Untuk mendukung integrasi antarmoda transportasi di daerah Kebayoran Lama, Kemudahan masyakarat dalam mengakses transportasi, dan Memberikan rasa aman dan nyaman masyarakat dalam mengakses transportasi.[5] Pemerintah Provinsi DKI Jakarta merencanakan pembangunan dengan sistem transportasi publik yang terintegrasi dengan baik, Dengan menggunakan ide Transit Oriented Development (TOD) atau pembangunan berorientasi transit.[1] Saat ini, terdapat 54 lokasi potensial yang telah diidentifikasi sebagai wilayah Transit Oriented Development (TOD), yang disebutkan dalam Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2018 tentang Rencana Induk Transportasi Jabodetabek. Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) memegang peran kunci dalam mengelola implementasi TOD. Dalam konteks penyelenggaraan kawasan yang berfokus pada angkutan umum di wilayah Jabodetabek, peran BPTJ mencakuppenyusunan rekomendasi teknis untuk memastikan bahwa rencana pembangunan di wilayah TOD mempertimbangkan semua aspek transportasi yang relevan. Selain itu, BPTJ bertanggung jawab dalam mengawasi, mengendalikan, dan memastikanpelaksanaan pengaturan yang sesuai untuk memastikan kesuksesan dan keberlanjutan TOD di wilayah Jabodetabek.[6]
Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta menggelontorkan biaya pembangunan Skywalk ini sekitar 52 miliar Rupiah, Biaya ini bersumber dari APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) DKI Jakarta tahun 2022.[7] Pembangunan Skywalk tersebut dimulai sejak 23 Maret 2022 sampai 30 November 2022 (sekitar sembilan bulan).[8] Pembangunan Skywalk Kebayoran Lama dikerjakan oleh PT Abadi Prima Intikarya selaku kontraktor dengan PT Daffa Brother Cons sebagai konsultan pengawas.[9]
Stasiun Kebayoran—Stasiun Tanah Abang (via Jl. Pos Pengumben)
JAK 93
Stasiun Kebayoran—SMP Negeri 56 Jakarta
Fasilitas dan tempat terdekat
Fasilitas
Jembatan penyebrangan orang (JPO) ini punya panjang batang jembatan mencapai 450 meter, lebar 3,6 meter, tinggi atap 3,5 meter, dan tinggi railing 1,25 meter.[2] Kemudian material struktur menggunakan Baja SM490 YB, material lantai Conwood, material railing Baja Hollow dengan Jilumesh dan Baja Hollow, serta Polycarbonate. Lalu material atap ACP, solid polycarbonate, plat laser cutting, rangka atap baja pipa 4 inci dan 2,5 inci; pondasi bore pile, serta finishing rumah lift kaca tempered dilengkapi stiker Betawi. Sebanyak empat pintu registrasi terpasang di Stasiun Kebayoran dan dua pintu akses keluar-masuk berada di Halte Velbak.[10] JPO Kebayoran Lama ini dilengkapi tiga unit lift dan dua eskalator untuk memudahkan mobilitas masyarakat termasuk lansia, ibu hamil dan penyandang disabilitas. Pada sisi jembatan dipasang 215 unit lampu artistik yang menyala di setiap malam hari serta 10 unit kamera pengawas (CCTV) di luar dan tiga unit kamera dalam. [11]Skywalk Kebayoran Lama memiliki struktur rangka atap dan struktur material terbuat dari baja dengan lantai terbuat dari kayu.
Pengenaan tarif untuk melintasi JPO Kebayoran Lama
Pembangunan skywalk pada awalnya dikhususkan untuk transit pelanggan di lintas Koridor 8 dan Koridor 13 Transjakarta serta Commuter Line Lin Rangkasbitung sehingga area di atas skywalk menjadi area steril Transjakarta. Hal ini menuai protes dari masyarakat setempat yang harus melakukan pengetapan masuk (tapping in) dengan kartu uang elektronik atau dompet digital dengan tarif 3.500 rupiah agar dapat mengakses skywalk bahkan jika bukan untuk naik bus. Masyarakat beranggapan bahwa pembangunan skywalk yang didanai dari pemerintah akan lebih baik jika dapat dimanfaatkan oleh banyak orang tanpa dibatasi oleh tarif masuk Transjakarta.[12]
Akhirnya dilakukan pembagian ruang akses skywalk; separuh untuk pengguna Transjakarta yang hendak transfer lintas halte, dan sisanya untuk masyarakat yang hendak mengakses layanan Commuter Line tanpa perlu membayar tarif masuk Transjakarta. Kedua ruang pun dibuat terpisah dengan pembatas berupa tali pembatas sederhana, alih-alih dinding sekat setengah badan serupa dengan JPO Piano lintas Halte Senen—Senen Sentral dan JPO Jenderal Sudirman lintas Halte Dukuh Atas—Galunggung.[13]
JPO Bergoyang
Pada saat acara peresmian berlangsung, jembatan tersebut dipenuhi oleh jajaran Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta dan para awak media. Mereka yang ada di atas jembatan tersebut merasakan goyangan yang cukup kuat di atas jembatan layang untuk pejalan kaki ini. Menanggapi laporan tersebut, Dinas Bina Marga DKI Jakarta sebagai penyedia infrastruktur di Ibu Kota mengatakan, Skywalk Kebayoran tersebut memang didesain elastis. Sehingga meski ada goyangan saat peresmian, mereka memastikan jembatan tersebut aman.[14]
JPO Kotor dan Berbau
Pengguna JPO Kebayoran Lama mengeluhkan ketidaknyamanan karena banyaknya kotorankucing yang berserakan dan menimbulkan bau tak sedap. Warga mengaku harus selalu fokus agar tidak menginjak kotoran. Kotoran ini diduga muncul akibat aktivitas pemberian makan kucing liar secara sembarangan di atas JPO.[15]
Menanggapi keluhan publik mengenai kotoran kucing yang mengganggu kenyamanan, pihak Transjakarta dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta segera bertindak dengan menerjunkan Pasukan Oranye untuk melakukan pembersihan intensif guna menghilangkan kotoran dan noda yang menempel di lantai JPO. Selain upaya pembersihan, respons lain yang dilakukan adalah memasang papan imbauan yang secara spesifik meminta warga untuk tidak memberi makan kucing di area JPO. Sebagai solusinya, disediakan pula tempat khusus untuk memberi makan hewan yang berjarak sekitar 200 meter di bawah tangga JPO Halte Velbak, dengan tujuan agar kebersihan jembatan tetap terjaga dan kucing liar tidak lagi berkumpul di jalur pejalan kaki.[16]
Galeri
Halte Transjakarta Kebayoran menjelang malam hari. Difoto dari jembatan penyeberangan orang akses Stasiun Kebayoran - Halte Kebayoran - Halte Velbak pada tahun 2023.