[butuh rujukan]
KRI Kapitan Pattimura 371 juga terlibat dalam misa SAR terhadap Pesawat Airasia yang jatuh di perairan Karimata pada Desember.[butuh rujukan]
Senjata
Torpedo
KRI PTM-371 dipersenjatai dengan 4 tabung peluncur torpedo 400mm tipe SACT-40 1330L.[butuh rujukan]
Pertahanan Udara
Sistem pertahanan udara terdiri atas meriam penangkis serangan udara (PSU) dan rudal hanud. Meriam PSU yang dipakai adalah kanon 20mm Vector G-12 buatan Denel, Afrika Selatan.[butuh rujukan]
Rudal hanud yang terpasang adalah SAM Strella-2 (SA-N-5) pada platform peluncur ganda. Rudal tersebut merupakan rudal darat ke udara untuk pertahanan udara jarak-dekat terhadap pesawat sayap tetap, pesawat sayap putar, dan terhadap rudal anti-kapal yang datang.
Selain itu, ada pula tambahan 2 unit peluru kendali anti pesawat QinWei-8 buatan China yang dipasang dihaluan dan buritan kapal.[butuh rujukan]
Anti kapal selam
Persenjataan anti kapal selam (AKS) berupa 2 menara peluncur roket RBU-6000, tiap-tiap menara berkapasitas 12 roket AKS. Selain itu, kapal juga dipersenjatai dengan 2 reel peluncur bom laut (Depth Charge).[butuh rujukan]
Meriam
Meriam utama kapal perang KRI Kapitan Patimura yang dipasang pada dek haluan, yaitu kanon 30mm AK-230 laras ganda. Meriam buritan adalah kanon 57mm/70 AK-725 laras ganda.[butuh rujukan]
PK-16 decol RL yang bisa diluncurkan dalam mode ganggu (distraction) atau menarik (seduction) untuk mengelabui rudal musuh. Selain itu ia juga mempunyai sistem pemantau Watch Dog intercept.[butuh rujukan]
Radar kapal ini adalah MR-302/Strut Curve bisa digunakan untuk pencarian sasaran di permukaan dan di udara yang dipadukan dengan sistem kontrol tembakan MR-123 Vympel/Muff Cob. Kedua alat itu bekerja secara bersamaan dalam men-scan area diudara maupun dipermukaan.
Kapal anti-kapal selam (ASW) ini juga dilengkapi dengan sonar aktif berfrekuensi sederhana di badan kapal dari jenis MG-322T.
Kapal ini juga dilengkapi dengan peralatan Radio Monitoring dan Direction Finder untuk melakukan penyadapan dan pencarian dari gelombang-gelombang radio mulai dari VLF sampai UHF.[butuh rujukan]
Tenaga penggerak
Kapal ini mempunyai tiga mesin disel yang dihubungkan dengan tiga gandar bagi menghasilkan tenaga sebesar 14,250 bhp, dengan kecepatan beroperasi 24 nm.[butuh rujukan]
Komandan
Letkol Laut (P) Edi Haryanto (2013-)
Mayor Laut (P) Antonius Manullang, S.E. (2013)
Letkol Laut (P) Fajar Herawan (2015)
Letkol Laut (P) Tri Hermawan Mokhamad Affandi, M.Tr (Opsla). (2020-Sekarang)