Jathilan Wiroyudho merupakan slah satu jenis Kuda Lumping kontemporer kreasi baru yang berkembang di Temanggung, juga disebut dengan Jathilan Temanggungan.
Awal Mula
Penari Jathilan Wiroyudho
Jathilan Wiroyudho merupakan hasil pengembangan kerasi baru dari Jathilan Warok yang ada di sekitar perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah yang ada sekitar tahun 2000. Jathilan Wiroyudho memiliki ciri khas yang unik, yakni meskipun kategori budaya Jawa bagian Ponorogo tetapi menggunakan pakaian dan arasamen musik khas Bali, hal itu dikarenakan orang-orang yang tinggal di pedesaan Temanggung menganggap seni budaya Bali sangat indah dan Mewah dari segi pakaian, musik dan susah ditemukan diluar Bali.
Dengan berjalannya waktu, ditambahkannya beberapa karakter dan tari dari Bali seperti Rangda, Barong ket, tari Cendrawasih, topeng tua dan Punakawan Bali. Namun, bagi yang membawakan alur babad Bantarangin atau Ponorogo yang ditampilkan MacananSingo Barong hasil Kreasi yang dibuat semirip mungkin yang kemudian ditunggangi oleh penari berpakaian burung Merak.
Para pemain penunggang Kuda berpakaian khas Bali dengan rias khas Warok, Berambut gondrong gimbal. Biasanya, terdapat gelar bagi pemimpin dengan membawa Pecut Samandiman jenis lemas yang disebut Wiroyudho, Patih atau pendamping disebut Wiropati dan prajurit disebut Wirojurit.[1]
Diprotes Bali
Pada Tahun 2017 Seniman Bali pernah melayangkan protes atas keresahan seniman Bali atas digunakannya kesenian Bali secara tidak beraturan oleh kelompok seni Jathilan Wiroyudho, hal itu dikarenakan tidak ada izin ke seniman Bali atas kolaborasi terus-menerus terkait Jathilan Wiroyudho ini. Selain itu terdapat pakem dan kewajiban yang tidak dilaksankan, seperti penari Rangda yang seharusnya dibawakan oleh seseorang yang hafal mantra bahasa kawi tetapi tidak dapat ditemukan pada penari rangda pada Jathilan Wiroyudho, hingga dilaksankannya saresahan yang dihadiri Didik Nini Thowok, Pakar Jathilan Temanggung Kartika Mutiara Sakti, Ketua Saresahan Yudha Sudarmaji, Seniman Senior Jathilan Temanggungan Mbah Gajul Meski demikian seni Jathilan Wiroyudo khas Temanggung tetap berlanjut.[2]