Dalam Sumpah Pemuda tahun 1928, organisasi ini diwakili oleh Amir Sjarifoeddin.[6] Pada tahun 1930, Jong Batak, dan sebagian besar organisasi kesukuan lainnya, telah bergabung ke dalam organisasi yang dibentuk oleh Sukarno, yakni Indonesia Muda.
Sejarah
Jong Batak didirikan dalam sebuah rapat di Batavia pada tanggal 6 Desember 1925 oleh sekelompok mahasiswa Batak. Rapat tersebut dipimpin oleh anggota Volksraad, Todung Sutan Gunung Mulia.[7] Ide pendirian organisasi ini berasal dari anggota Jong Sumatranen Bond berdarah Batak yang merasa bahwa organisasi tersebut terlalu didominasi oleh anggota berdarah Minangkabau.[8][9][10][11][12] Dipimpin oleh Djabangoen Harahap, Ferdinand Lumban Tobing, dan Sanusi Pane, organisasi ini pun berniat untuk mendiskusikan, mempelajari, dan memodernisasi budaya Batak, yang saat itu masih dianggap sebelah mata oleh masyarakat Hindia Belanda.[12][7] Namun, organisasi ini terutama populer di kalangan Suku Batak Tobadan Suku Angkola karena kalangan Suku Karo dan Suku Mandailing saat itu tidak menggunakan label Batak dan tidak tertarik dengan organisasi ini.[12]
Organisasi ini terutama bergerak di bidang sosial. Mahasiswa berdarah Batak di kota-kota besar di Jawa dan Sumatra pun menggunakan organisasi ini untuk mengadakan kompetisi sepak bola, kompetisi catur, perkumpulan sosial, dan jalan santai.[12][13] Organisasi ini juga menerbitkan koran di Weltevreden mulai bulan Januari 1926 dengan judul Jong Batak: orgaan van den Bataks Bond.[14][15][7] Koran tersebut kemungkinan terbit hingga tahun 1929.
Mulai tanggal 30 April hingga 2 Mei 1926, delegasi dari Jong Batak berpartisipasi dalam Kongres Pemuda I di Weltevreden yang dipimpin oleh Mohammad Tabrani.[1][16][17] Salah satu proposal penting dalam kongres tersebut adalah menggabungkan semua organisasi kesukuan ke dalam satu organisasi, tetapi proposal tersebut tidak mendapat dukungan.[18][19] Pertemuan-pertemuan lanjutan kemudian kembali diadakan selama tahun 1927 untuk mengupayakan pembentukan organisasi tunggal, termasuk sebuah konferensi yang digelar oleh Sukarno di Bandung pada bulan Desember, di mana ia menyerukan pembentukan organisasi Indonesia Muda.[20][21] Pada Kongres Pemuda II yang diadakan pada tanggal 26–28 Oktober 1928, Amir Sjarifoeddin mewakili Jong Batak dan berpartisipasi dalam Sumpah Pemuda, yang dianggap sebagai momen penting dalam pengembangan pergerakan nasional Indonesia.[22][23][16][1] Partisipasi dari organisasi ini dalam kongres tersebut pun menandai kerja sama yang lebih erat di antara organisasi pemuda.[24]
Seiring dengan makin meningkatnya nasionalisme Indonesia, pada tahun 1930–1931, organisasi ini resmi dibubarkan bersama Jong Java dan organisasi lain yang serupa, dengan para anggotanya bergabung ke Indonesia Muda.[25][26]
Warisan
Klub catur dari organisasi ini tetap eksis selama beberapa tahun setelah organisasi ini dibubarkan.
Sejak tahun 2014, diadakan festival seni tahunan di Medan, Sumatera Utara yang terinspirasi dari organisasi ini, yakni Jong Batak Art Festival.[28][29][30]
↑Halim, Amran; Lumintaintang, Yayah B. (1983). Kongres Bahasa Indonesia 3 (dalam bahasa Inggris). Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. hlm.124.
↑Reid, Anthony (2004). "Melayu as a source of diverse modern identities". Dalam Barnard, Timothy P. (ed.). Contesting Malayness: Malay identity across boundaries. Singapore: Singapore University Press, National University of Singapore. hlm.20. ISBN9789971692797.
↑Pols, Hans (2018). Nurturing Indonesia: medicine and decolonisation in the Dutch East Indies. Cambridge, United Kingdom: Cambridge University Press. hlm.82. ISBN9781108424578.
↑Formichi, Chiara (2012). Islam and the Making of the Nation: Kartosuwiryo and Political Islam in 20th Century Indonesia. Leiden: BRILL. hlm.27. ISBN9789004260467.
123"Jong Batak Bond". De Locomotief (dalam bahasa Belanda). Semarang. 11 December 1925.
↑"De Jeugdbeweging". De Sumatra post (dalam bahasa Belanda). Medan. 10 January 1927. hlm.1.
↑Reid, Anthony (2005). An Indonesian frontier: Acehnese and other histories of Sumatra. Singapore: Singapore University Press. hlm.32. ISBN9789971692988.
↑"Bataks te Batavia". Nieuwe Rotterdamsche Courant (dalam bahasa Belanda). Rotterdam. 4 May 1927. hlm.13.
1234Pols, Hans (2018). Nurturing Indonesia: medicine and decolonisation in the Dutch East Indies. Cambridge, United Kingdom: Cambridge University Press. hlm.88–9. ISBN9781108424578.
↑"Schaken". Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië (dalam bahasa Belanda). Batavia [Jakarta]. 21 August 1926. hlm.13.
↑van Klinken, G. (2003). Minorities, Modernity and the Emerging Nation Christians in Indonesia, a Biographical Approach. Boston: BRILL. hlm.118. ISBN9789004488434.
↑"NATIONALE JEUGDBEWEGING". Algemeen Handelsblad (dalam bahasa Belanda). Amsterdam. 14 June 1927. hlm.10.
↑Halim, Amran (1981). Bahasa dan Pembangunan Bangsa (dalam bahasa Inggris). Pusat Pembinaan dan Pembangunan Bahasa. hlm.374.
↑Latif, Yudi (2008). Indonesian Muslim intelligentsia and power. Singapore: Institute of Southeast Asian Studies. hlm.236. ISBN9789812304728.
↑"De Inheemsche Vereenigingen". Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indië (dalam bahasa Belanda). Semarang. 29 November 1929. hlm.1.
↑Simatupang, T. B. (1996). The fallacy of a myth. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. hlm.19. ISBN9789794163580.
↑DAROESMAN, M. M. (1937). "INHEEMSE JEUGDBEWEGING IN INDIË". De Vuurslag; vrijzinnig christelijk jeugdblad-maandblad voor jongens en meisjes vanaf 15 jaar (dalam bahasa Belanda). 2 (7).