Juru Kawih merupakan sebutan dalam kesenian Sunda untuk penyanyi yang membawakan lagu-lagu dalam bentuk kawih, baik kawih tradisional Sunda maupun yang ditampilkan dalam pertunjukan wayang. Peran juru kawih adalah sebagai vokalis yang mendampingi jalannya pertunjukan, baik dalam konteks musik kawih maupun dalam seni pertunjukan wayang golek.[1] Dalam tradisi Jawa Barat, kawih merupakan bagian dari karawitan sekar dan termasuk ke dalam bentuk sekar tembang yang terikat oleh tempo. Penyajiannya bisa dilakukan secara individu (anggan sekar) atau dalam bentuk paduan suara (layeutan).[2]
Juru kawih dari Jawa Barat
Salah satu juru kawih legendaris dari Jawa Barat adalah Elis Wizaksmi, yang dikenal luas sebagai penyanyi kawih Sunda sejak era kaset rekaman tahun 1980-an. Ia lahir di Banjaran, Kabupaten Bandung, pada tanggal 3 Oktober 1959. Sejak usia sekolah dasar, Elis sudah aktif dalam dunia kesenian, termasuk tampil secara berkala di siaran RRI Bandung dan manggung bersama kelompok seni Banjaran Sari.[2]
Dalam sistem klasifikasi kesenian Sunda, juru kawih berbeda dari juru mamaos (penyanyi tembang Sunda, khususnya jenis Cianjuran) dan dari juru sinden (penyanyi dalam pertunjukan celempungan, kiliningan, jaipongan, atau wayang golek). Dalam struktur musikal, kawih berbeda dengan tembang Sunda. Kawih bersifat terikat oleh wirahma, yakni pola irama atau struktur ritmis yang mengatur tempo dan dinamika dalam lagu. Oleh karena itu, seorang juru kawih dituntut memiliki kemampuan mengolah ekspresi atau ulin rasa agar mampu menyampaikan watak atau karakter dari lagu yang dibawakan.[3]
Proses menjadi juru kawih
Kacapi Suling
Untuk menjadi seorang juru kawih, diperlukan pemahaman teknis dasar yang meliputi teknik pernapasan, pengucapan lirik (rumpaka), artikulasi, dan pemahaman terhadap unsur ornamentasi vokal, dikenal dalam istilah lokal sebagai senggol-senggol. Kemampuan ini diperoleh melalui latihan olah vokal secara rutin dan mendalam. Pada tingkat mahir, juru kawih diharapkan mampu melakukan improvisasi dalam membawakan kawih, yakni memberi warna dan nyawa pada lagu dengan kebebasan ekspresi yang tetap berpijak pada struktur dasar musik seperti kenongan dan goongan.[3]
Juru kawih legendaris
Improvisasi ini bukan sekadar variasi teknis, tetapi mencerminkan kedalaman pemahaman, kepekaan artistik, dan pengalaman panjang juru kawih dalam menyajikan lagu-lagu kawih kepada publik. Keunikan dan gaya individu seorang juru kawih umumnya terlihat dari cara ia menempatkan ornamentasi dan membentuk nuansa lagu yang khas, termasuk dalam karya-karya dari maestro kawih seperti Mang Koko.[3]
Salah satu juru kawih yang dikenal luas dan dianggap fenomenal dalam membawakan kawih-kawih karya Mang Koko adalah Ida Rosida, yang juga merupakan putri beliau. Ida Rosida dikenal karena kemampuan teknik vokalnya yang kuat (ambitus suara hingga surupan 50), serta kekuatan ekspresinya dalam menginterpretasikan isi lagu. Peran juru kawih seperti Ida Rosida menjadi penting dalam pelestarian kawih wanda anyar, sekaligus menunjukkan bahwa juru kawih tidak hanya bertugas sebagai penyanyi, tetapi juga sebagai penjaga nilai-nilai estetika, sastra, dan budaya dalam kesenian Sunda.[3]