Karier
Tahun 2001, ia mendirikan PharmAccess Foundation, organisasi nirlaba Amsterdam yang bertujuan memperbaiki akses terapi HIV/AIDS di negara-negara berkembang, dan ia menjabat sebagai ketuanya sampai meninggal dunia. Lange adalah mantan presiden International AIDS Society pada 2002–2004. Lange juga merupakan direktur ilmiah HIV[e]Ducation, sistem pembelajaran daring untuk dokter medis, perawat, dan penasihat yang bekerja dengan para penderita HIV. Ia juga merupakan pendiri dan redaktur jurnal kedokteran Antiviral Therapy.
Pada tahun 2006, ia menjadi dosen kedokteran di Academic Medical Center, Universitas Amsterdam, dan penasihat ilmiah senior di International Antiviral Therapy Evaluation Centre, Amsterdam. Ia juga merupakan salah satu direktur HIV Netherlands Australia Research Collaboration yang berpusat di Thailand. Lange juga menjabat sebagai anggota dewan penasihat ilmiah Accordia Global Health Foundation.[3]
Ia adalah anggota sejumlah perkumpulan seperti American Association for the Advancement of Science, American Society for Microbiology, dan International AIDS Society.
Ia mendapatkan Eijkman Medal atas usahanya di bidang kedokteran tropis dan kesehatan internasional pada tahun 2007.[4]
Pencegahan HIV/AIDS
Sepanjang pertengahan 1990-an, Lange mulai menyuarakan penggunaan terapi kombinasi dalam penanganan HIV/AIDS. Ia berpendapat bahwa "salah sekali untuk berpikir apabila monoterapi dengan agen antiretrovirus apapun akan memberi pengaruh besar dan tahan lama pada penyakit ini" karena perkembangan resistensi obat semakin mengurangi kekuatan perawatan.[5] Tahun 1996, Lange mempertahankan eksperimen kontroversial oleh peneliti HIV/AIDS David Ho yang meminta pasien terinfeksi menelan 20 pil setiap harinya sebagai bagian dari regimen "koktil" multiobat.[6] Meski eksperimen ini dihujani kritik, Lange menjelaskan kepada The Wall Street Journal bahwa "penelitian David beberapa tahun terakhir ikut membantu mengubah pemahaman kita terhadap HIV".[6]
Lange juga sangat mendukung penyaluran obat-obatan AIDS terjangkau ke negara-negara Afrika. Ia pernah mengatakan, "kalau kita bisa mengirimkan Coca-Cola dan bir dingin ke tempat terpencil di Afrika, bukan mustahil kita mengirimkan obat-obatan AIDS ke sana."[2]
Pada tahun 2003, Lange menyelesaikan studi tentang keturunan ibu penderita HIV di Rwanda dan Uganda. Ia menemukan bahwa kemungkinan bayi menderita HIV kurang dari 1% apabila mereka menerima obat anti-retrovirus saat masa menyusui.[7] Temuan studi ini diumumkan oleh Lange di pertemuan International AIDS Society tahun 2003 di Paris.[7] Pada Conference on Retroviruses and Opportunistic Infections ke-10 di Boston, Lange mengumumkan hasil uji coba klinis multipusat besar yang melibatkan 1.216 pasien di 17 negara. Menurut Lange selaku pemimpin penelitian, temuan uji coba ini "menunjukkan secara jelas keberhasilan nevirapine dan efavirenz dalam penanganan HIV."[8]
Dua tahun kemudian, ia berkomentar di sebuah editorial untuk PLOS Medicine bahwa kelompok aktivis telah menghambat sejumlah percobaan klinis profilaksis pra-eksposur (PREP). Ia juga mengaku frustrasi melihat kelompok aktivis yang mencegah pengujian antagonis reseptor CCR5 baru di Eropa.[9] Di sisi lain, Lange dikritik karena mengabaikan hak para pekerja seks dalam uji coba ini,[10] dan peneliti lainnya menegaskan bahwa masalah yang diangkat para aktivis "sepenuhnya benar".[11]
Sejak 2010 sampai 2012, Lange menjadi peserta rutin Bangkok International Symposium on HIV Medicine. Di satu kesempatan, ia berpendapat bahwa PREP lebih efektif daripada metode pencegahan HIV yang ada saat ini.[12]