Pengunjung membunyikan bel di Kuil Ōsu Kannon di Nagoya
Joya no Kane (除夜の鐘), yang berarti "lonceng tengah malam", adalah tradisi Buddhisme Jepang yang digelar setiap Malam Tahun Baru. Lonceng besar atau dalam bahasa Jepang disebut bonshō dibunyikan tepat tengah malam tanggal 31 Desember sebagai bagian dari perayaan Ōmisoka. Di sebagian besar kuil, lonceng ditabuh sebanyak 108 kali. Acara ini terutama populer di Jepang, tapi juga dirayakan di Korea Selatan serta di kuil-kuil Buddhis Jepang di berbagai negara.
Sejarah
Tradisi membunyikan lonceng kuil sebanyak 108 kali di kuil-kuil Zen berakar dari praktik di kuil Zen pada masa Dinasti Song di Tiongkok. Kebiasaan ini kemudian dibawa ke Jepang pada Zaman Kamakura (1185–1333), ketika lonceng dibunyikan 108 kali setiap pagi dan sore hari. Memasuki Zaman Muromachi (1333–1573), praktik tersebut berkembang menjadi tradisi khas kuil Zen di Jepang yang dilakukan khusus pada malam pergantian tahun, dikenal dengan sebutan Joya no Kane. Dalam upacara ini, lonceng dibunyikan tepat pada tengah malam sebagai simbol penyucian diri dan penolak nasib buruk, khususnya dari arah timur laut.[1][2][3]
Joya no Kane menjadi tema haiku sejak masa Edo, tetapi baru pada 1930-an diakui sebagai kigo (penanda musim dalam haiku) dan semakin sering muncul sebagai tema puisi haiku.[3]
Menurut penelitian Hirayama Noboru dari Universitas Kanagawa, tradisi Joya no Kane sempat mengalami penurunan popularitas pada masa Restorasi Meiji, tetapi kembali menyebar luas di seluruh Jepang pada awal Zaman Showa berkat siaran radio.[4] Pada tahun 1927, dua tahun setelah berdirinya stasiun radio pertama di Jepang, JOAK (pendahulu NHK) memulai program radio khusus bertajuk Joya no Kane. Selama dua tahun pertama, bunyi lonceng Buddha direkam di studio dan disiarkan pada malam Tahun Baru. Namun, pada tahun 1929, siaran langsung pertama dilakukan dari Kuil Sensō-ji di Tokyo. Program ini berperan besar dalam memperluas praktik Joya no Kane dari kuil-kuil Zen ke berbagai sekte Buddha di seluruh Jepang. Catatan dari Chion-in, kuil utama sekte Jōdo-shū, menunjukkan bahwa praktik ini mulai dilakukan sekitar tahun 1928–1929, setelah siaran radio tersebut dimulai. Pada tahun 1955, program itu diubah menjadi Yuku Toshi Kuru Toshi (Tahun yang Pergi, Tahun yang Datang) dan mulai disiarkan melalui televisi, sebuah tradisi yang masih berlangsung hingga kini.[5][6]
Sejak akhir dekade 2010-an, akibat semakin banyaknya biksu lanjut usia serta keluhan tetangga tentang kebisingan, sejumlah kuil memutuskan untuk tidak lagi menabuh lonceng tepat tengah malam pada Malam Tahun Baru. Dalam perdebatan ini, ada yang berpendapat bahwa bunyi lonceng bukanlah polusi suara, sementara pihak lain menyatakan bahwa tradisi ini baru populer lewat siaran radio, sehingga tidak wajib dilakukan persis pada tengah malam.[7]
Persebaran antar sekte
Tradisi Joya no Kane pada awalnya merupakan praktik khas aliran Buddha Zen.[8] Namun, pada masa Zaman Showa, tradisi ini menyebar ke seluruh Jepang berkat siaran estafet radio yang memperkenalkannya secara luas. Beberapa kuil dari sekte Jōdo Shinshū juga ikut membunyikan lonceng mereka, meskipun penerapannya berbeda. Kuil Higashi Hongan-ji, kuil utama sekte Ōtani-ha dari Jōdo Shinshū, tidak menjalankan tradisi Joya no Kane karena ajaran pendirinya, Shinran Shōnin, menekankan bahwa dosa tidak dapat dihapus melalui tindakan ritual seperti itu. Demikian pula, Kuil Nishi Hongan-ji, pusat sekte Honganji-ha, hanya membunyikan lonceng sebelum kebaktian dan berdoa untuk perdamaian tanpa melaksanakan Joya no Kane secara seremonial.[9]
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.