Asal-usul
Menurut sebuah kisah dalam mitologi Iran, takhta Iran pernah direbut oleh tiran Arab yang kejam bernama Zahhak, yang memerintah selama beberapa generasi sambil memberi makan dua ular di bahunya dengan dua orang setiap hari.
Ketika para pelayan Zahhak membawa putra bungsu Kaveh sang Pandai Besi, ia menjadi murka, karena putra-putranya yang lain telah lebih dahulu dijadikan makanan bagi ular-ular tersebut. Ia kemudian mengangkat sebuah panji sebagai penanda dimulainya pemberontakannya, yang pada akhirnya menyebabkan tergulingnya Zahhak dan pemulihan pewaris sah takhta, Fereydun.
Panji Kaveh adalah celemek kulit miliknya sendiri yang dililitkan pada sebuah tombak kayu, yang kemudian dihiasi oleh Fereydun dengan permata, emas, kain brokat, serta rumbai-rumbai merah, kuning (atau biru), dan ungu. Panji tersebut lalu menjadi standar kekaisaran Iran pra-Islam, dan dikenal sebagai Derafsh Kaviani, yang berarti "Panji para Kay (Raja)" atau "Panji Kaveh".
Bendera itu dikatakan diwariskan melalui berbagai dinasti berturut-turut, yakni Akhemeniyah, Seleukia, Partia, dan Sasaniyah, yang memerintah Iran dari abad ke-3 SM hingga pertengahan abad ke-7 M. Sepanjang periode tersebut, bendera itu dihiasi dengan emas dan permata oleh para penguasa Iran. Namun, hanya ada sedikit bukti fisik mengenai keberadaan Derafsh Kaviani sebelum masa Kekaisaran Sasaniyah.
Era pra-Islam
Teks Avesta, Akhemeniyah, dan Partia tidak secara khusus menyebut Derafsh Kaviani. Sejumlah akademikus berpendapat bahwa sebuah bagian rusak dari Mosaik Aleksander dari Pompeii, yang menggambarkan kekalahan penguasa Akhemeniyah Darius III oleh Aleksander Agung dalam Pertempuran Issos, menampilkan Derafsh Kaviani. Menurut Xenophon, seekor elang emas merupakan lambang Kekaisaran Akhemeniyah. Koin-koin Iran dari abad ke-3 dan ke-2 SM memperlihatkan gambaran Derafsh Kaviani, termasuk pada masa Baydad, frataraka (gubernur) Persis pada periode Seleukia.
Menurut Shapur Shahbazi, lambang kekaisaran Kekaisaran Partia tampaknya adalah Derafsh Kaviani. Pada era Sasaniyah, panji tersebut berfungsi sebagai representasi utama kekuasaan kekaisaran. Panji itu memiliki latar ungu yang dipenuhi permata, sebuah bintang (akthar) sebagai lambang, serta rumbai-rumbai merah, emas, dan ungu. Panji tersebut juga umum disebut sebagai Akhtar-e Kāvīān karena lambang bintangnya.
Runtuhnya Kekaisaran Sasaniyah dilambangkan dengan direbutnya Derafsh Kaviani oleh pasukan Arab-Muslim setelah Pertempuran al-Qadisiyyah dan meninggalnya panglima tertinggi Sasaniyah, Rostam Farrokhzad. Sejak era pra-Islam hingga masa kini, Derafsh Kaviani tetap bertahan dalam kesadaran publik dunia Persia.