KāwehIlustrasi Kaweh bersama para pengikutnya dari majalah Kaweh, majalah era Perang Dunia I yang dinamai darinya.Kāweh sang Pandai besi di perangko Republik Sosialis Soviet Persia, 1920, dengan satu tangan menggenggam palu, dan tangan lainnya memegang bendera merah.
Menurut legenda kuno, Kāweh adalah seorang pandai besi yang melancarkan pemberontakan nasional terhadap penguasa asing yang jahat, Zahak, setelah kehilangan dua anaknya akibat ular-ular Zahak. Kāweh mengusir orang-orang asing dan menegakkan kembali pemerintahan Iran.[3] Kāweh dan orang-orangnya pergi ke Gunung Damavand di Alborz, kediaman Fereydun, putra Abtin dan Faranak. Saat itu, seorang pemuda bernama Fereydun setuju untuk memimpin orang-orang melawan Zahak. Zahak telah meninggalkan ibu kotanya, yang jatuh ke tangan pasukan Fereydun dengan sedikit perlawanan. Fereydun kemudian membebaskan semua tawanan Zahak.
Kāweh adalah karakter mitologi Persia yang dikenal karena perlawanannya terhadap Zahak di Iran. Di zaman modern, Kāweh terkadang digunakan dalam propaganda politik. Sebagai simbol perlawanan, ia mengangkat celemek kulitnya di atas tombak. Bendera ini, yang dikenal sebagai Derafsh Kaviani, kemudian dihiasi dengan permata berharga dan menjadi lambang kebesaran Persia selama ratusan tahun sebelum penaklukan bangsa Arab, menyusul kekalahan Sasaniyah pada pertempuran al-Qadisiyyah tahun 636. Ya'qub bin al-Laits ash-Shaffar, seorang perajin tembaga yang memberontak terhadap Kekhalifahan Abbasiyah, mengklaim sebagai pewaris raja-raja Persia dan berusaha "untuk menghidupkan kembali kejayaan mereka," pada tahun 867 ia mengirim sebuah puisi yang ditulisnya sendiri kepada Khalifahal-Mu'tazz, yang berisi: "Bersamaku adalah Derafsh Kaviani, yang dengannya aku berharap dapat memerintah bangsa-bangsa."[4] Di kemudian hari, Kāweh sang Pandai Besi dirayakan oleh kalangan nasionalis Iran mulai dari generasi Mirza Fatali Akhundov.[5] Namanya digunakan sebagai judul surat kabar nasionalis pada tahun 1916,[5] dan pada tahun 1920, muncul di sudut kiri atas bendera Republik Sosialis Soviet Persia (dikenal sebagai Republik Soviet Gilan).[6]
Mehregan adalah hari raya kemenangan Fereydun atas Zahāk.
Wangsa Karen Pahlav (juga dikenal sebagai Wangsa Karen) mengklaim sebagai keturunan Kāveh.
Mitologi Kurdi
Dikenal sebagai Kawe-y Asinger (Kurdi Soran:کاوەی ئاسنگەرcode: ckb is deprecated ) dalam mitologi Kurdi, sebagian orang Kurdi percaya bahwa nenek moyang mereka melarikan diri ke pegunungan untuk menghindari penindasan raja Asyur bernama Zahhak, yang kemudian dikalahkan oleh Kawe. Hêwa S. Xalid, sarjana Kurdi dari Universitas Indiana, mengklaim bahwa kata kurd berarti pandai besi dalam bahasa-bahasa Iran kuno, di mana ia memperkuat klaimnya dengan mencontohkan kata Ossetiakurd yang artinya pandai besi.[7] Dipercaya pula bahwa keturunan Kawe sang Pandai Besi yang tinggal di pegunungan lambat laun dikenali dari profesi leluhur mereka sehingga menciptakan identitas Kurdi. Kaweh adalah tokoh geografis dan simbolis dalam nasionalisme Kurdi. Sama seperti mitologi lainnya, mitologi Kurdi terkadang juga digunakan untuk tujuan politik.[8][9][10]
↑Khalid, Hewa Salam. “Newroz from Kurdish and Persian Perspectives – A Comparative Study.” Journal of Ethnic and Cultural Studies, vol. 7, no. 1, 2020, pp. 116–30. JSTOR, https://www.jstor.org/stable/48710250.
↑Harvey Morris, John Bulloch (1993). No Friends but the Mountains: The Tragic History of the Kurds. penguins. hlm.Page = 50. ISBN0195080750.