James Hellyward (lahir 16 Juli 1961) adalah seorang pakar peternakan, akademikus, dan birokrat Indonesia yang pernah menjabat Dekan Fakultas Peternakan Universitas Andalas periode 2016–2020. Ia juga pernah menjabat Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Barat periode 2006–2010 yang dikenal sebagai tokoh yang menggagas Tour de Singkarak pada 2009, suatu iven balap sepeda bertaraf internasional yang dilangsungkan di Sumatera Barat.[1][2]
James mencalonkan diri sebagai Wakil Wali Kota Padang dalam pemilihan umum Wali Kota Padang yang digelar pada 30 Oktober 2013. Diikuti 10 pasang calon, James mendampingi Desri Ayunda berada di posisi kedua dengan 19,11% suara.[5] Setelah menjalani putaran kedua pada 5 Maret 2014, mereka kembali kalah dengan perolehan 49,71% suara.[6] Pasangan calon Desri–James yang kalah mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi.[7]
Riwayat
James menempuh pendidikan di SD PPSP IKIP Padang (1968–1974), SMP Maria Padang (1974–1977), dan SMA Don Bosco Padang (1977–1980). Ia meneruskan pendidikan tinggi di Institut Pertanian Bogor (IPB), dimana ia berhasil meraih gelar S1 pada 1984 dan S2 pada 1992. Sedangkan gelar Doktor (S3) ia dapatkan di Universitas Malaya, Malaysia pada 1999.[1][8][9][10]
James kecil dibesarkan dalam keluarga pekerja keras. Ayahnya adalah seorang pengusaha, yang pada saat itu keluarganya memiliki usaha transportasi berupa bus. Meskipun bisa dikatakan dibesarkan dalam keluarga sederhana, namun sejak kecil anak bungsu dari 12 bersaudara ini tidak pernah dimanja oleh orang tua dan saudara-saudaranya. Sejak sekolah dasar (SD) ia terbiasa pergi ke sekolah sendirian meskipun harus menempuh perjalanan jauh dan berganti transportasi umum hingga tiga kali. Kedisiplinannya terlihat dari fakta bahwa ia tidak pernah terlambat ke sekolah.[11]
Saat mengingat masa remajanya, James, yang beragama Islam, ditakdirkan untuk bersekolah di SMP dan SMA Katolik. Namun, hal itu membuatnya menjadi sosok yang terbuka dan toleran. Tumbuh menjadi sosok yang santai membuatnya merasa seperti orang yang tidak pernah mengalami masalah di sekolah atau dalam kehidupan sehari-hari. Prestasi akademiknya tidak diragukan lagi, karena ia tidak pernah absen dari peringkat 5 besar dan itulah yang selalu ia gunakan untuk menyemangati anak-anak, cucu, dan keponakannya agar termotivasi. Setelah menyelesaikan pendidikannya di SMA Don Bosco Padang, James lulus dengan nilai yang sangat baik, sehingga ia bebas memilih untuk melanjutkan kuliah. Akhirnya, pilihan James jatuh pada Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor. Ketertarikannya pada dunia peternakan juga cukup menarik. James menceritakan bahwa suatu hari ia melihat sebuah gerobak yang ditarik oleh seekor sapi membawa rumput di belakangnya, dan kemudian gerobak lain membawa kayu.[11]
Sejak kecil, James dianggap sebagai pemuda yang aktif dan energik, bahkan jiwa kewirausahaannya pun terlihat jelas. Hal itu terlihat selama kuliah, ia dipercayakan untuk mengelola kandang di kampus bersama teman-teman sekelasnya. James menyadari bahwa Tuhan memberinya otak kiri dan kanan yang harus digunakan sebaik-baiknya sehingga ia tidak pernah kesulitan mencari pekerjaan setelah lulus kuliah. Seiring waktu, takdir kemudian membawanya menjadi seorang pendidik di Universitas Andalas. James lulus dari kampus yang sama, IPB. Ia menerima gelar doktor (S-3) dari Universitas Malaya, Malaysia. James juga mempelajari banyak ilmu lain seperti pemasaran, administrasi bisnis, manajemen, agribisnis, dan sosial-ekonomi. Selain itu, ia juga belajar di Roma, Italia sehingga akhirnya menguasai empat bahasa, yaitu Minang, Indonesia, Inggris, dan Italia.[11]
Menurut Dekan Fakultas Peternakan Universitas Andalas periode 2016-2020, dalam menjalani hidup dibutuhkan modal utama berupa disiplin, kejujuran, dan selalu berusaha sebaik mungkin. Oleh karena itu, ia selalu menasihati generasi muda untuk tidak hanya mencari ilmu di ruang kuliah, tetapi juga perlu mempelajari ilmu sosial dan bersosialisasi. Profesor Ekonomi Sosial Peternakan ini percaya bahwa setiap individu itu hebat dan ia juga percaya bahwa jalan hidup setiap orang telah ditentukan sejak lahir. Baginya, memiliki banyak gelar bukanlah tolok ukur. Menurutnya yang terpenting adalah kemampuan dan kepercayaan diri.[11]
Karier dan aktivitas
PT Boga Catur Rata (Kem Chicks), Jakarta
Ketua Lembaga Penelitian Universitas Andalas, Padang
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumbar (2006-2010)
Pencetus, penggagas, dan Ketua Panitia Tour de Singkarak (2008-2012)